Saya kali ini mencoba menulis pengamatan saya atas pertandingan Liverpool, baik di laga final Super Eropa dan juga laga melawan Arsenal. Memang kedua laga tersebut sudah berlangsung agak lama, tapi bijimana lagi? Saya baru bisa menuliskannya saat ini. Jadi, ya saya tulis saja.

Sebagai penggemar Liverpool saya tentu saja senang karena pertama Liverpool juara Super eropa dan kedua Liverpool bisa mengalahkan Arsenal dan menjadi pemuncak klasmen sementara Liga inggris dengan 3 kali kemenangan, satu-satunya tim yang selalu menang di tiga laga awal. Tentu saja hal ini merupakan awal yang baik, dan pertanda optimisme menjuarai Liga. Walaupun jika nanti hasil berkata lain, kan masih ada “tahun depan”.

Tapi, yang ingin saya bicarakan sebenarmya adalah beberapa hal yang melintas di benak saya kemarin.

Pertama, secara taktik Liverpool punya dua wingback yang impresif dalam hal menyerang, Arnold dan Robbo. Liverpool di era Kloop memang mengandalkan lebar lapangan dengan kedua wingback itu untuk merangsek ke depan. Dan menghadirkan banyak umpan ke kotak penalti.

Arnold saja, saat melawan Arsenal bisa menghadirkan 13 umpan silang ke kotak pinalti dan sudah menghadirkan 9 assist di 10 pertandingan terakhir. Hal ini menjadi bukti sahih bagaimana sisi lebar lapangan memang betul-betul dimanfaatkan Liverpool.

Tentu saja hal ini, naluri menyerang yang diperlihatkan kedua wingback Liverpool, membawa dua konsekwensi penting. Pertama, posisi mereka menjadi kosong dan dapat menjadi titik lemah yang bisa dimanfaatkan lawan lewat umpan lambung. Terlebih lagi, Liverpool menerapkan garis pertahanan tinggi, kekosongan di dua sisi wingback itu adalah sebuah pilihan beresiko.

Maka, untuk mengatasi kekosongan di wingback ini Kloop menginstruksikan dua midfielder nya untuk mengisi kekosongan itu. Saat Anda menonton pertandingan Liverpool, silakan cek. Saat Arnold merangsek ke depan, entah Wijnaldum atau Hendo, akan segera mengisi kekosongan itu. Sehingga ketiadaan mereka akan tercover.

Model pertahanan seperti ini, pemain dengan posisi tertentu mengisi posisi yang kosong, sudah jamak dilakukan. Guardiola memperkenalkan istilah inverted wingback, yang mengisi posisi midfielder yang merangsek ke depan. Dua midfielder mereka merangsek ke depan ketika dua penyerang sayap mereka memanfaatkan lebar lapangan, sehingga ada ruang diantara penyerang sayap dengan Center back.

Jadi, wingback Liverpool itu kemudian menjadi sayap-sayap yang siap mengirimkan umpan manja ke tiga penyerang yang bersiap di kotak penalti.

Kedua, hal yang juga terlintas di benak saya adalah perihal perempuan di lapangan sebagai pengadil pertandingan. Pada pertandingan Liverpool vs Chelsea di final piala super eropa, Stephanie Frappart seorang wasit perempuan berusia 35 tahun asal Perancis menjadi pengadil pertama di gelaran Final super eropa tersebut. Dia ditemani dua hakim garis; Manuela nicolosi dan Michelle O’neal yang keduanya berasal dari Republik Irlandia.

Sepakbola memang olahraga yang dilakukan laki-laki, tetapi kehadiran perempuan juga sudah tidak hanya sebatas sebagai penonton atau isu-isu seputar WAGs saja. Tapi, kemudian juga perempuan mengambil peran lebih, menjadi pemain bahkan menjadi pengadil lapangan. Di Liga Inggris misalnya, nama Sian Massey Ellis menjadi nama yang sudah tidak asing lagi. Dia memulai menjadi hakim garis saat laga Blackpool vs Sunderland tahun 2010 dan kemudian menjadi wajah yang sering menghiasi pertandingan-pertandingan di Liga Inggris.

Seperto di Inggris, Bundesliga pun juga sudah memiliki sosok pengadil perempuan. Sosok itu adalah Bibiana Stein yang menjadi pengadil pada pertandingan Hertha Berlin vs Wender Bremen tahum 2017 lalu. Perempuan sebagai pengadil tidak hanya terjadi di Eropa saja, di Asia pengadil perempuan Yoshimi Yamashita menjadi pemimpin laga piala AFC antara Yangon utd vs Naga World.

Hal ini, keikutsertaan perempuan dalam pertandingan sepakbola, tentu saja menggembirakan karena masayarakat sepakbola yang laki-laki semua itu kemudian mencoba membuka diri. Implikasinya menurut saya, tentu saja harapan juga, bahwa sepakbola akan memiliki kesan yang lebih enak. Sedari dulu, sepakbola diidentikkan dengan maskulinitas, hooliganisme, bentrok suporter (yg ini masih terjadi di megeri +62 yg m3mbuat saya malas nonton liga nya) dan kerusuhan-kerusuhan lain. Kehadiran perempuan diharapkan bisa menghilangkan kesan itu.

Dan langkah UEFA untuk menjadikan pengadil perempuan sebagai pemimpin laga final Super Eropa saya rasa patut untuk dilanjutkan. Dan kita bisa bersatu, bersama-sama menikamati sepakbola. Dan siapa tahi, eh tahu juga, orang-orang negeri +62 bisa meniru dinamika seperti ini, biar tidak bentrok melulu.

Wes balbalane kalahan, suportere tukaran wae. Ra mutu!

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment