Di sebuah kampus, di selatan Banyuwangi, seorang mahasiswa bergegas menemui dosen pembimbingnya. Dia berniat mengembalikan kunci motor yang baru saja dia pinjam. Setelah ketemu, alih-alih mengembalikan kunci, dia malah membahas skripsinya.

Setelah selesai ia kemudian pamit dan pulang ke asramanya.

Saya yang tak tahu-menahu apa pun kemudian dikagetkan oleh dosen yang juga teman saya itu.

“Pak, golekno si tiiiiiiit, tho! Kunci motorku digawa dekne. Aku ra iso muleh ki lho”

Saya lalu membantu mencari anak itu. Dan ternyata tidak mudah. Setelah lelah mencari, saya akhirnya bisa menemukan si mahasiswa. Di kamar asramanya. Ngapain? Tidur.

Saya kemudian meminta kunci motor yg dicari, setelah itu saya berikan ke si dosen. Sambil bilang terima kasih, dosen itu masih nggrundel dan kemudian pulang.

Saya cuma berharap, di bimbingan selanjutnya, tidak terjadi apa-apa dengan si mahasiswa. Karena mungkin saja, istilah dosen killer bisa menjadi bukan isapan jempol sahaja.

Di kampus yang lain, di Jogja sana, seorang mahasiswa semester lima yang kere berpikir keras mengurangi pengeluarannya. Akhirnya dia memutuskan untuk memasak dan tidak jajan.

Setiap hari ia berangkat ke pasar. Disana ia akan berbelanja kebutuhan makannya. Beras sudah ada, jadi tak perlu beli. Sayuran dan bumbu dapur yang pasti ia cari.

Di sebuah pagi, dengan biasa saja ia membawa tubuhnya menyusuri jl. wahid hasyim, menuju sebuah pasar di daerah Nologaten. Ia pun kemudian berbelanja.

“Brambang bawang 5 ewu, Bu. Lomboke 4 ewu mawon”.

Pembeli segera memberikan yang mahasiswa itu pesan.

Pekoknya, tanpa rasa bersalah mahasiswa itu kemudian menerima pesanannya dan melenggang pergi. Menuju penjual sayur di tempat lain. Tentu saja tanpa membayar.

Sampai sebuah percakapan samar-samar hinggap di telinga si mahasiswa.

“Jarke. Jarke wae, Yu. Mengko lak kelingan-kelingan dewe”.

Entah kenapa, saat mendengar kalimat itu, otak mahasiswa berpikir dengan cepat. ‘Ada apa ini?’ Pikirnya.

Setelah merunut kejadian sebelumnya, ‘Bhajingan, aku rung mbayar!’. Dia pun tersadar. Lalu, sejurus kemudian ia klitah-klitih menemui penjual sebelumnya. Mengulurkan uang, menerima kembalian. Lalu pulang ke kosan.

Setelah itu ia tidak lagi berbelanja di pasar, tidak lagi ngirit. Persetan itu penghematan. Bubar sudah rencana penghematan yang dia rencanakan.

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment