1
Saya tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa menulis bisa mempengaruhi orang lain. Atau setidaknya membuat pembaca memiliki hal untuk dipikirkan. Sesuatu yang mengganjal di pikiran mereka yang kemudian bisa jadi hal itu mempengaruhi hidup mereka. Saya benar-benar tidak mengharapkan hal ini karena seperti yang saya pahami, menulis adalah sebuah pelarian bagi saya. Sebuah ruang dimana saya tidak ingat-ingat amir dengan berbagai rutinitas njelehi, target-target kerja yang terbengkalai, dan bahkan hutang-hutang yang berlari menuju tanggal jatuh tempo.
Mengenai alasan saya menulis ini, saya benar-benar what the hell dengan pendapat orang, karena kahanan nya memang begini. Luweh.

Indikasi-indikasi tentang penerimaan tulisan ra mutu di blog ini datang dari teman-teman dalam lingkaran terdekat saya. Setidaknya dari orang-orang yang tahu nomer wa saya, facebook, twiter dan Instagram saya. Karena dari situ lah saya mempromokan curhatan ra mutu di blog ini.

Dari pesan-pesan seperti ini lah saya jadi tahu kalau tulisan abal-abal pun ada yang mau baca. Dan tentu saja saya juga bersyukur dengan hal ini, dan kemudian mencoba menulis dengan lebih baik lagi, lebih memperkaya referensi bacaan dan tidak lupa pula dengan memperhatikan jenis tulisan kesukaan pembaca.
Lha, saat mencoba melihat tulisan yang paling diminati pembaca ini, saya melihat suatu hal yang nyenengke. Suatu hal yang cukup mengagetkan saya.

Dari semua tulisan, tulisan ‘Standar Bahagia’ yang menceritakan dinamika kehidupan rumah tangga saya, menempati peringkat teratas. Hal ini lalu membawa kecurigaan buat saya. Tema pernikahan, dan semua permasalahannya memang memiliki daya tarik tersendiri. Setidaknya, di lingkaran pertemanan saya. Baik yang masih jomblo maupun yang sudah menikah.
2
Yang tidak pernah terpikirkan, mungkin, bagi sebagian jomblo adalah menikah itu tidak mudah. Dengan tekanan yang besar dari lingkungan untuk segera menikah biasanya membuat Jomblo tidak memperhatikan hal ini. Selain itu, menikah memang identik dengan yang enak-enak. Gitu-gitu an tok. Dan saya pastikan itu mbelghedes semua.
Saat saya pertama menikah, masalah ekonomi dan hubungan interpersonal tiba-tiba menjadi sesuatu yang selalu menghantui saya. Belum lagi, tak lama kemudian anak pertama hadir. Implikasi kehadirannya jelas ngefek seketika itu juga. Selain ekonomi, kesiapsediaan emosi juga ternyata bisa bikin pusing.
Belum lagi kalau si anak tiba-tiba terserang sakit. Jan, kita bisa gedandapan gak karuan. Pernah saya harus menggedor-gedor pintu rumah bidan tetangga saya sambil membopong si Sulung yang kejang. Dia demam tinggi malam itu, saya dan istri tidak menyangka dia bisa kejang karena demam tinggi. Panik, cemas. Tak karuan.
Jadi, permasalahan nikah itu tidak segampang yang dikira, tetapi juga tidak melulu berisi permasalahan. Tengah-tengah. Permasalahan dan kenikmatan bisa saling berpilin dan menciptakan perpindahan-perpindahan suasana yang mengaduk-aduk emosi sekaligus nagih-i.
Dari sini, yang mungkin bisa saya sarankan untuk para Jomblowan adalah dengan tidak berfokus pada satu hal tentang pernikahan, misal hanya fokus pada hal yang menyenangkan saja. Atau sebaliknya, hanya melihat permasalahan dari pernikahan, bisa gak mau nikah nanti.

Hal yang kiranya perlu Jomblo perhatikan adalah pemahaman lebih tentang bagaimana pernikahan itu, dan juga usaha untuk mempersiapkannya.
Dan hal ini adalah kecolongan saya dahulu kala, karena saya tidak pernah memikirkan hal ini. Asal trabas saja. Jadi saat sudah menikah, banyak sekali jebakan batman yang tidak pernah saya prediksi sebelumnya.
Dan hal ini menjadi salah satu penyesalan saya.
“Ngopo mbiyen kok ra gelem gayane sinau masalah ngene ki”
Tambah nyesek lagi saat teman saya, ternyata, menulis buku “Santri Nikah, Jomblo Punah”. Laaah, kok ra ket mbiyen-mbiyen si.
Setelah saya membaca buku ini, saya cuma bilang: “haisy lha meh kabeh wes dibahas, ig”
Anifa Hambali, penulisnya, sudah relatif jangkep melihat fenomena pernikahan. Tentu saja dari perspektif dia yang belum menikah. Tapi, saya juga heran; kok bisa mbahas ginian, wong nikah saja belum. Bisa bagus lagi. Kan wasyem banget.
Di awal, saya sudah bisa sedikit membedakan jenis-jenis jomblo, niat dan hukum-hukum menikah. Lalu bagaimana berhadapan dengan masa lalu, move on dan membuka lembaran kehidupan dengan sosok baru.
Setelah mengawali dengan jenis jomblo dan hukum menikah, pembaca diajak merenung dengan hal-hal yang relatif lebih kompleks. Semisal, pertentangan antara pacaran dan menikah. Sebagai pembaca, mau tidak mau mereka harus berpikir tentang dua pilihan ini.
Lalu, keresahan sebagian orang juga berusaha diutarakan penulis. Tentang Berkarya dan hambatan-hambatannya saat seseorang tergantung dengan orang lain (pasangannya). Me-manage hati yang patah karena suatu hubungan dan kemudian harus bangkit kembali, hingga peneguhan identitas santri yang tidak boleh minder dalam tulisan “santri menantu idaman?”.
Semua lini per-Jombloan dalam konteks santri berupaya disajikan oleh Anifa Hambali, dan dari sini lah saya bisa mengatakan bahwa buku ini relatif jangkep. Terlebih lagi ditambah gaya bercerita yang ringan dan menyenangkan. Semua serasa menjadi paduan pas bagi pembaca.
Sekali lagi, dengan bahasa anak muda, Anifa Hambali mencoba melihat pernikahan, yang menurut saya masalah yang gak gemen-gemen, serius, menjadi masalah yang boleh saja dicerna oleh anak muda. Simple, renyah.
Misalnya saja, tulisan berjudul ‘Semua ingin Menikah’ yang di dalam Anifa Hambali menggambarkan peleburan dua individu yang dia gambarkan dengan peleburan ‘aku’ menjadi ‘kita’. Yang kemudian peleburan itu berimplikasi ke setiap lini pernikahan.
Hal ini adalah hal berat. Tidak gemen-gemen. Merendahkan diri adalah tidak mudah, sedangakan hal itu adalah prasyarat utama dalam proses peleburan itu sendiri. Jika prasyarat ini tidak terpenuhi, maka jangan pernah berharap ‘aku’ itu akan melebur menjadi ‘kita’, tak akan pernah terjadi. Dan gesekan-gesekan akan selalu terjadi, setiap hari. Menyeramkan sekali!
Tetapi, dengan riang, simpel, Anifa Hambali bisa bercerita tentang peleburan ini, bagaimana ‘aku’ bisa dengan santai menjadi ‘kita’, lalu ‘kita’ merencanakan usaha-usaha untuk membangun kebersamaan yang menumbuhkan masing-masing ‘aku’. Di dalam pernikahan yang tumbuh, dan memperkaya.
Dan semua tentang pernikahan ini memang perlu dipersiapkan dengan baik, Seperti kata Anifa:
“Menikah membutuhkan kesiapan mental yang lebih utama untuk menghadapi kehidupan baru yang tidak lagi sendiri, tetapi bersama”.

Leave a comment