Saat pertama kali menemui saya, perwakilan dari emak-emak yang anaknya ingin belajar di rumah saya mewanti-wanti agar saya memberikan bedekan (quiz) sebelum mereka pulang. Dari cara emak itu meyakinkan saya, hal itu terasa penting sekali bagi Blio.

Nganu, Mas. Niki mangkeh lek pas les ampun supe lare-lare di-bedek-i. Mboten angsal wangsul lek dereng saget njawab, disik-disikan”

Saya manggut-manggut saja. Saya punya pikiran sendiri tentang hal ini, dan tak sependapat, tapi tentu saja saya tidak akan menyanggah apalagi berdebat. Toh, nanti juga saya yang akan menemani anak-anak itu belajar tiap harinya.

Maka, saat saya menemani anak-anak belajar saya tentu saja memberikan beberapa pertanyaan sebelum mereka pulang, sebagai cara untuk mereview pelajaran yang sudah mereka dapatkan, baik saat di sekolah maupun saat belajar di rumah saya. Tetapi, bedekan pertanyaan itu tidak saya berikan secara cepet-cepet an, tidak untuk saling berlomba pintar-pintar an njawab. Saya berikan ke setiap individu, berdasarkan pertanyaan yang saya kira sesuai dengan kemampuan mereka.

Saya kira hal ini berjalan dengan baik, ternyata emak-emak tersebut juga seringkali bertanya tentang proses belajar yang anak-anak mereka lakukan. Maka, sangat sering anak-anak tersebut mengingatkan saya:

Pak, engko mulihe bedek an dimek ya”

Pak, seng ra iso njawab ra oleh mulih dimek”

“Pak, aja lali engko bedekan”

Saya yang penasaran, suatu ketika mencoba bertanya:

“Ibuk bapane apa sering takon, ‘sinau apa mau?’ ‘Piye mau sianune’, tahu po ora?”

Jawaban yang sudah saya duga pun muncul:

“Iya, Pak”

Hal yang saya tidak setuju sebenarnya hanya masalah kontestasi ini.Cepet-cepet an, iso-iso an njawab bedek an, dan endingnya; pinter-pinteran.

Saya mungkin terpengaruh sekali dengan pendapat Toto Raharjo. Bahwa budaya paling-paling an ini tidak baik untuk anak didik. Mengungguli yang lain itu bukan hal yang bagus untuk diberikan kepada mereka, mengetahui potensi masing-masing pribadi adalah lebih penting.

Dan nilai ini harus tercermin dalam proses pembelajaran.

Saya sih sebenarnya sedikit memahami apa yang dirasakan oleh emak-emak tersebut. Memiliki anak yang tertinggal dalam konteks tertentu memang tidak mengenakkan. Resiko dijadikan bahan omongan terbuka lebar. Tidak usah jauh-jauh mencari contoh untuk hal ini: saya dan istri sudah bosan menanggapi banyak emak yang mengomentari Falah, anak saya, karena dia belum bisa ini itu dibanding teman yang lain. Jadi, tentu saja mereka tidak mau hal itu terjadi pada anak-anak mereka, sehingga dengan segala cara mereka akan mengupayakan agar anak mereka well, pintar, kalau bisa lebih pintar dari yang lain.

Yang saya takutkan lagi adalah, para orang tua memiliki kecenderungan untuk menjadikan anak mereka sebagai pengganti dari kegagalan akademik mereka di masa lalu. Maksudnya, ada hal yang mungkin tidak didapat orang tua saat mereka sekolah, mungkin karena pandangan orang dulu yang me-nomerberapa-kan pendidikan dan kemudian tersadar akan pentingnya pendidikan, njuk mencoba menyadarkan ke anak-anak mereka akan hal ini dengan menekan mereka agar berprestasi di sekolah.

Sehingga, mereka akan memastikan betul hal itu tercapai dengan segala upaya. Maka jangan heran, di Desa saya, anak seumuran SD harus belajar mulai dari jam tujuh pagi, enam bahkan, hingga jam delapan malam. Dan emak-emak ini akan selalu menyertai proses belajar anak-anaknya, maka jangan heran juga kalau di PAUD dan SD di desa saya banyak sekali emak-emak yang bergerombol menunggu anak mereka yang sedang belajar. Bahkan, kalau Anda sedang beruntung, Anda dapat memyaksikan emak-emak yang ikut ngriwuki proses belajar di kelas.

Semua ini tentu saja cuma pendapat pribadi saya yang pekok. Saya sarankan Anda tidak percaya-percaya amir. Tapi yang pasti, pendidikan anak memang penting dan yang tidak kalah penting adalah cara yang tepat dalam proses membersamai buah hati kita dalam proses pendidikannya.

Dan yang terakhir, jangan berharap ada cerita lucu di tulisan ini, sekian. 😂

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment