Beberapa orang sewot dengan saya.
“Kowe ki isine mung Jogja wae. Mbok move on ngono lho”
Jogja memang memberikan kesan yang mendalam dalan diri saya. Sebagaimana Blokagung, tempat kelahiran saya, tentunya.
Salah satu hal yang tidak bisa saya lupakan dari Jogja adalah Sotonya.
Saat terakhir kali saya ke Jogja beberapa waktu yang lalu, saya mampir dan menginap di rumag teman saya di daerah Candi Sambisari. Saya datang subuh-subuh. Tak lama kemudian, setelah ramah tamah singkat ala-ala teman lama, akhirnya teman saya mengajak sarapan Soto yang jaraknya lima menitan jalan.
Rasa lapar dan suasana tempat makan yang enak membuat saya makan lahap, habis banyak.
Sambil makan, saya kemudian menghubungi teman lain yang kebetulan juga sedang di Jogja. Di sela-sela urusan saya, rencananya kami juga mau mit-ap ala-ala.
“Mengko awan wae kita maem, mengko tak sher-lok” kata teman saya.
“Wokeh” jawab saya.
Akhirnya, setelah menyelesaikan beberapa hal di sekitaran Jokteng wetan dan Krapyak, saya kemudian wa-nan dengan teman saya. Akhirnya dia sher-lok. Wijilan. Saya pun cus langsung ke sana dari Jokteng wetan, memang dekat juga si.
Saat saya datang, saya tak menyana bahwa dia sedang makan. Dan makan Soto. Akhirnya saya menemuinya. Karena sudah siang, saya ikut makan pula. Dan, saya akhirnya makan soto pula. Tak apa, sehari makan soto dua kali di kota Gudeg adalah pengalaman baru bagi saya.
Sambil makan soto, kami ngobrol ngalor-ngidul, tentang proyek penelitian yang dia ikuti, tentang kerjaan saya, dan tak lupa tentang beberapa teman lain yang kebetulan juga lagi ada di Jogja. Setelah sat set wa-nan, akhirnya kami juga berencana mit-ap malam harinya. Deal.
Setelah itu, saya tiba-tiba teringat teman KKN yang juga sudah lama tidak bertemu. Di mudik tahun ini, saya berkesempatan singgah di Jogja sebelum pulang ke Banyuwangi, dan waktu itu saya terlupa dengan teman satu ini.
Mumpung ingat, saya kemudian age-age wa dia.
“Wah, Njogja, Cak?” Tanya dia
“Iya. Sesok sibuk, ra?” Tanya saya
“Ora kayane. Sampean manggen ngendi?”
“Aku neng Sambisari, cedak Candi. Gene kancaku” terang saya.
Akhirnya dia menawarkan mit-ap esok pagi hari sambil sarapan.
“Wah, cocok. Sesok ketemu mbi sarapan soto wae, ya.” usul dia.
“Wokeh” jawab saya singkat.
Saya menjawab itu sebenarnya sambil menahan tawa. Bagaimana bisa, saya diharuskan makan Soto terus selama dua hari saya di Jogja. Ha bukane Jogja ki Gudeg, Gudeg ki Jogja? Ha mbuh.
Saya kemudian hanya bisa menikmatinya saja, sambil teringat kenangan saya tentang Jogja dan Soto.
Di tahun 2016 awal, saya berkesempatan menemani Chenunk, kakak sepupu istri saya, yang sedang liburan dan hendak periksa gigi di Jogja. Sebelum balik ke Palangkaraya, tempatnya bekerja, dia mengajak saya untuk makan. Saya yang tak mau repot mencari tempat makan, menyarankan sebuah warung soto di dekat kontrakan. Dia pun setuju. Saya menyarankan tempat itu karena saya pernah sekali makan bareng istri, yang kepingin mencoba karena tempat itu selalu ramai.
Akhirnya, saya dan Chenunk makan dan setelahnya dia pulang ke Palangkaraya.
Beberapa hari kemudian, saat saya sedang duduk-duduk di depan kontrakan, pusing dengan tesis yang tak kunjung selesai, Chenunk tiba-tiba mengirim wa. Beserta sebuah link berita, tentang warung Soto tempat kami makan.
Ini berita yang dia kirimkan waktu itu:

Setelah membaca berita itu, mumet saya kian bertambah dan saya cuma bisa misuh.
Bhajingaaaan.
Ps. Tentu saja warung soto yang ‘nakal’ begitu cuma oknum saja, dan kalau ketahuan sudah pasti ditertibkan. Seperti warung ‘itu’, yang kemudian tutup dan dijauhi pelanggan.
Blokagung, 2 Agustus 2019. 20.15
Leave a comment