Di mudik tahun ini, seperti mudik tahun-tahun sebelumnya, saya tidak bisa membawa kendaraan. Jadi, biasanya saya mendapat pinjaman motor dari saudara untuk keperluan wira-wiri. Tahun lalu kakak ipar yang meminjami, tahun ini giliran pakde yang menawarkan motor mio nya untuk saya pakai.
“Kae motore dijiot, wes ra tau diuripke. Wes ana motor liyane” kata Blio
“Geh” jawab saya.
Maka, saya pun memakainya. Jika istri ingin main-main ke toko Sinar Demangsari (btw, saya mudik ke Jatijajar Kebumen), saya tinggal cus. Naik motor. Atau, saat mertua minta antar untuk belanja, cus. Naik motor.
Tentu saja, terkadang semua tidak berjalan sesuai rencana, Ferguso! Terkadang ada hal gak enak yang terjadi. Seperti saat saya mengantar mertua mengambil uang pensiun di BRI Demangsari.
Saat kami berangkat si Mio ok-ok saja. Setelah menunggu lumayan lama, kami hendak pulang. E ladalah, motor mogok. Dasar motor jarang dipakai karena diduakan, pikir saya.

Sesuai SOP, maka saya membuka tangki untuk melihat tangki motor. Ternyata bensin full. Penuh. Maka, tak ada cara lain, saya bawa ke bengkel.
Saya kemudian mendorongnya dari BRI menuju sebuah bengkel yang di pertigaan menuju Goa Jatijajar. Sambil menahan lapar karena puasa saya terus mendorongnya. Apa saya mengeluh? Tentu tidak di lisan. Di hati? Jangan tanya. Baru jam 9 pagi, lapar sekali, dan bedug magrib masih lama. Yang saya pikirkan saat mendorong motor hanya rencana tidur sepanjang hari itu.
Setelah lelah mendorong, saya akhirnya sampai di bengkel yang saya maksud. Wasyu-nya, karena mungkin lagi puasa, bengkelnya tutop! Syem. Maka, dengan bayangan es sirup marjan yang bergentayangan di kepala, saya kemudian menuju bengkel lain. Jaraknya sekitar 500 meter dari bengkel pertama. Dan saya kira tidak perlu dilanjutkan lagi bagaimana si Mio ini memberikan cobaan kepada saya. Setelah sampai di bengkel, utak-utik, ketemu masalahnya. Selesai, saya bayar dan saya pulang untuk tidur seharian.
Karena pengalaman itu, saya benar-benar suudzon dengan Mio ini. Maka, saat keesokan harinya ketika saya hendak ke rumah saudara di Kebumen kota, saat Mio ternyata tiba-tiba ‘mogok’ lagi, saya tak ambil pusing. Saya taruh di rumah, saya pinjam motor tetangga, dan saya cuekin dia. “Besok aja saya bawa ke bengkel, dasar ngrepotin” batin saya.
Esoknya, saya bawa dia ke bengkel. Tentu saja dengan mangkel, karena jarak rumah dengan bengkel tidak dekat. Puasa lagi. Setelah sampai, montir segera tanggap. Dibongkar-bongkar lah itu Mio. Dipreteli dan dicari letak masalahnya.
Sebagai referensi, saya ceritakan pula pengalaman mogok sebelumnya.
Setelah sekian lama membongkar Mio, montir malang itu mendatangi saya:
“Mas, iki wes tak cek kabeh. Ternyata, bensine enteng, mas”
Saya mendengarkan sambil mlongo,
“Maksud e?”
“Ya kiye ura ana sing rusak. Bensine mung enteng” imbuhnya.
Lalu, hening.
Leave a comment