Saya akhirnya ke Jogja lagi. Minggu siang, entah kesambet apa saya memutuskan ke Jogja. Setelah pulang dari rasan-rasan di kantor, saya langsung pulang. Sampai rumah, istri saya kabari
“Aku meh njogja”
Saya melihatnya mematung di tengah pintu depan
“Kapan?” Tanya dia
“Sore iki?”
Saya lalu masuk, mengabaikan dia yg sedang gumun, kaget.
Setelah selesai izin ke beberapa teman kantor untuk kegiatan beberapa hari ke depan, saya kemudian packing dan persiapan berangkat.
Sebenarnya, bukan bagaimana suasana saya dan istri yg ingin saya kabarkan. Semua itu, bisa mudah saja diabaikan. Wong dari dulu juga sudah sering LDR-an. Saya di Jogja, istri di Semarang, thole di Kebumen, wes tahu.
Yang ingin saya ceritakan sebenarnya adalah, setelah selesai packing saya njuk beeangkat ke Genteng. Menunggu Bus menuju Jogja. Saya tak mau pilih-pilih, mau Akas Ok. Mila juga Ok. Toh semua sudah ac-nan.

Akhirnya saya dapat Mila, berangkat dan pulangnya. Dan dari pengalaman itu, ada beberapa hal berbeda yg saya rasakan dari si Mila dibandingkan saat saya kuliah dulu, tahun 2007-2010an.
1. Ac-nan
Seingat saya, Mila tidak ac-nan. Ada sih satu armada yg ac-nan tapi jarang sekali saya mendapat armada ini. Seingat saya, mungkin sekali saja saya beruntung menaikinya. Itu pun, menurut saya bus Mila tidak sebaik bus-bus lain, semisal Efisiensi yg sering saya naiki saat pulang ke Kebumen.
Sekarang, saya melihat semua armada Mila sudah ac-nan. Dan hal itu mbungahke. Saya tambah senang naik Mila jika mempertimbangkan hal ini.
2. Lega
Dulu, Mila memiliki formasi tempat duduk 2-3. Begitu juga dengan sekarang, sama 2-3. Tetapi, saya merasakan perbedaan yang puoool njomplange.
Dulu, saat saya turun di Njanti saat ke Jogja atau turun di Tawangalun saat mudik ke Banyuwangi, maka kaki saya keduanya sudah menggajah. Jadi gedhe. Saya menduga hal itu terjadi karena kaki saya tidak mendapatkan space yang pas, tepak. Karena ruang antara tempat duduk satu dengan depannya sangat rapat. Yg kemudian membuat duduk juga tak nyaman. Ya, begitu lah khas bus ekonomi. Namun sekarang, saya pastikan Anda akan mendapatkan space yg waah, lega banget.
3. Ramah Sholat
Ini salah satu hal yg membuat bus menjadi pilihan saya saat berangkat ke Jogaja ketimbang kereta. Di bus, saya bisa berangkat setelah sholat Ashar, lalu maghrib dan isya akan saya jamak di Gempol. Kemudian, subuh di Jogja.
Tapi, subuh di jogja sudah agak lama tidak bisa digapai. Biasanya bus memasuku solo sudah jam 5an, kemudian melaju ke Jogja berbarengan dengan anak sekolah dan para pekerja. Jalanan ramai, sampai nJanti pun menjadi molor.
Di perjalanan terakhir kemarin, saya sudah sampai di Jogja jam 4.30. Gasik banget. Saya menduga, selain karena tol, sekarang Bus Mila tidak terlalu lama nge-time Jember. Hanya 10 menit saja, walaupun penumpang tidak penuh banget. Sehingga perjalanan menjadi sesuai dengan perkiraan saya.
4. No smoking
Saya dulu agak jengkel juga kalo naik ini bus. Saat lampu dimatikan, beberapa penumpang klepas-klepus tanpa berdosa, membuat seisi ruangan bus penuh dengan asap. Keplepeken. Tapi, setelah ada ac nya, di bus sudah tidak diperbolehkan merokok. Jadi, ruangan menjadi lebih segar. Selain itu, juga ada pengharum ruangan yang nyemprot dewe. 😂. Walaupun saya tak terlalu suka baunya, tapi itu kemajuan.
Tepi tentu saja juga hal itu tidak sempurna-sempurna amir. Karena tidak boleh smoking, kemudian ada ruang khusus untuk merokok. Di belakang. Wasyu nya, sirkulasi udara dari ruang itu tidak sempurna keluar bus. Jadi, walaupun kebul nya tidak memenuhi ruangan bus, tapi baunya menyebar ke depan. Bagi saya yang bukan perokok, tentu saja hal ini njancuk i banget. Haha.
Apapun moda transportasi yang Anda pilih, keselamatan dan kenyamanan adalah hal utama. Tentu saja, isi kantong juga harus diperhitungkan. Selamat nge-trip, Luuur.
Leave a comment