Saya tak mengira bahwa tulisan tentang mengajar anak SD ini bisa sampai tulisan ke empat. Saya sungguh tak mengira. Dan dari sini saya menyadari bahwa sebenarnya saya tak mengajar. Sayalah yang sejatinya mendapatkan pelajaran. Sayalah pembelajarnya.
Seperti halnya malam ini. Anak yang belajar bersama di rumah bertambah lagi. Dua anak kembar, yang setahu saya orangtuanya adalah penjual kayu. Ibu mereka tiba-tiba saja berhenti, lalu bertanya:
“Ngelesi arek sd pisan, mas?”
“Iya” jawab saya singkat
Lalu ibu itu mengutarakan keinginannya agar kedua anaknya juga ikut belajar. Dan saya pun mengiyakannya. Saat itu juga, si Ibu langsung menghidupkan motornya, putar balik. Pulang. Tak lama, dua anaknya sudah bersamanya. Uluk salam sebentar kemudian nimbrung belajar.

Yang kemudian agak sedikit mengganggu saya adalah, ternyata dua anak ini belum bisa langsung blending dengan teman yang lain. Ritme dua anak ini berbeda dengan anak-anak lain yang sudah belajar duluan, dari pengamatan awal si keduanya lebih selow dan suka bercanda.
Dari proses blending yang agak canggung di awal ini saya kemudian teringat dengan anak saya sendiri. Si Sulung, sampai detik ini belum bisa blending dengan teman-teman yang belajar di rumah. Saat mereka semua belajar, dia hanya mondar-mandir saja. Sudah pernah saya ajak untuk belajar bersama, tapi nihil. Dia tak mau. Saya pun kemudian tak memaksa.
Sebenarnya, dua hal yang menjadi titik awal saya menerima permintaan ibu-ibu anak-anak yang belajar di rumah. Pertama, saya masih memiliki surplus hutang bisyaroh dari beberapa kali menemani belajar anak sd. Dan sekarang lah saya harus membayar surplus itu. Kedua, ada semacam harapan dari kami berdua, saya dan istri, agar setidaknya jika ada teman-teman yang belajar di rumah, si Sulung bisa kesababan atmosfir belajar. Lalu bisa menjadi pengganti waktu-waktu sekolah yang dia habiskan mondar-mandir saja.
Nyatanya, si Sulung juga tak bisa blending. Tetap saja main walau banyak anak yang belajar di rumah.
Melihat hal ini, saya dan istri kemudian memutuskan bahwa treatment buatnya adalah dengan meluangkan waktu khusus. Dan tentu saja ini tak mudah. Selain perlu waktu khusus juga perlu ketlatenan. Belum lagi ditambah dengan ke-ajeg-an yang juga sangat penting.
Dan hal ini sulit puoool.
Maka, di kesempatan-kesempatan proses belajar bersama si Sulung, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja rasa senang datang. Kesempatan itu menjelma menjadi hal yang menyenangkan.

Melihat dia begitu kesusahan mengeja, mencoba membedakan dengan susah payah antara ‘b’ dan ‘d’, lalu kemudian dapat mengeja satu suku kata dengan komposisi konsonan-vokal, jaan nyuenengke.
Saat rasa senang itu datang, saya lupa kalau dia adalah bocah yang seringkali berkeliaran saat di sekolah. Memilih diam saja, atau pergi sekalian ketimbang mengikuti kelas. Saya lupa kalau dia adalah anak yang dikomen ibu-ibu se-walimurid-an saya:
“Maaas, anake sampean munyeeer ae. Ra gelem senam, ra gelem ngaji, ra gelem mlebu kelas”
Dan kemudian, tak ada hal lain yang bisa saya ungkapkan selain rasa syukur. Tak ada.
Blokagung, 5 Agustus 2019. 20.42
Leave a comment