كلامنا لفظ مفيد كاستقم ## واسم وفعل ثمّ حرف الكالم

kalamuna lafdun mufidun kastaqim ** wasmun wafi’lun summa harfu (ni) lkalim

Inti dari sebuah bait dari al-fiyah* karya Ibn Malik di atas adalah tentang pembagian kelas kata di dalam bahasa Arab. Bagi anda yang sudah pernah belajar gramatika arab, tentunya anda dengan mudah mengerti apa yang saya maksudkan. Di dalam gramatika arab, yang masih mengacu pada tata bahasa kuno, membagi kelas kata ke dalam tiga jenis. Pertama, ismun. Nomina. Semua benda baik bernyawa atau tidak, waktu dan tempat tertentu, kata sambung, bahkan adjektiva, yang di beberapa bahasa lain digolongkan dalam kategori sendiri, juga termasuk di dalamnya.

Orang Arab membedakan kategori ini dengan dua cara. Pertama dari sisi bentuknya. Suatu kata bisa dikatakan nomina apabila memiliki hal-hal tertentu, seperti dapat diberi pangkat ke-khususan berupa al (ال) dan juga pangkat ke-takkhusus-an; tanwin (ً).  Dan beberapa syarat lain yang tak saya sebutkan karena lupa. J. Kedua dari sisi maknanya. Pada umumnya nomina memang mudah dibedakan dari verba. Hal inti yang membedakan keduanya adalah ketiadaan kala di dalam nomina. Maka anda tak akan bisa, dan tak diperkenankan, bertanya

*kapan paku?

*kapan piring?

Begitu lah, singkat cerita mengenai nomina. Tentunya masih banyak hal mengenai nomina bahasa arab yang belum dibahas. Seperti tentang banyak jenisnya. Apakah ia nomina yang musytaq (derivative) atau tidak (jamid). Tentang pola perubahan vokal akhirnya, atau I’rab yang menjadi penanda fungsi yang ia tempati. Tentang perubahan bentuknya yang harus menyesuaikan dengan hal-hal tertentu, semisal gender, jumlah, ke-khususan dan lain-lain. Kapan-kapan kita akan bahas hal tersebut.

Beranjak ke kategori kedua; fi’lun atau verba. Hal utama yang harus kita ketahui dari fi’lun adalan dia bukan ismun dan harfun. J. Tentu saja! Kalau anda sudah mampu membedakannya dari ismun dan harfun tentu saja anda sudah memahami apa itu fi’lun. Singkatnya, ia adalah nama dari tingkah laku, atau hal yang dilakukan ismun. Mbulet! Pokoknya apa yang berlaku atau sedang dilakukan oleh nomina, ya fi’lun.

Terbebas dari semua itu, yang harus kita cermati adalah stuktur bait nadzam** di atas. Pertama, yang menjadi topik utama bukan lah pembagian kelas kata itu sendiri, tetapi pengertian mengenai kalam. Kalam itu, kalau dalam bahasa indonesia kalimat. Menurut tafsir pekok saya, ada keinginan dari pak ibn malik untuk mengatakan fungsi bahasa itu penting. Maksudnya, semua pembagian kelas kata tadi harus bertransformasi atau ditransformasikan oleh menungsa untuk menjadi kalimat. Gunanya? Ya, agar ia berbunyi. Bermakna! Dalam hal ini, ibn malik menggunakan istilah mufiid, berfaidah.

Yang kedua, dari contoh kalam yang disodorkan oleh ibn malik, ia seakan-akan mencoba menghadirkan kontradiksi. (iyo po?) Itu juga menurut tafsir pekok saya! Tapi, itu lah yang saya rasakan. استقم ‘istaqim’ berdirilah kamu! Dijadikan contoh karena ia telah bermakna, berfaidah. Mengandung maksud tertentu yang diinginkan oleh penutur kepada mitra tutur. Walaupun bentuknya sangat sederhana dan hanya satu kata, fi’il amr.

Begitu lah tafsir pekok saya. Apabila anda ingin menyeret-nyeret hal ini ke dalam tafsir kehidupan, silahkan-silahkan saja. Misalnya, yang terpenting dari hidup ini adalah kemanfaatan. Anda sebagai pribadi, akan lebih bermutu apabila anda bermanfaat, ketimbang jutaan orang yang bergabung bersama tetapi tak bermanfaat. Mereka hanya akan dipandang sebagai sebuah frasa saja, yang belum berfaidah. Belum predikatif. Sekian khotbah ini saya sampaikan. Terima kasih, dan udah gitu ajah!

*sebuah kumpulan nadzam** yang berjumlah seribu.

** nadzam adalah syair yang berisi ilmu pengetahuan.

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment