Januari 2017 menjadi penting dalam hidup saya dan istri karena pada siang hari tanggal 12, bapak saya ujug-ujug menelpon dan tanpa babi-bu meminta saya dan istri untuk pulang ke Blokagung Banyuwangi, kampung halaman saya dan tempat yang paling tidak diinginkan sebagai tempat tinggal oleh istri saya. saya tentu saja dengan serta merta pusing. hahaha. lha mau gak pusing gimana? pertama, istri saya memang sudah sedari dahulu kala tidak mau tinggal di blokagung. kedua, lha kerja gimana? apalagi yang punya kerjaan adalah istri saya. sudah dari sono-nya gak mau di blokagung, tambah kerjaan harus di-cut pula. mau gak mau, saya tentu saja harus mbujuk si istri biar mau, memberikan pertimbangan-pertimbangan dan semua tetek-bengek yang lain.
singkat cerita, akhirnya saya dan istri sekarang sudah di tinggal di Blokagung. cerita lengkapnya akan saya bagi kapan-kapan saja, tapi yang sedang ada di kepala saya saat ini adalah alasan ayah saya ngotot pengen saya dan istri pulang. bapak saya saat ini sedang sakit. menurut dokter/beberapa dokter selain asam urat yang memang telah lama diderita, bapak saya juga memiliki permasalahan pada ginjalnya. walaupun belum terlalu parah dan semoga terus membaik. Hal itu yang membuat bapak saya ‘memaksa’ saya dan istri meninggalkan semuanya dan pulang.
tentang sakit ini, saya punya pengalaman yang gak mengenakkan sama sekali. dan kelihatannya hal ini sering terjadi di masyarakat kita. mungkin saja njenengan semua juga pernah mengalaminya. kalo iya, saya cuma berharap njenengan tidak jengkel dan marah-marah seperti saya.
saya tahu kalo masyarakat di indonesia ini memang baik-baik. begitu perhatian dengan ‘liyan’. bahkan mereka tidak rela kalo dianggap gak ‘nguwongke’. njenengan bisa melihat hal itu dari fakta bahasa basa-basi masyarakat kita. njenengan pasti akrab dengan:
“jek nyapo lek?”
“budal ngaret, pakde?”
“ngiseng ta, bek?”
“arep nyangdi, syu?”
dlsb. nguwongke adalah hal wajib dan tabu kalo tidak dilakukan. mereka terkesan mencampuri urusan orang lain, walaupun sebenarnya gak juga. lha, perhatian ini juga berlaku jika ada anggota masyarakat yang sedang mengalami sakit. kalo dalam hal ini masyarakat kita, menurut saya, seringkali kelewatan.
kelewatannya dimana? ada beberapa hal yang menurut saya kelewatan:
1. promosi ngawur
kalo ada seseorang yang sakit, apalagi agak parah, tentu saja masyarakat akan datang untuk menjenguk. baik datang berbarengan maupun sendirian. dan biasanya saat menjenguk ini lah sering terjadi praktik promosi yang menurut saya ngawur abis. ngawurnya gimana? terkadang saat menjenguk, banyak dari penjenguk akan memberikan testimoni tentang pengobatan tertentu. tentang seorang dokter ato dukun tertentu yang bisa menyembuhkan penyakit dalam waktu cepat. tentu saja cerita tersebut diutarakan dengan berapi-api. kalo njenengan pernah lihat bakul jamu yang koar-koar di pasar, ya kayak begitu lah.
seringkali mereka juga akan membawa-bawa kiyai tertentu.
“lha wong kiyai a itu, datang gak bisa jalan, Pak. selesai terapi, pulang langsung lari”
“sampean, kalo cuma sakit kayak gini, mending dibawa ke dokter b aja. insyaallah cespleng. lha wong mbaknya tetangga saya itu, 4 bulan gak bisa gerak. berobat. besoknya dah ke sawah”
“wes pak, njenengan ke mbah A saja. insyaallah jodo. saya itu udah dua kali kesana, alhamdulillah perut saya dah gak sakit lagi”
dan ada banyak banget promosi-promosi yang menurut saya dibesar-besarkan dan terkadang dibenar-benarkan. saya sendiri gak bisa memvalidasi kebenaran cerita-cerita kek gitu. dan kalo semua dicoba menurut saya juga gak benar karena penyakit setiap orang pasti berbeda, dan tentu saja perawatan dan kemungkinan hasilnya juga berbeda.
pernah suatu ketika, bapak saya mengikuti saran seorang teman yang mengarahkan agar berobat ke seseorang. ternyata di tempat itu, bapak saya dipijat sedemikian rupa, walhasil bapak saya tidak bisa berjalan selama beberapa hari. lalu penyakitnya? sampai sekarang juga masih ada. di lain waktu, seorang saudara menyarankan agar bapak berobat ke dokter w, menurutnya semua pasiennya ‘jodho’. ya ternyata belum jodho juga.
saya sadar, sebenarnya mereka baik. tak ada niat untuk jelek sedikitpun. tapi, terkadang memberikan informasi dengan pas, menurut saya, adalah hal yang wajib, kudu! karena ini masalah kesehatan. gak bisa coba-coba dan memang gak boleh. diagnosa harus tepat, dan penanganan juga harus pas.
2. jadi dokter dadakan
selain promosi ngawur, beberapa pembesuk adalah orang-orang semi-dokter. entah kenapa, saat mereka ngobrol dengan bapak saya mereka menjadi orang yang tahu segala hal tentang kesehatan dan segalam macam pengobatannya. biasanya mereka akan membawa serta produk yang mereka ceritakan. dan hal ini masih terjadi sampai sekarang.
kalo tidak hati-hati, saran seperti ini dapat menyebabkan masalah. seperti yang terjadi pada bulan 10 tahun lalu, saat bapak meminta saya pulang, juga karena masalah kesehatannya. ternyata, saat itu bapak sedang ‘kumat’ dan diindikasikan karena sedang mengkonsumsi obat yang disarankan seseorang. setelah saya lihat dan mencari informasi tentang obat itu, saya tahu ternyata itu adalah produk mlm, dan tidak dianjurkan bagi orang dengan penyakit lambung. walhasil selama 2 bulan bapak saya sakit dan harus opname pula.
sudah tidak terhitung banyaknya saran obat, mulai dari yang herbal tumbuh-tumbuhan, hingga yang aneh-aneh. lha, saran obat yang aneh-aneh ini yang berbahaya kalo diikuti. pernah juga, bapak saya mengkonsumsi bekicot karena gatal pada kulitnya. seseorang menyarankan memakan hewan itu, dan hasilnya? alhamdulillah gatal bapak saya hilang. tetapi, selama seminggu bapak saya gak bisa berjalan, gak bisa bergerak sama sekali malah!
pengalaman saran obat yang paling aneh pernah juga saya alami sendiri. anak saya memiliki riwayat kejang, dan setelah saya bercerita kepada seseorang, orang itu menyuruh saya mencari daging ayam yang tertabrak sepeda. ia menyuruh saya memasak dagingnya dan memberikannya kepada anak saya. saya dengarkan saja ceritanya, saya iya kan, tapi tentu saja tidak saya lakukan.
begitu lah, saya sadar sepenuhnya bahwa semua itu sebenarnya didasari akan niat baik. tapi, akan lebih baik kalo semua itu dilakukan sesuai takaran, sesuai kapasitas, dan diterima sesuai logika akal. hehe.
jangan lupa jaga kesehatan.
shalom!
Leave a comment