Di sebuah pagi, saya yang sedang sakit berbaring kemulan selimut di kamar. Dari dalam kamar saya bisa mendengar istri saya hectic memberi komando ke duo krucilnya.

“Diba, sini pakai pampers. Falah, itu badannya dibasahi dulu baru pakai sabun. Jangan lupa gosok gigi”

Saya mendengarkan perintah-perintah itu sambil merasakan si Diba mberangkang menaiki tubuh saya.

Tak lama berselang, istri saya mengikuti si Diba ke dalam kamar. Tanpa ba bi bu, ia kemudian menggendongnya.

“Pakai pampers dulu” ucapnya pada si Diba.

Setelah menghilang dari kamar, masih saya dengar perintah-perintahnya, lalu sayup-sayup saya mendengar kata “Ayah”. Wah, saya mulai jadi terperintah juga nih. Pikir saya.

Saya kemudian mendengarkan lebih seksama. Benar juga, saya yang sedang didawuhi.

“Ayah, ini si Diba sudah cantik. Tak kasihkan ke Zulfa”

Ok, batin saya.

“Mas Falah masih mandi, nanti semua dipersiapkan. Jangan lupa dipakein kaos dalam. Diseragamin

Ok lagi, batin saya.

Saya yang sedang menggigil, tenggorokan radang, hidung bumpet, memilih jalan aman saja. Tak komen apa-apa. Kalaupun jawab OK, ya di dalam hati saja. Karena, anak yang belum ‘beres’ persiapannya, cucian piring yang menumpuk nggunung di wastafel, juga jangan tewel pemberian teman dekat yang mblendrang dan tidak habis-habis yang perlu dipanaskan setiap pagi, adalah akumulasi faktor-faktor yang bisa membangunkan esmosi. Dan saya tidak mau ada esmosi di pagi saya yang nggregesi ini.

Karena mungkin saya diam saja, istri saya kemudian mendatangi saya lagi.

“Yah, aja lali, Falah diseragami. Aku mangkat. Wes setengah pitu iki.”

Akhirnya saya membuka omongan,

Endi seragame?”

Dengan sekonyong-konyong istri saya balik badan dan mencari seragam sekolah Falah. Setelah ketemu,

“Ini” katanya sambil menaruh seragam di kasur, di dekat saya yang sedang tiduran. Istri saya balik badan dan hendak melanjutkan ritual hectic paginya.

Saat itu lah, tiba-tiba saya teringat,

“Nda, lha iki dina apa tho?” Tanya saya.

Saya menunggu jawaban agak lama. Hening, lalu istri saya menjawab,

“Ya Allah, iki mau kan Minggu ya.

Lalu saya tertawa, di dalam tawa dan perayaan atas kesadaran istri saya tentang kelupaannya, saya menyadari bahwa yang lupa bukan hanya dia, saya juga. Cuma saya ingat duluan saja.

Bhaa.

Minggu, 18 – 8 – 2019

Blokagung.

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment