Saya seringkali menjumpai teman yg menurut saya banyak cakap. Banyak omong, dan hanya berteori saja.

Apa yg seperti itu ada? Tentu saja. Teman atau saudara? Bisa saja. Apa banyak? Jangan tanya.

Setidaknya, ada dua tipe orang yg banyak cakap yg akan sering anda temui.

Pertama, tipe muluk-muluk. Tipe konsep dan teori tanpa praktek. Kalau kata orang sekarang: omdo. Omong doang. Teman ada yg seperti ini? Lho, anda ini kemana saja si. Banyak kali.

Biasanya anda akan sering mendengar ucapan, ya kira-kira begini:

“Sebenarnya semua yg sudah kamu rencanakan dan eksekusi ini bagus. Tapi, lebih bagus lagi kalau bla bla bla”

“Temanku yg di sana itu, yg pintar dan ahli masalah beginian, dia itu kalau mengerjakan tidak seperti ini. Jadi gini bla bla bla”

Dan kita akan terbang bersama burung-burung idenya yg we o we. Waaaw.

Kalau ketemu yg model begini, ya: “mohon semua bersabar, ini semua ujian”

Tipe kedua, selain banyak cakap juga sok ngurus. Udah bacot, ngurus lagi. Saya agak malas njelasinnya. Anda semua kelihatannya sudah manggut-manggut sambil membayangkan yg model begini.

Kalimat yg mungkin anda hadapi:

“Heh, kamu itu gimana si. Dia itu sudah baik sama kamu. Kamu kok malah begini. Aku tahu ini bukan masalahku, tapi …. ”

“Ih, itu kok bisa ya dia menikah sama si anu. Apa waktu ketemu, dia lg sakau? Orang itu kan begini, bla bla bla”

Untuk yg tipe kedua ini, kalau anda beruntung, anda bisa face-to-face. Diomeli langsung sama mereka. Tapi, seringkali mereka juga ngurus di belakang punggung kita. Dan tidak akan menyakiti hati, kecuali ada orang yg cerita kelakuan mereka terhadap kita; sakitnya bisa lebih-lebih.

Dan apa saran saya jika anda ketemu dg tipe yg kedua: “mohon semua bersabar, ini semua ujian”.

“Lha kok sampean paham banget, ya?”

“Lha gimana, wong saya senior mereka, je. Syu og”

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment