Saya sebenarnya sudah mencoba untuk menulis seputar kkn desa penari, sebuah cerita yang viral akhir-akhir ini. Dan kesemua usaha saya gagal. Tak jadi tulisan, hanya rasa mengganjal yang aneh dan tidak mengenakkan. Seperti saat jatuh tempo hutang datang dan saya belum punya uang. Mengganjal dan nyebahi.

Usaha pertama dipicu persuasi Sony, staff fakultas keguruan IAIDA, yang tiba-tiba menemui saya dan ngomong seenaknya;

Ndang mbahas kkn desa penari neng linguispekok, Pak. Kan lagi viral” semprotnya

Saya yang sedang mumet gawean langsung saja buka aplikasi wordpress. Saya ketik judul lalu mulai merangkai paragraf. Beberapa paragraf yang sudah tersusun saya sodorkan ke Sony.

“Weeh,,” ujarnya.

Lalu dia pergi kembali ke ruangannya. Saya kemudian melanjutkan menulis. Tak lama kemudian hape saya berdering. Saya lupa saat itu entah WA atau telpon, tapi saya, yang memang sedang mengurus beberapa hal, secara reflek meladeni bunyi dering itu. Entah kenapa saya kemudian lupa dengan draft tulisan itu. Biasanya saat saya keluar langsung dari aplikasi wordpress, tulisan masih secara otomatis tersimpan. Jadi draft. Saya biasanya kemudian melanjutkan proses menulis yang terjeda. Tapi, untuk tulisan kkn desa penari ini tidak seperti itu. Draft saya hilang, saya musykil. Hilang mood dan ditambah harus bekerja. Hilang sudah tulisan itu.

Usaha kedua, saya lakukan keesokan harinya. Setelah merasa tidak enak juga karena tulisan tidak terselesaikan, saya mencoba menulis lagi. Kali ini saya mencoba melihat bagaimana teman-teman saya menikmati tentang tulisan yang sedang viral itu. Menurut utak-utek di kepala saya, hal ini menarik untuk dikulik.

Menarik karena teman-teman saya begitu menikmati membaca cerita ini. Hal ini bisa saya simpulkan dari perilaku mereka yang membagikan link ceritanya di berbagai platform media sosial yang saya ikuti. Fb, IG, twiter, bahkan WAG. Tidak sampai di situ, setelah mereka membagikan linknya, diskusi kemudian mereka hidupkan. Karena cerita ini diembel-embeli ‘based on true story‘ banyak teman yang mencoba mencari-cari fakta sebenarnya dari cerita itu. Yang paling mereka incar untuk diungkap adalah fakta seputar latar tempat kejadian. Kalau Anda membaca cerita kkn desa penari, maka anda akan memahami mengapa teman-teman saya, yang ada di Banyuwangi itu, merasa perlu mencari keberadaan tempat-tempat yang ada di cerita. Karena, menurut mereka tempat itu ada di Banyuwangi. Begitu dekat dengan mereka.

Tidak seperti diskusi biasanya yang cenderung slengekan dan tidak bermutu, diskusi tentang latar tempat ini malah menjurus serius. Tersusun, sok logis dan saling berbalas. Seru. Hal ini yang semakin meyakinkan saya untuk menuliskan hal ini, menarik pikir saya.

Dan hal ini pun sudah saya tulis, beberpa paragraf. Entah kenapa kemudian saya mengalami writer’s block. Wasyu tenin. Padahal ini kan kesempatan bagus untuk ndompleng ke-viral-an cerita kkn desa penari. Dengan membahasnya, siapa tahu blog entut ini juga ikut terkatrol, gak usah lah berharap ikutan sampai viral, ya minimal tambah pembaca lah. Tapi, apa mau dikata. Tulisan tetap tidak terselesaikan. Dan Akhirnya saya memilih untuk tidak melanjutkan tulisan tersebut. SEKALI LAGI, Tulisan tentang cerita horor kkn desa penari itu gagal.

“Gagal maning, gagal maning, Son!”

Dan usaha yang terakhir saya lakukan tadi siang. Saya ngampus dengan ogah-ogahan, ada beberapa tugas yang belum selesai. Ada surat-menyurat suatu acara yang ketlingsut dan musti diselesaikan. Karena begitu tidak bergairah, saya mencoba menulis lagi. Tema; sama.

Untuk kesempatan ketiga ini, saya merasa perlu melihat tulisan itu dari sudut lain. Harapannya siapa tahi, eh tahu nanti saya bisa menuliskannya dengan lancar. Moncer. Maka, saya pun mencoba menghubungkan hal itu dengan suasana rapat yang saya ikuti kemarin hari.

Saya merasa tingkah laku teman-teman dalam menikmati cerita ini, yang bermacam-macam tingkatan itu, mulai dari menyukai selayaknya tulisan lain hingga menganggapnya sebagai sebuah fakta yang musti diungkap (ala-ala Robert Langdon πŸ˜‚πŸ€£) adalah disebabkan oleh isi pikiran mereka yang berbeda. Perbedaan ini pula yang kemudian saya rasakan mirip dengan apa yang dilakukan oleh peserta rapat yang saya ikuti.

Bagaimana dalam suasana rapat, apa yang kita pikirkan bisa saja berbeda, bahkan beroposisi dengan pikiran orang lain. Yang, tentu saja hal itu berimplikasi terhadap sikap masing-masing. Hitung-hitungan saya, hal ini menarik juga untuk ditulis. Kalau jadi! πŸ˜‚

Dan tak perlu Anda tanya nasib ide terakhir saya ini karena jawabannya adalah SAMA! Satu paragraf sudah mulai tertulis, seiring pertandingan Bola yang saya nikmati, tiba-tiba tulisan itu, dengan semua ide di kepala saya, menguap begitu saja. Hilang!

Akhirnya, saya pun pasrah. Ra nulis tentang kkn desa penari ya ben! Ra nggagas tulisan gak selesai. Ra nggagas Sony! Tapi, entah kenapa malam ini tadi, tiba-tiba saja saya pengen menulis. Karena belajar dari pengalaman sebelumnya yang gagal menulis tentang kkn desa penari, akhirnya saya cari topik lain.

“Nulis tentang liverpool saja” kata saya menasehati diri sendiri.

Saya kemudian berencana menulis tentang pertandingan Burnley vs Liverpool semalam, dengan tentu saja membuat prolog curhat tentang usaha menulis saya beberapa hari ini. Dan voila! Saya malah bisa menulis tentang kkn desa penari. Bhajilak!

Walau tidak membahasnya dengan ide-ide ndakik yang saya pikirkan sebelumnya, dan malah membahas kegagalan saya dalam usaha-usaha menceritakannya.

Tentu saja kejadian seperti ini harus diambil hikmahnya. Saya kemudian merenung dan satu hal yang saya petik adalah, saya masih pekok dalam hal tulis-menulis ini dan juga jangan dekat-dekat SONY si staff fakultas Tarbiyah itu karena terbukti ide tulisan dari dia selalu gagal.

Eh, lha kuwi dua hal. Uduk satu hal. Ncen pekok!” Tiba-tiba Saya terngiang suara Sony. Ntut, og!

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment