Dari dulu hingga sekarang, rutinitas yg saya lakukan terasa diulang-ulang. Semuanya kembali terjadi, lagi dan lagi. Hal-hal yg terjadi saat saya kuliah di Jogja dulu, terulang lagi saat saya pulang ke Banyuwangi. Dan saya harus melakukannya, seolah hal itu adalah ujian yg belum selesai saya kerjakan, ujian yg harus saya tempuh remidinya.
Salah satu hal yg harus saya lakukan adalah mengajar anak sd. Dulu, saat saya kos di daerah Gaten sekira tahun 2008-2009, ibu penjual nasi langganan saya memilili seorang anak kecil, kelas 2 sd yg saat itu belum bisa membaca. Dan galibnya anak kecil, bukan malah belajar, mereka semakin malas belajar karena kesulitan membaca tersebut.Ibunya (dan juga neneknya pd waktu itu) yg sudah kelihatan putus asa tiba-tiba meminta saya untuk menemani anak tsb belajar setiap hari. Saya sendiri pada mulanya enggan, tapi entah kenapa waktu itu saya kemudian menerimanya.

Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya anak tersebut kemudian bisa membaca dan saya harus pergi KKN di Gunungkidul, sehingga saya tidak bisa menemaninya belajar lagi. Di kemudian hari saya tahu dari teman kos bahwa anak tersebut les ke orang lain, seorang pèrempuan, mahasiswa, dan tidak bertahan lama. Karena memang anak ini lumayan spesial, harus telaten menemaninya.Setelah pengalaman pertama saya menemani belajar tsb, saya lama tidak mengajar.
Baru kemudian pada tahun 2012, saat saya sedang luntang-lantung di Jogja, ada sms dr sebuah bimbel SD agar mau mengajar, tanpa pikir panjang saya iyakan.Hal itu hanya berlangsung sekira dua bulan saja, tetapi yg paling saya ingat adalah, anak sd tersebut adl anak dr keluarga menengah-atas, lumayan pintar. Jadi, seringkali kami hanya mengobrol dan berdiskusi seputar pr-pr nya. Praktis tak banyak yg bisa saya berikan waktu itu. Bahkan, pernah juga saya iseng bertanya tentang anime, ternyata dia suka. Dan saya malah diskusi Naruto dengan dia.
Sebenarnya, setelah lulus dr Jogja tahun 2011 (saya baru ingat) saya pulang dahulu ke Banyuwangi. Mengabdi, mengajar di salah satu SMK rintisan, kemudian juga nyambi luntang lantung. Tetangga saya yg melihat saya tak ada kerjaan meminta tolong untuk menemani anaknya belajar. Saya tidak terlalu ingat, bagaimana saya mengajar dia waktu itu. Tapi, sekarang dia sudah SMA dan hanya diam saja saat berpapasan dg saya. Haha, entah lah.Saat saya mengira sudah lulus dr menemani anak sd belajar, akhir tahun lalu tiba-tiba datang tawaran mengajar anak seorang teman sd saya.
Sebenarnya tawaran itu datangnya dr iatrinya yg kebetulan satu kantor dg istri saya, yg sebenarnya juga tawatan itu untuk istri saya, tetapi karena istri saya sudah sibuk dengan anak kedua, belum lagi urusan domestik rumah tangga yg lain, akhirnya saya lah yg kebagian jatah mbadali. Dan saya akhirnya menemani anak sd belajar lagi.

Untuk anak teman saya ini, dia sudah pintar, jadi biasanya saya cuma review saja, dan selebihnya menemani dia bermain. Selain itu, karena saya juga mulai sibuk di kampus, seringkali saya juga tidak bisa belajar bareng, skip. Dan hal ini sebenarnya yg bikin tidak enak hati, tapi bagaimana lagi.Saat saya merasa gagal menemani belajar anak teman saya, saat itu pula tetangga saya dan beberapa temannya meminta saya untuk meluangkan waktu, tentu saja menemani anak-anak mereka belajar.
Setidaknya saat ini ada lima anak yg belajar di rumah, dan say serasa ketiban remidi. Dan tentu saja, saya melakukannya dg penuh kesadaran, dan penuh harap; semoga semuanya bisa berjalan lancar.Karena saya tahu dengan pasti, kepercayaan adalah hal yg penting dan saya seringkali luput dalam mengembannya. Dan Tuhan tahu sifat saya itu, Dia pun mengirimkan anak-anak ini untuk mengingatkan saya.
Leave a comment