Saya menulis ini, saat Tere Liye sedang memberikan empat hal yang diperlukan seorang penulis pemula. Hehe.
1. Keras kepala
Penulis harus keras kepala. Maksudnya, penulis pemula tak boleh cengeng. Banyak tantangan yang psti akan dihadapi penulis pemula, dan cara menghadapinya simpel: “keras kepala” kata tere liye.
“Kalau Anda nulis novel, ditolak, ya tulis lagi. 2 novel, 3 novel, ditolak tulis lagi. Sampai kapan? Sampai kamu menyerah. Semua akan selesai saat kalian menyerah”
2. Belajar
Mau keras kepala seperti apapun, kalau tidak mau belajar, njuk ngapa? Perubahan menjadi lebih baik harus dilakukan seorang penulis pemula. Keras kepala tidak akan berarti tanpa perubahan dari kemauan belajar.

Dari belajar, penulis pemula dapat mendapatkan feedback untuk kemampuan menulisnya.
“Kamu boleh keras kepala, tapi kalau tidak belajar, apa bedanya! Novel pertama ditolak, lanjut. Tapi tak ada perbaikan, pasti ditolak lagi. Begitu seterusnya!”
Belajar bisa dari mana saja. Dari novel yang laku, bahkan bisa pula dari novel yang tidak laku. Semua sumber bisa dijadikan sumber pembelajaran, asal dapat memberikan hal bermanfaat dalam proses penulisan.
3. Produktif
Banyak tantangan yang dihadapi oleh penulis pemula, salah satunta adalah produktifitas. Apalah arti seorang penulis, tanpa tulisan yang mengalir darinya.
“Kalian mau menulis terus, produktif dab menghadirkan banyak tulisan, atau kalian mau malas-malasan. Main hape teruus, dan tidak menulis. Saya sudah punya 30 lebih novel. Ulama-ulama dulu yg umurnya 80, 70 tahun, saat saya lihat profilnya, sudah punya banyak sekali buku”
Budaya menulis, produktif menghadirkan karya tulis merupakan budaya Islam. Karena menurut Tere Liye, jika melihat ayat pertama yang turun ‘iqra’, maka yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang akan dibaca. Maka, umat Islam harus bisa menghadirkan karya-karya yang banyak dan mau bersaing di dunia literasi.
4. Perbaiki Niat
Dalam menjalani karir kepenulisan, seorang penulis harus memiliki niat yang lurus. Yg kemudian, niat itu akan menjadi bahan bakar proses kepenulisannya.
“Saat saya dulu menulis ‘hafalan solat delissa’, tujuan utama saya tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin memberikan alternatif bacaan di masyarakat kita. Apa kalian tahu, di film the beast and the beauty, ada pesan tentang homoseksual. Kalian tidak tahu kan? Maka yang saya inginkan adalah masyarakat kita mendapatkan bacaan dengan pesan-pesan yang lurus”
Tetapi, tere liye juga tidak menafikan niat-niat lain untuk menjadi seorang penulis. Kaya, terkenal, punya banyak hal. Boleh-boleh saja.
Selain itu, pesan penting yang disampaikan Tere Liye adalah:
“Kita harus ingat, bahwa ada tiga hal yang pahalanya akan terus kita dapatkan saat kita meninggal. Salah satunya adalah amal jariyyah. Tulisan kalian, saat memiliki efek baik bagi pembaca, maka kalian akan mendapatkan pahala”
Mendengar empat pesan Tere Liye ini saya teringat kata-kata Puthut EA,
“Yang harus dilakukan penulis adalah: MENULIS”.
Mekaten,
Leave a comment