Saya baru bisa nulis ini malam hari, sekarang. Karena seharian harus wira-wiri di kampus. Dari jam tujuh pagi sudah harus ke rumah direktut Pusat Bahasa untuk nganter ‘penumpang’ gelap acara debat bahasa inggris. Lanjut ke kampus menjadi badal abal-abal buat kelas-kelas program intensif bahasa Inggris yg ditinggal para tutornya pergi berdebat.
Selesai di program intensif lanjut ke kelas. Anak-anak PBA 18 sudah satu-dua yg menunggu. Lainnya? Telat. Tapi, tak penting-penting amat dibahas sekarang. Setelah salam, dijawab tiga orang yg sudah hadir, prolog sebagai ice breaker kami lakukan. Review materi dua minggu lalu, meng-highlight tajuk yg akan kami bahas hari ini, dan sesekali gojek-gayeng sambil menunggu teman-teman yg lain.

Setelah dari kelas PBA 18, rencananya mau ke kelas selanjutnya. Tapi, karena satu dua hal, kelas harus diganti esok hari, di jam yg sama. Sebagai gantinya, tiga orang sudah ndepipil nunggu di kantor Pusat Bahasa. Saya yg melihat mereka cuma bertanya:
“Meh ngopo?”
“Ajenge tanglet-tanglet, Pak” jawab mereka malu-malu.
Tiga orang itu, seorang memang anak bimbingan saya. Sedang meneliti tentang translation, sudah selesai analisis, tinggal display finding dr penelitiannya. Sedang dua yg lain, datang cuma mau bertanya tentang beberapa hal terkait skripsi mereka. Sampai jam 12.30 selesai sudah urusan ketiganya, saya yg mau selonjor di kantor tiba-tiba didatangi beberapa mahasiswa yg hendak KKN dan bermasalah dg penempatan KKN. Sekira jam 12, selesai pula itu urusan. Tak lama kemudian, ketua panitia KKN datang beserta Bu sekretaris. Bebearapa hal perlu diomongkan (dadi apa si sakjane kowe ki, Syu?). Akhirnya, jam 15.14 an, semua benar selesai. Tinggal surat yg eror dan tak bisa di-print dan harus dibawa pulang. Dan sampai tulisan ini dibikin, belum saya sentuh itu PeEr. Nanti, mungkin.
Sebenarnya, kalau melihat kesibukan di kampus, yg hectic kayak gini, saya jadi ingat kenangan masa lalu. Saat saya dengan pede-nya bilang:
“Aku moh dadi guru, moh ngajar ah”
Saya tidak minat jadi guru, bahkan hingga beberapa waktu lalu, saya masih kekeuh untuk tak mau jadi pengajar atau apapun lah namanya.
Niat ini sungguh-sungguh saya terapkan dalam diri saya. Setelah lulus s1 tahun 2011 misale, saya kekeuh tak mau pulang ke Banyuwangi. Beberapa kali saya mencoba peruntungan mencari kerja di Jogja. Saya mau kerja apa saja, biar tidak pulang ke Banyuwangi karena di Banyuwangi, Emak saya sudah bilang;
“Le, muleh. Wingi kancamu seng dadi kepala sekolah nakokne. Jare awakmu wes lulus”.
Emak saya nyuruh saya jadi guru. Hal yg tidak saya inginkan. Tentu saja, saya mencoba menghindarinya sekuat tenaga. Berkelit, istilahnya.
Tapi, entah kenapa. Semua usaha saya serasa sia-sia. Semua usaha untuk menghindari ngajar, jadi guru, sia-sia.
Saya pernah ndaftar untuk jadi editor di sebuah penerbit, kandidat tinggal tiga, seingat saya yg diterima dua, saya tak masuk. Gagal lolos. Beberapa waktu kemudian, ada lowongan editor lagi, sama. Tak masuk pula walau sudah pada fase ‘gugur’ terakhir.
Akhirnya, tentu saja saya manut pulang Banyuwangi. Walau cuma betah satu semester, ngajar di sekolah yg dikepalai teman saya sendiri. Saya resign, lalu pindah ke Jogja. Alasannya, mau menikah.
Saat itu tahun 2012 awal, Januari. Saya tinggal di Jogja sekitar 6 bulan, sebelum saya menikah pertengahan tahun tersebut. Selama enam bulan itu, saya mencoba peruntungan lagi.
“Mungkin perintah Emak saya untuk ngajar, sudah lunas terjadi. Kan saya sudah ngajar satu semester?” Pikir saya.
Maka saya mulai cari-cari lowongan pekerjaan. Saya masukkan lamaran, kemudian menunggu. Tak lama berselang, panggilan interview datang. Saya harus ke sebuah restoran di timur Ambarukmo Plaza. Saya lupa tempatnya.
Pekerjaan yg saya lamar waktu itu, sama; jadi editor. Bedanya, ini di sebuah majalah yg mau terbit. Semua step saya ikuti. Selesai, saya pun pulang ke kos teman saya yg saya tinggali selama di Jogja. Numpang.
Akhirnya saya keterima. Bajingannya, ternyata saya kerja tidak sesuai dugaan. Ternyata, majalah yg mereka woro-woro kan hanya fiktif belaka. Yg ada saya diajak untuk bikin seminar menulis, semacam jd EO. Akhirnya yg saya lakukan adl nyebar undangan promo kegiatan ke sekolah-sekolah, memasang pamflet di beberapa tempat strategis. Bhajingan lah pokoke.
Yg lebih bhajingan lagi, saya dipecat tanpa pemberitahuan. (Saya nulis ini sambil ngekek). Ceritanya, acara seminar pertama saya, sebagai EOnya, cuma dpt satu orang, atau dua orang ya lupa. Tapi tak sampai tiga orang. Akhirnya saya nimbrung jd peserta sekalian, dan teman saya yg lain (ada 2 orang lain) jadi moderator dan operator slide.
Beberapa hari setelah acara itu, saya diajak ketemu salah satu anggota team, ketemuan di FIB UGM. Saya diberi amplop, ‘ganti bensin’ katanya. Saya malas membahas berapa isinya, lupa juga si. Yg pasti, setelah itu saya tak pernah dihubungi lagi. Pernah chating dg pemberi amplop, tapi sama sekali tak membahas kerjaan itu. Dan saya tiba-tiba tak bekerja lagi.
Tentu saja saya terus berusaha berkelit, bekerja biar bisa survive di Jogja. Biar tidak ngajar, atau pulang ke Banyuwangi. Bahkan, saya pernah ngelamar sebagai tenaga pencatat Kwh listrik. (Asli aku ngekek pas nulis iki. Pekok tenin).
Teman saya yang melihat saya melamar cuma geleng-geleng sambil bertanya;
“Kowe ki tenanan po, ndo? Nglamar dadi ngunu kuwi?
“Ha piye maneh?” Jawab saya.
Dan lucunya, saya ditolak oleh orang yg membuat iklan lamaran pekerjaan itu.
“Lulusan UGM, Mas?”
“Nggeh, Pak” jawab saya.
“Ngene ya, Mas. Bukane aku ra gelem nrimo sampean. Tapi, iki pekerjaan ge lulusan SMA. Mending sampean golek pekerjaan neng sekolahan wae”
Bhaaaaa. Aku malah diceramahi kon ngelamr neng sekolahan, ngajar, dadi guru. Syem. Aku mung iso ngekek njuk pamitan. Pulang ke kos, cerita ke teman saya, dia ngekek pula.
Tapi tentu saja cerita tidak akan berakhir semenderita itu, Ferguso!
Di tengah-tengah kegalauan tak punya gawean, bekal uang sudah kian menipis, bahkan habis. Pertolongan datang. Sewujud santri komplek L Pondok Krapyak yg sedang makan di samping saya di warung Mbok Danang, di timur Kandang menjangan itu.
Tanpa gimik, tanpa babibu, tanpa basa-basi, dia mengajak saya bekerja.
“Mas gelem dodolan koran?” Katanya sambil menatap saya serius.
“Lumayan, Mas. Sedina iso uleh 20ewu“. Imbuhnya.
Saya yg sedang melahap makanan saya, hampir saja tersedak. Sambil menatap anak itu, mencoba menakar tingkat keganjilan hal yg sedang terjadi, mlongo. Saya pun menjawab mantap.
“Gelem. Piye kuwi?” Tanya saya ganjil.
“Sesok isuk temoni Kang Iki, engko sampean dinehi tempat ge dodolan. Korane njimuk neng elore Jokteng kulon”
Besoknya, saya syah resmi, jadi penjual koran. Perempatan tempat mangkal saya di perempatan Madukismo, yg selatan jalan, sungguh saya menikmati waktu-waktu itu. ‘Alhamdulillah, di Jogja dapat kerja. Setidaknya tidak ngajar’ pikir saya.
Setelah periode ini, saya kemudian menikah. Hal ini mengharuskan saya pindah ke Kebumen, kota istri saya. Tentu saja saya kembali unemployed. Bhaaaa. Tapi tak usah khawatir, hal itu tak akan berlangsung lama.
Dua minggu setelah menikah, rencananya istri saya balik ngampus. Maklum belum selesai kuliah. Saya, memikirkan cari uang buat bayar spp dia. Uang sangu nikah akhirnya dibuat modal belanja, toko dibuka. Walau kecil tapi bisa dibuat ganjel rai di depan mertua. Tentu saja rencana tinggal rencana. Di minggu itu, istri positif hamil. Istri saya tak jadi ngampus, tapi juga tidak cuti. Tetep mbayar spp.
Karena butuh uang banyak, terutama persiapan jabang bayi, saya harus cari income lain. Gayung bersambut. Tetangga yg ketua komite sebuah SMK mendatangi saya. Blio yg kebetulan juga berasal dari Banyuwangi, ‘memasukkan’ saya di sekolah itu.
Endingnya, saya ngajar lagi. Jadi guru lagi. Dan saya teringat emak saya lagi.
“Le, ndang muleh Banyuwangi. Ngajar”
Bhaaa. Syem.
(Bersambung)

Leave a comment