Suatu ketika, teman saya dengan terburu-buru mendatangi konter suatu jasa pengiriman barang. Tanpa babibu, dia langsung bertanya:

“Mbak, ada kacamata tertinggal di sini?”

“Maaf, Pak?”

“Kacamata saya tidak ada, mungkin tertinggal di sini”

Mbak penjaga konter menunjuk kepala teman saya sambil menahan tawa. Teman saya paham setelah meraba kepalanya tidak berlama-lama, langsung keluar konter. Kareba ia sadar, kacamatanya sedang dia pakai di kepalanya.

Di kesempatan lain, teman saya asyik bercerita kepada kami teman-teman kosnya. Dia mondar-mandir sambil menunggu air panas untuk memasak mie instan, membawa mie membukanya kemudian mendekati kami; bercerita. Tanpa sadar ia kemudian menaruh mie yg sudah ia buka di atas motor yg ada di dekatnya.

Sambil bercerita, mungkin saking asyiknya, ia kemudian berjalan lagi ke tempat penyimpanan mie instan. Disana ia mengambil lagi mie, kemudia membukanya dan memasukkannya ke dalam air yg kebetulan telah mendidih. Sambil mengaduk mie, menuang bumbu, dan akhirnya menyantapnya; ia terus saja bercerita.

Di tengah-tengah menikmati hidangannya tersebut, ia kemudian bertanya:

“Loh lha sapa iki seng mbukak mie ra dipangan?”

Kami yg dari tadi mendengarkan dia bercerita, melihatnya mondar-mandir, sibuk masak mie, tidak bisa menahan tawa.

“Ha mbok kiro gene sopo? Ya kan seng masak mie mung sampean, Cak?”

Sampai beberapa hari setelahnya dia terus saja merasa bukan dia yg membuka mie tersebut. Bahkan kalau kami bertemu hingga kini kami masih sering juga memperdebatkan mie tak bertuan tersebut.

Sementara itu, di Blokagung sana-sebuah desa di pelosok Banyuwangi- kakak dari teman kerja saya yg kini jadi anggota DPR pernah mencoba naik motor Jupiter. Naasnya, karena biasanya naik motor matic, saat mencoba naik Jupiter tersebut ia mengalami ‘cultureshock’.

Setelah ia selesai menghidupkan motor dan nangkring di atasnya, gas langsung ia geber, ‘kok tidak jalan’ pikirnya. Tanpa pikir panjang, ia geber lagi, tetap tidak jalan. Karena penasaran, dengan sekuat tenaga ia geber lagi gasnya. Jupiter itu tak ayal meraung-raung sampai ia sadar, “motor bebek perlu oper gigi”.

Dan kemarin sore, tanggal 9 Juli 2019, saya yg sedang leyeh-leyeh di kamar. Kelelahan memikirkan hutang yg belum bisa terbayar, mendengar siara telpon, ternyata teman saya yg mencari kacamatanya di konter jasa pengiriman menelpon saya. Sebelumnya, saya mengantarkan dia ke stasiun, dia mau pulang ke rumahnya di Jember.

“Pak, tulung delokne sak (saku) klambi po celanaku”

“Lha ngopo?”

“Lha aku ra iso ngurepke motorku seng tak demek neng stasiun ki, kuncine tak goleki ra ketemu”

“Ok. Sek ya”

Saya kemudian melihat bajunya, tak ada kunci. Tak lihat di saku celananya. Walaa, ada. Saya kemudian mengabarinya.

“Iya. Eneng kunci motore.”

“Aduh” saya mendengar lamat-lamat gerutunya.

Saat itulah saya dirundung dilema. Antara nikmat menertawakan teman, dan tentu saja dosa karenanya.

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment