Saya termasuk orang yg menghindari bermacam perdebatan. Termasukperdebatan apakah anak tk harus sudah diajari calistung atau tidak. Dan hal itu saya terapkan pada anak saya. Saya tidak pernah memaksa dia belajar calistung, dan saat di sekolah ia diajari calistung saya diam saja.Tapi, setelah hari raya ini saya agak berubah. Anak saya, setiap habis maghrib, saya ajari membaca. Baik tulisan latin maupun hijaiyah.

Saya tahu, diantara kawan-kawannya, dia sudah cukup tertinggal. Tapi, hal itu tak jadi masalah.Dengan terbata-bata setiap habis maghrib anak saya mencoba menirukan drill yg saya berikan.”b-a ba, b-e be, b-u bu”Begitu seterusnya, dan alhamdulillah sekarang dia sudah bisa mengeja satu suku kata hingga konsonan ‘j’. ‘j-a ja, j-e je”.

Selain sulit untuk diajak duduk dan mendengarkan drill dr saya, ada hal lain yg sedikit mengganggu proses belajar membaca anak saya. Sedari kecil, dia seringkali mendengarkan nursery rhyme bahasa inggris. Dr kecil dia sudah biasa mendengarkan “abcd e f g” versi inggris. Dan hal ini ternyata berpengaruh juga pada saat dia mengeja.Beberapa kali saya harus menjelaskan bahwa ‘e’ dibaca e, bukan i. Kalau di bahasa inggris memang dibaca i, tapi tidak di bahasa indonesia.

Puncaknya, saat pagi tadi selepas ia meminjam (mengambil dg paksa) hape saya lalu ia lanjut buka yutub. Ia ingin menonton chanel kesukaannya, ryan toys review.

Seperti sebelum-sebelumnya, ia pun bertanya :

“Ayah ketik in ‘ryan’ dong”

“Ketik sendiri, kan dah belajar”

“Hurufnya apa?”

“Ya er ye an en”

“Mana, ga ketemu”

“Oh, coba cari lagi. ar way ei en”

“Oh ya, sudah ketemu”

Syem tenin! Kemenggres!

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment