Berhenti sejenak dari urusan kantor yang seringkali njancuki, enaknya memang ngomongin sepakbola wae.

Seperti yang sudah Anda tahu, (kalau Anda Fans Liga Enggres, pasti sudah tahu) Liga Primer sudah dimulai pekan ini. Itu artinya, di sela-sela rutinitas njelehi, akan ada oase yang bisa jadi pelarian di setiap akhir pekan.

Dan kalau ngomongin Liga Primer, maka untuk konteks sekarang yang kelihatannya enak untuk diomongin adalah persaingan Liverpool dan City. Dan anyway, saya penggemar Liverpool. Kapan-kapan saya akan cerita tentang perkenalan saya dengan Liverpool, atau mungkin sepakbola secara umum. Tidak sekarang.

Pekan pertama Liga primer ini dibuka dengan pertandingan Liv-pool vs Norwich, yang dimenangkan liv-pool 1-4. Sementara, saingan mereka, juara musim lalu, City berhadapan dengan WestHam sehari setelahnya. Dan City melumat Westham 5 gol tak berbalas.

Dari pekan pertama, terutama dua pertandingan ini, yang kemudian muncul di benak saya adalah; persaingan dimulai dari detik pertama!

Persaingan juara musim lalu memang begitu intens dan terjadi saling kejar-mengejar angka. Di akhir, kita ketahui bersama, margin 1 poin saja lah yang menjadi pembeda, dan tidak main-main; poin Liverpool bahkan memecahkan rekor perolehan poin klub.

Walaupun kemudian City ditetapkan sebagai juara, lalu musim berganti dan mulai dari nol lagi, tapi aura persaingan di titik akhir musim lalu masih sangat terlihat dan terbawa di musim ini. Lihat saja hasil pertandingan keduanya yang terkesan saling show-off dan kejar-kejaran margin gol.

Aura persaingan keduanya juga bisa kita lihat di pertandingan Community shield seminggu sebelum pekan pertama bergulir, yang juga mempertemukan City dan Liv-pool. Persaingan kedua klub begitu ketat, pada pertandingan itu akhirnya Liv-pool harus mengakui kekalahannya; dari adu tos-tosan penalti. Begitu sengit, saling mengimbangi, dan ditentukan dari hal minor saja. Penalti.

Melihat hasil di Community shield, sebagai penggemar Liv-pool saya tidak meragukan ambisi Klopp dalam merengkuh gelar. Tiga kali final dalam tiga tahun kampanye terakhir saya rasa sudah membuktikan hal itu. Tapi, ada sedikit kekhawatiran karena Dia tidak melakukan pembelian yang ‘besar’ di jeda musim ini. Hal ini semakin njelehi lagi, jika melihat aktifitas transfer dari City maupun klub lawan lain.

Dengan mendatangkan si bek muda Belanda: Sepp, lalu Harvey Elliot yang juga pemain muda, dan terakhir di detik-detik akhir Adrian, kiper, mantan punggawa Westham menjadi rekrutan terakhir pengganti Mignolet yang pindah klub, Liv-pool kelihatan tidak ambisius. Bandingkan dengan usaha City dalam pasar transfer pemain: Rodri yang didatangkan dari Atleti, Angelino bek kiri, Joao cancelo yang didapatkan dengan cara swap pemain dengan Juventus, dan terakhir adalah Scott Carson, yang mantan kiper Liv-pool juga, yang datang dg status pinjaman.

Kalau kita melihat transfer Liv-pool, maka tidak heran kalau akan muncul prasangka bahwa klub tidak ambisius. Apalagi jika melihat pemain-pemain yang pergir; Stu, Moreno, dan Mig. Mereka semua, walau bukan starting IX, tapi adalah pelapis pertama. Melihat penggantinya yang terlalu muda, maka dipastikan transfer yang dilakukan bukanlah ditujukan sebagai pengganti pemain-pemain tersebut. Kecuali Adrian, yang direkrut memang sebagai pengganti Mig yang memang membutuhkan menit bermain.

Hal ini tidak terjadi di City. Rodri misalnya, kita sudah bisa melihat bagaimana pengaruhnya di lini tengah City saat Community shield kemarin. Dari situ kita bisa melihat perbedaan pandangan tentang tujuan transfer City dan Liv-pool.

Tapi tentu saja, hal ini kemudian dijelaskan Klopp. Menjawab ini, Klopp kemudian memberikan gambaran bahwa: kembalinya pemain-pemain yang di musim lalu cidera; Chambo, Lallana, Gomez adalah merupakan sebuah hal penting juga. Ditambah dengan kemampuan mengikat pemain bintang, lihat saja Bobby, Mo, Mane, tak ada satu pun dari mereka yang mengisyaratkan keinginan meninggalkan klub. Dan ini, menurut klopp, adalah bentuk lain dari ‘transfer‘.

Semua ini pangkalnya memang ‘kedalaman squad’. Dengan 5 kompetisi di musim ini, Liv-pool memang harus punya squad yang dalam, dan berimbang. Hal ini juga yg disadari oleh City, sekali-kali tengoklah daftar pemain City dan simulasikan starting IX yang mungkin dibentuk. Dan, saya pastikan kata ‘wow’ yang akan muncul dari mulut Anda. Dan dari sini lah, dari kedalam squad ini, kita bisa melihat ukuran ambisi sebuah klub.

Saya juga minta maaf untuk tim lain, saya dari tadi hanya mengisyaratkan bahwa persaingan hanya milik Lv-pool dan City saja. Karena, ya dari aktifitas transfer, hanya Arsenal yang menurut saya bagus (lumayan boros). Chelsea, masih terkena pelarangan transfer dan kehilangan Hazard + Luiz ditambah dengan transisi manager baru. MU memang mencoba menambal sisi belakang mereka dengan membeli Mcguire dari Leicester, tapi mereka kehilangan Lukaku dan gagal memboyong Dybala. Mereka memang memiliki budaya 4 besar, tapi untuk musim ini saya rasa Liv-pool dan City lah yang terdepan.

Ini semua hanya ocehan receh saja, ndak njalur dan melebar kemana-mana. Tapi, ya memang begitulah Bola. Selalu menyenangkan untuk ditonton, dimainkan, maupun digosipkan. Yang pasti, semua usaha akan terlihat hasilnya di akhir musim nanti. Tentu saja, sebagai penggemar Liv-pool saya optimiatis, musim ini adalah musim kami. Kalaupun tidak, ya seperti biasa “masih ada musim depan”.

🤣🤣

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment