Saya dan bioskop tidak begitu akrab, baik dulu maupun sekarang. Dulu saat kuliah saya mit-amit sama ini tempat. Bukan karena saya tak suka film, tapi karena saya tak punya uang. Daripada buat beli tiket, uangnya bisa saya buat makan dua hari. Selain itu, saya bisa rental dg uang yg sama dan mendapatkan lebih banyak judul, apalagi kalau saya bisa copy dr teman, maka bioskop tak pernah masuk place to go list.
Tapi, tentu saja saya juga pernah ke bioskop. Tapi tidak lebih dr lima kali, seingat saya. Atau lebih, tapi yg pasti tidak banyak. Dan di kesempatan yg tidak banyak tersebut saya seringkali mengalami hal yg berkesan.
Pernah suatu ketika saya dan istri sedang main di salah satu mall di Malang. Rencananya memang mau ke bioskop. Tidak ada judul film pasti yg kami incar untuk ditonton hari itu. Kami asal berangkat saja.

Karena tanpa persiapan, kami bingung mau memilih film apa. Seingat saya pilihannya adalah sebuah film horor Indonesia dan film action Barat, judulnya saya lupa semua. Istri saya lumayan suka film horor walaupun dia jireh, jadi dia memilihnya. Sedangkan saya, tentu saja suka pilihan satunya. Dan kami pun belum memutuskan memilih, terus mondar-mandir saja sambil melihat poster-poster yg dipajang di sana.
Kami yg sedang melihat-lihat poster kemudian dikejutkan oleh sepasang muda-mudi yg tiba-tiba menghampiri kami. Tanpa basa basi, mereka bertanya:
“Sudah beli tiket, Mas?”
“Ee, belum” saya menjawab dg canggung.
Saya saat itu sedikit penasaran, curiga malah. Apa mau mereka.
“Kalau belum, ini dua tiket film ‘blablabla’. Buat sampean berdua. 15 menit lagi mulai”
“Lho, Mas. Apa ini?”
“Kami gak jadi nonton. Mau pulang saja”
Tentu saja saya cuma bisa menerima dua lembar tiket yg si cowok sodorkan dengan rada mlongo. Sambil senyum tipis ke si Cewek yg kemudian berlalu dari hadapan kami.
Saya dan istri bertatapan. Mlongo berdua. Bertanya-tanya apa yg sedang kami alami, dari tidak punya keputusan pilihan film dan mondar-mandir gak jelas, hingga ‘dipaksa’ nonton film horor yg dipingini istri saya.
Tentu saja istri saya bahagia, dia menggeret saya mencari studio sesuai dg tiket gratisan kami. Sambil menuju studio istri saya menasehati saya;
“Mas, aku seneng iso nonton film saiki. Gratis maneh. Tapi sesok lek arep metu mbok ya macak sithik. Aja ngangge sandal jepit, jeans mu ya wes elek pol. Dadi koyok wong ra kuat tuku tiket, ngisin-ngisini!”
Leave a comment