Saya sudah mencoba membuat ulasan ala-ala sebuah film. Dan saya pastikan, saya gagal. Bhaa. Lihat saja tulisan tentang The Mustang, ya gitu-gitu aja. Tak menarik. Jadi, saya mau nulis asal-asalan saja. Njuk apa jadi lebih bagus dari tulisan sebelumnya? Bhaaa. Mbuh.

Langsing wae, eh langsung wae.

Beberapa hal yang bisa saya ceritakan tentang Spiderman, adalah pertama bagaimana tokoh Spiderman dibawakan. Dibanding Spiderman sebelumnya, yang diperankan oleh Tobey Maguire, Spiderman yang sekarang, menurut saya, lebih bagus, pas.

Spiderman memang beda dengan superhero lainnya. Ia lebih kocak, tapi tidak sarkas. Tidak seperti Deadpol, yang kocak tapi sarkas nguawur. Mungkin ‘lugu’ lebih tepat untuk karakter Spiderman ini.

Tom Holland tak rasa-rasakan pas bener dalam membawakan karakter lugu ini. Profile anak SMA yang cerdas, kikuk, canggung, tak PD, benar-benar bisa keluar. Spiderman-Tobey pun sebenarnya juga mengeluarkan semua kesan itu, tapi dia tidak memiliki aura lucu. Cerdas, canggung, tapi tak lucu.

Mungkin ini juga disebabkan alur cerita Spiderman-Tom Holland yang ringan. Mungkin.

Alur cerita Spiderman-Tobey sangat serius menurut saya, bahkan saya menduga Anda pasti ingat ini:

“Dengan kekuatan yg besar, datanglah tanggung jawab yg besar pula”

Pesan Ben Parker, Paman Spiderman itu menurut saya jadi tanda betapa seriusnya cerita Spiderman-Tobey.

Bandingkan dengan Spiderman-Tom Holland yang benar-benar berisi cerita ringan petualangan anak SMA. Yg magang sebagai anggota Avenger.

Sebenarnya, pesan dari kedua film Spiderman ini juga sama. Masih seputar tanggung jawab, seperti quotes dari Ben parker di atas. Tetapi, dalam Spiderman-Holland, alih-alih pesan itu di-quotes-kan, ia ditampilkan dalam sebuah runtutan cerita yang terkesan ringan.

Tony Stark-Iron Man, meninggalkan sebuah warisan (sebuah sistem teknologi ultra canggih) untuk Spiderman, lalu musuhnya; Beck-Misterio, mengelabui Spiderman dan merebut alat tersebut.

Lalu apa yang dilakukan oleh Spiderman yang masih SMA itu? Tentu saja bertanggung jawab dan merebutnya kembali. Dan saya kira saya tak perlu juga menerangkan semua detail perang-perangan khas film Marvel. Ya gitu-gitu aja lah.

Hal lain yang membuat saya senang, saya sih sebenare wez malas membahas efek-efek perang dll karena ya mung ngunu-ngunu thok, adalah Spiderman-Holland ini memberikan wacana baru tentang superhero. Sekali lagi, ini ya menurut saya. Bhaaa.

Maksude, kalau di Spiderman-Tobey, kerahasiaan identitas asli Spiderman adalah hal sakral. Tak boleh ada yang tahu, bahkan orang terdekat sekali pun. Karena apa? Kalau mereka tahu, mereka dalam bahaya. Bisa menjadi target musuh-musuh Spiderman.

Bandingkan dengan Spiderman-Holland. Di Film pertama, Ned, dekat Peter Parker, sudah mengetahui identitasnya. Di Far From Home, MJ, wanita pujaan Peter Parker, dengan mudah mengetahui identitas asli Spiderman.

Sebuah kereta yang melaju tanpa rem dan hendak menuju laut, tak terkontrol dengan banyak nyawa di dalamnya, itulah sebuah harga dari identitas Spiderman-Tobey. Sedang Spiderman terbaru ini, bhaaaa. Seorang teman yang sedang menunggu Peter di kamarnya, sambil bermain numpuk kartu, tersingkaplah identitas Spiderman. Ra eneng sakrale blaaazzz.

Tapi tenju saja, hal itu bisa menjadi beda dari bagaimana kesan dari setiap Spiderman dihadirkan. Dan tak perlu lah kita berdebat lebih dalam tentang hal itu.

Hal lain yamg saya rasakan adalah, karena saya merasakan ada beda serius vs lucu, Spiderman-Holland ini seakan-akan ingin membantah banyak hal dari Spiderman sebelumnya.

Contone yha, MJ itu di Spidermannya si Tobey Maguire, dicitrakan sebagai cewek wow yang punya cita-cita jadi pemain Broadway. Tipe barbie banget. Cewek feminin, dengan rambut blonde, yang kelihatan bego. Tapi cantik.

Lha MJ yang terbaru? Ha malah sama kikuknya dengan Peter. Sama tidak bisa bergaul. Tak ada aura-aura cantiknya, princess-nya. Benar-bemar berbeda. Kesamaannya hanya: Parker mencintainya.

Benerapa hal lain yang di’bantah’oleh Spiderman terbaru ini semisal: model ciuman. Tentu saya haqul yakin Anda masih ingat model ciuman flip-flap ala-ala Spiderman-MJ. Pada zamannya ini nge-hits banget. Setahu saya. Mungkin itu gambaran romantis saat itu. Bandingkan dengan ciuman Peter dan MJ di film terbaru, si Peter masih mengenakan seragam pahlawan tanpa mask,

MJ datang, mencium Peter, dan Peter kaget:

“You kissing me?”

Dimana romantisnya ituuu? Kata golongan tua. Bhaaa.

Lalu, MJ yang di Spideeman-Tobey cengengas-cengenges saat diajak berayun Spiderman, sok cantik, sok anggun, citranya kemudian diluluhlantakkan dengan scene New-MJ yang fobia ketinggian, maka hilanglah sudah keanggunan MJ. Ia pun histeris, berteriak saat diajak Spiderman berayun keliling kota. BHAAAA

Perubahan-perubahan seperti inilah yang sedikit demi sedikit membuat saya memahami, ‘kenapa itu banyak film superhero yang di-remake. Dibikin ulang?’ Ya karena setiap edisi Film menawarkan rasa-nya sendiri. Di luar positioning karakter diantara superhero lain, edisi terbaru bisa saja merupakan pembaharuan atau pe-nasakh-an dari film sebelumnya.

Maka, yang bisa saya lakukan adalah mencari cemilan, membuka laptop dan mengakses situs streaming, sambil merasa menjadi anak milenial yang menikmati Spiderman sebagai representasi dari diri mereka. Kapan lagi kita bisa menikmati Spiderman yang berayun sambil selfie, kalau tidak sekarang?

Hahahaha. Ntut.

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment