Setiap Agustus, setidaknya dua tahun terakhir ini, sekolah si Sulung selalu mengikuti acara karnaval baik di tingkat desa maupun kecamatan. Dan seperti tingkahnya saat kbm setiap hari, saat karnaval pun tetap sama. Tidak antusias.Di karnaval tahun ini di tingkat desa, sekolah si Sulung memutuskan untuk mengambil tema suku primitif. Seragam sudah mereka siapkan, siswa tinggal pakai saja. Untuk siswa cowok, hany perlu tambahan make up minor, plus tambahan corat-coret hitam. Simple.Tapi, tentu saja hal yang simple itu jadi tidak simple-simple amir. Drama-drama kecil mulai terjadi. Saat waktu sudah mepet, si Sulung selesai mandi, dan waktunya rias tipis-tipis. Dia menolak.”Aku gak mau macak. Aku kan bukan cewek”Akhirnya tidak jadi dirias. Sebagai ganti win-win, biar terasa karnaval, wajah si Sulung cuma diberi tanda hitam. Titik-titik di wajahnya. Done.

Sebelum berangkat ke tempat start, drama lain muncul. Si Sulung tak mau memakai seragam primitive. Gatal kata dia. Memang seragam itu terbuat dari bahan Goni yang nyelekit di kulit. Saya memahami itu, tapi tentu saja tidak lucu kalau nanti dia karnaval dan tidak pakai seragam. Setelah dibujuk terus, dan janji ditemani sepanjang perjalanan, akhirnya OK. lanjut ke titik start, dan karnaval.Drama juga tidak melulu datang dari si Sulung. Bundanya, juga ikutan ndrama tipis-tipis. Bundanya berharap, si Sulung mau mengikuti karnaval dengan total, seperti anak-anak yang lain. Antusias, mempersiapkan dengan penuh semangat, dan tentu saja ikut karnaval dengan riang gembira. Tapi, semua kan terjadi tidak selalu seperti harapan, Marimar! Dan tentu saja hal ini membuat si Bunda kecewa.Dan dari kecewa terbitlah drama, tapi tentu saja saya tidak bakal cerita, soalnya ini tentang si Bunda, saya cuman atut saja. Hiiii.Kalau respon saya terhadap drama-drama ini, saya cume tertawa. Saya juga bilang ke Bundanya si Sulung, jangan ndrama cuma gara-gara ruwet karnaval. Karena, kalau si Sulung tidak suka karnaval, (atau mungkin dia tidak suka acara-acara seremonial) maka yang mungkin perlu disalahkan adalah saya. Bhaaa. Karena semua itu adalah sifat saya. Plek. Persis. 🤣Saya tidak marah melihat kelakuan si Sulung karena memang seingat saya, saat sd saya hanya ingat ikut karnaval sekali saja. Saya harus macak Pak tani, dan saya entah kenapa juga tak suka. Setelahnya, saya tak pernah ikut. Gak tertaril blas. Bhaaa.Pengalaman itu setidaknya membuat saya lebih siap, lebih memahami tingkah si Sulung. Sikap males-an dia mengikuti acara-acara ini, saya pahami sebagai sebuah sifat yang berpindah secara alami. Secara estafet, dan saya merasa itu normal-normal saja.Maka, hari itu saya kemudian menemani dia mengikuti karnaval. Berjalan sambil ngobrol tentang apa-apa yang dia suka. Entah kenapa, hari itu saya sangat senang sekali. Menemaninya dan mendengarkan dia bercerita tentang game-game kesukaannya saya rasa telah menjadi nikmat yang saya lupakan. Dan saya bersyukur siang itu saya menyadarinya. Begitu, kira-kira.
Leave a comment