Sabtu (30/8) kemarin Liverpool bisa membantai Burnley 0.3 di turf Moor, markas klub Burnley. Dari pertandingan itu ada beberapa catatan yang menarik perhatian dan bolehlah kalau ditulis sebagai pembombong hati diri saya yang sebagai penggemar liverpool lebih sering kecewa, bersedih karena sudah lama puasa gelar. Klub “tahun depan” kata penggemar klub lain, php!

Drama pertandingan sudah dimulai sebelum peluit dibunyikan. Ashley Barns, seperti pengakuannya pada Lanc.live, sudah menebar ancaman untuk Big Virg yang sebelumnya memenangkan pemain terbaik eropa.
“You want to play against the best and come out on top. I have a good record against the top six so another goal would be lovely.”

Barnes dengan halus memperingatkan Liverpool tentang catatan apiknya saat bertemu the big six, 6 tim papan atas Liga Inggris. Tentu saja ini adalah tantangan terbuka bagi Big Virg sebagai punggawa lini belakang Liverpool. Terlebih lagi sematan pemain terbaik Liga Eropa baru saja ia raih. Maka tak ada hal lain yang harus dilakukan selain Pembuktian.

Tentu saja, ancaman Barns ini patut untuk dipertimbangkan. Diwaspadai. Dari tiga gelaran pembuka liga Inggris Barns sudah mengemas 4 gol. Hanya Teemu Pukki dari Norwich dan Raheem Sterling dari City saja yang memiliki jumlah gol lebih banyak.

Tapi tentu saja ancaman ini, alhamdulillah-nya, tidak terjadi. Walaupun selama 90 menit pertandingan Barns memberikan perlawanan sengit dengan duel fisik dan pace-nya, tapi dia tidak bisa mencetak gol. Liverpool pun mendapatkan cleansheet pertama musim ini. Sesuatu yang terkesan sulit saat Liveepool ditinggal Alisson Becker karena cidera.

Sebagai penggemar liverpool saya sudah tuwuk merasakan lelah kekalahan. Seperti halnya saat saya dulu mendukung Inter Milan, klub pertama yang saya tonton. Berbagai model kekalahan sudah pernah saya alami. Mulai dari kekalahan gol di masa akhir laga seperti duel MU vs Liverpool yang dicetak Rio Ferdinand hingga peritiwa epik terpelesetnya Gerrard saat melawan Chelsea, saat Liverpool hampir saja merengkuh gelar EPL. Tuwuk.

Dari momen-momen itu, kemudian banyak sekali perkembangan dan perbaikan yang kemudian dilakukan oleh Liverpool hingga laga terakhir di Turf Moor kemarin. Beberapa perubahan yang saya catat adalah perubahan manajemen dan pemilik hingga perubahan mentalitas klub.

Pemilik Liverpool saat ini sejauh ini memiliki visi yang jelas. Fenway Sport yang dimilik John W Henry mengakuisisi Liverpool dari Gillet & Hicks di tahun 2010. Perjalanan setelahnya adalah usaha-usaha, kalau boleh bilang, membangun kembali tim yang sudah babak belur.

Usaha-usaha itu bisa dilihat dari pencarian sosok pelatih yang tepat, yang diikuti dengan filosofi bermain, pemiliham taktik, dan kebijakan transfer klub. Di bawah Fenway Sport sudah ada empat manager yang membawahi Liverpool. Hodgson yang berada di masa transisi kepemilikan dipertahankan hingga awalm musim 2011 sebelum kemudian digantikan oleh Kenny Dalglish yang dihadirkan dengan upaya membangun kembali Tim.

Dengan torehan satu piala FA, King Kenny Impact dirasa kurang dan dengan persaingan sepakbola modern yang semakin dinamis baik secara filosofi dan taktik, maka Liveepool berusaha mendatangkan manager muda. Pilihannya kemudian jatuh pada sosok Brendan Rodger yang pada musim sebelumnya menukangi Swansea City dan menampilkan peemainan yang impresif. Harapannya, sosok muda ini kemudian bisa menghadirkan atmosfir baru dan memberikan banyak gelar untuk Liverpool.

Harapan hanya tinggal harapan. Rodgers nyatanya tidak mampu menghadirkan Tropi walau sudah ditunjang permainan impresif dari Suarez yang di bawah manajerialnya serasa mengangkat Liverpool seorang diri. Maka ketika di musim 14-15 dimulai dengan tanpa Suarez yang pindah ke Barcelona, Rodgers tak lagi memiliki gaco andalan. Tidak mengherankan jika di pertengahan musim berikutnya, tepatnya di Oktober 2015 Jurgen Klopp datang menggantikan posisinya. Dan saat di Turf Moor kemarin (30-8) Klopp berdiri di pinggir lapangan menemani kemenangan ke-13 secara beruntun di ajang Liga Inggris, dan ini adalah rekor klub saat ini.

Klopp adalah keputusan manajerial paling OK yang sudah dilakukan oleh Fenway Sport selaku pemilik Liverpool. Langkah-langkah Klopp sampai saat ini terbukti memberikan impact yang nyata bagi perkembangan liverpool.

Perubahan yang Klopp bawa setidaknya bisa kita lihat dari taktik, kebijakan transfer dan juga atmosfir ruang ganti yang biasanya diabaikan oleh penggemar abal-abal seperti saya.

Secara taktik, di awal kedatangannya Klopp mengatakan bahwa ia akan membawa sepakbola Heavy Metal. Betul saja, gegenpressing yang dia terapkan di Dortmund ia adopsi di Liverpool. Liverpool seketika menjelma menjadi klub dengan pemain yang tak berhenti berlari, mengejar bola dan menerapkan pressing tinggi. Pressing di daerah pertahanan lawan sejak awal bola digulirkan penjaga gawang.

Taktik ini kemudian membutuhkan stamina yang begitu banyak. Walau akhirnya Liverpool berada di dua final, FA dan UEFA CUP, tapi nyatanya kemudian tropi tidak mereka dapatkan. Begitu juga dengan teopi liga inggris. Selama itu pula, kebutuhan akan besarnya stamina ini kemudian menjadi kambing hitam kegagalan Liverpool. Trengginas di awal, melempem di akhir. Taktik ini kemudian diperbaiki Klopp dengan memperkenalkan semacam soft gegenpressing. Sehingga, nantinya Liverpool hanya melakukan gegenpressing di interval tertentu dan melakukan soft pressing, melakukan presing dengan menutup jalur umpan dari Bek menuju midfielder, sebagai jeda saat mereka kelelahan dan berupaya melakukan recovery.

Selain membawa filosofi baru, Klopp juga mencoba membenahi pertahanan Liverpool. Saat ditangani Rodgers, Liverpool memiliki kemampuan lini depan yang mumpuni, dengan mengandalkan trio Sturridge, Sterling dan Suarez yang mampu melesakkan 65 Gol di musim 2013-2014 dan mampu menempati peringkat kedua terpaut dua angka saja dari juara musim itu, City. Akan tetapi, torehan apik di lini gedor itu tidak diimbangi dengan kemampuan lini belakang yang bagus. Tercatat, selama gelaran musim 13-14 Liverpool kebobolan sebanyak 50 gol.

Hingga kini, di musim kelimanya Klopp sudah menyuguhkan transformasi lini belakang yang bagus, ditandai dengan perbaikan secara statistik yang begitu mencolok. Di musim 14-15 Liverpool memiliki rasio gol 55:40, di musim 15-16 menjadi 78:42, musim 16-17 84:38, musim 17-18 84:38, musim 18-19 89:22.

Rasio kemasukan gol Liverpool semakin mengecil, dan di musim lalu Liverpool hanya kebobolan 22 gol saja. Perbaikan di lini belakang ini dilakukan Klopp dengan mendatangkan pemain-pemain belakang yang berkarakter, Jol Matip didatangkan dengan gratis pada tahun 2016 dengan gratis dari Schalke. Di sektor kiri Robertson didatangkan dari Hull city dengan nilai transfer 9 juta. Matip kemudian menjadi tandem baik Sakho maupun Lovren yang kala itu seringkali bermain angin-anginan. Sedang Robbo didatangkan saat Klopp merasa Moreno tidak terlalu bagus untuk mengisi sisi kiri Liverpool. Semenjak John Arne Rise, Liverpool memang kesulitan menemukan wing back yang bagus baik menyerang mapun bertahan.

Kemudian, Klopp mendatangkan Vandijk dan Allison sebagai kepingan pelengkap lini belakang. Vandijk didatangkan dengan memecahkan rekor transfer pemain Belakang, Allison pun demikian; datang dengan memecahkan rekor transfer penjaga gawang. Walau kemudian kedua transfer ini dipatahkan oleh masing-masing Maguire dan Kepa. Kepingan ini lah yang kemudian membuat lini belakang Liverpool menjadi sebagus sekarang ini.

Sebenarnya, selain mendatangkan pemain yang tepat di posisi yang dibutuhkan, semisal lini belakang, Klopp juga memiliki pandangan tentang kebijakan transfer, yaitu: mempertahankan bintang adalah sama dengan mendatangkan pemain bintang.

Di beberapa musim sebelumnya Liverpool dipandang hanya sebagai batu loncatan saja. Mascherano, Suarez, Sterling, dan yang paling terkini; Coutinho, semua bintang itu merasa klub lain adalah tujuan utama mereka. Sehingga, saat kesempatan terbuka bagi mereka untuk pindah, mereka tidak menyia-nyiakannya. Dan di jendela transfer musim panas kemarin Klopp benar-benar melakukan filosofinya. Tanpa pembelian mayor, Klopp hanya mendatangkan Sep Van Den Berg dan Penjaga gawang Adrian. Di sisi lain, Klopp menjelaskan bahwa komitmen dari seluruh bintangnya; Mane, Salah, Firminho, Van Dijk, untuk tidak hengkang adalah sebuah poinplus dari strategi transfer klub. Ditambah dengan beberapa pemain yang berangsur pulih dari cidera, semisal Chamberlain yang praktis tidak bermain di musim sebelumnya, adalah ‘pembelian’ yang lain.

Komitmen para bintang ini merupakan efek lain yang Klopp ciptakan, terutama di sisi ‘suasana ruang ganti’. Klopp, selain memiliki kharisma Pelatih cum Fans, juga memiliki sebuah keyakinan tentang hubungan interpersonal antar pemain.

Di setiap laga, Klopp membangun hubungan baik antara dirinya dengan pemain maupun antar pemain dengan ‘Klopp hug’. Pelukan Klopp, begitu media menyebutnya. Klopp, baik menang atau kalah, akan menghambur ke lapangan dan memeluk setiap pemainnya. Hal ini terkesan sepele, bahkan sempat menjadi olok-olek tim lain; “we have trophies, and Liverpool have Klopp hug’. Tapi, nyatanya hal itu kemudian yang diakui setiap pemain sebagai hal yang merekatkan mereka, satu sama lain, dan tentu saja dengan klub.

Selain itu, Klopp juga menyadari betul kehadiran suporter sebagai pemain ke-12. Apalah arti semua yang ia usahakan tanpa dukungan suporter. Maka, Klopp tidak sungkan untuk meminta bantuan suporter saat mereka harus melakoni pertandingan berat. Seperti saat di semifinal Liga champions musim lalu ketika mereka tertinggal agregat 3 gol melawan Barcelona.

Selain pelukan, ritual lain yang Klopp lakukan adalah memberikan penghormatan bagi penonton di stadion, baik di kandang maupun pertandingan away. Klopp beserta sekuruh pemain dan staf berbaris di pinggir lapangan, bernyanyi bersama dan saling memberi hormat. Seperti halnya pelukan, ritual ini banjir ejekan dari tim lawan, karena Klopp melakukannnya saat Liverpool mendapat hasil imbang 2:2 melawan Wes Brom di Desember 2015.

“Lihatlah Klopp, dia begitu bangga dengan hasil imbang” cemooh mereka.

Dan, pertandingan Burnley kemarin merupakan sebuah pertandingan yang saya lalui dengan rasa percaya diri, bahwa Liverpool akan mendulang 3 poin. Tidak seperti pertandingan-pertandingan Liverpool sebelumnya, dahulu kala. Saya menontonnya dengan begitu cemas, bahkan saat Liverpool unggul, karena kebobolan di menit akhir adalah hal biasa.

Dan untuk perasaan ini, juga progres yang tercapai hingga detik ini, saya harus mengucapkan terima kasih kepada Jurgen Norbert Klopp, yang membuat cameo : Class is permanent, form is temporary.

Danke, Jurgen!

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment