Saya sangat bahagia hari-hari ini. Karena apa? Anak kedua saya, perempuan, akhirnya bisa berjalan. Saat saya temani beberapa hari ini dia sudah bisa melangkah lebih dari tujuh jangkah. Jatuh, lalu bangun lagi. Jalan lagi. Terus seperti itu. Dia berjalan sambil tersenyum dan sesekali tertawa. Tersenyum dan membuka tangannya saat mendekati saya, lalu ngamplok dan kemudian memanggil saya; “ayaaah”.

Urusan anak yang bisa berjalan ini sudah bisa membuat saya bungah tak karuan. Pasalnya, untuk anak seusianya dia memang tergolong telat berjalan. Bulan depan umurnya genap dua tahun dan beberapa minggu lalu dia masih mberangkang. Jika dia hendak berpindah tempat dia juga rambatan, hanya bisa berjalan satu dua jangkah saja. Tiga bayi lain yang sepantaran dia, anak-anak teman kerja saya, sudah berjalan semua. Dua diantaranya bahkan sebenarnya lebih muda dari anak kedua saya ini. Tak pelak, kondisi ini lah yang membuat saya, dan terutama istri saya merasa resah.

Sebenarnya, perjalanan perkembangan anak kedua saya ini memang cukup meresahkan saya dan istri. Sejak beranjak dari Asi hingga penambahan MPASI, (awakmu lek ra paham singkatan-singkatan iki, gugling wae kono. Ojo dadi cah ra mudengan!) anak saya mengalami keterlambatan kenaikan berat badan. Kalau dilihat dari grafik di Buku Panduan Orangtua itu, anak kedua saya ini sudah masuk ke wilayah garis merah. Ndrawasi.

Saya dan istri takut kalau anak kedua kami ini mengalami stunting atau gagal tumbuh di periode awal kehidupannya. Sampai saat ini, kami tidak paham betul penyebab kegagalan kenaikan berat badan ini. Sedari awal ada dua hal yang menjadi tersangka dari penyebab kegagalan kenaikan berat badan anak saya ini, pertama karena anak saya sulit makan dan kedua faktor medis tertentu yang kami pun tidak tahu.

Anak saya memang susah makan sedari awal. Berbagai macam MPASI yang dibuat oleh istri saya tidak pernah ada yang ia makan, dilepeh selalu. Sehingga, kami merasa perilaku ini yang kemudian membuat bobotnya tidak naik. Ditambah dengan perasaan was-was adanya sebab medis yang bisa jadi menjadi penyebab, saya dan istri pun sepakat membawanya ke dokter spesialis anak di RSUD Genteng.

Saat kami konsultasi ke dokter anak, dan setelah dilakukan beberapa tes, ternyata tidak ditemukan kelainan medis. Akhirnya, sukitnya anak saya makan dijadikan tersangka tunggal sementara atas semua ini. Lalu, kami mendapatkan saran mengenai treatment untuk membuat anak kami mau makan, yang inti dari semua saran itu adalah sabar dan telaten. Dua hal yang, wasyu-nya, sulit sekali kami terapkan.

Selain itu, kami juga disarankan untuk memberi asupan lain berupa susu formula. Jadi, anak saya mengkonsumsi ASI, MPASI, dan juga susu formula secara bersamaan.

Tapi hingga beberapa konsultasi ke dokter anak, kemudian ditambah dengan ketelatenan dan kesabaran kami yang pas-pasan, juga sudah dibantu dengan mendatangkan pemain cadangan; Embahnya dari Kebumen, bobot anak saya hanya bisa naik secara minor. Saya memang sengaja untuk tidak mengatakan angka-angka di tulisan ini, karena hal itu bisa membuat saya sedih. Bhaaa. Syem tenin.

Untungnya, dalam proses menghadapi masalah anak kedua ini, saya dan istri sudah pernah mengalami kesulitan pada diri anak pertama saya. Walau pun jenis, kadar dan konteksnya berbeda.

Anak sulung saya, walau tumbuh kembangnya normal dan OK, bisa berjalan juga relatif tepat waktu, tapi juga memiliki masalahnya sendiri.

Entah sejak umur berapa, anak saya kemudian sering sekali mengalami batuk. Saat malam, ia seringkali terbangun dan menangis karena hal ini. Diawali dengan batuk, umbelen lalu disertai dengan badan anget. Begitu terus, dan terjadi dengan interval yang berdekatan.

Karena saat itu saya sedang studi S2 dan istri sudah selesai dengan S1nya, kami bisa bersama ngontrak di Jogja, saat anak saya sakit saya langsung bawa dia ke RS. Hidayatullah, di timur XT Square. Saya tidak ingat persis berapa kali saya dan istri membawa si sulung kesana, tapi sangat sering sekali.

Diagnosa yang kami terima ternyata lumayan mengejutkan. Batuk yang seringsekali terjadi membuat kami terus berkonsultasi dengan dokter anak dan mencoba mencari penyebabnya. Kesimpulan diagnosis berupa Bronkitis kami dapatkan setelah melalui banyak sekali tes, termasuk tes mantoux untuk melihat sumber alergi penyebab batuknya.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, batuk anak pertama saya ini seringkali dibarengi dengan umbelen dan badan anget. Saya dan istri tidak pernah mengira, saat kami fokus pada sakit batuknya, ternyata panas yang mengiringi ini juga memberikan tantangan tersendiri. Suatu ketika, saya mudik ke Kebumen. Anak saya sudah beberapa hari sebelumnya pulang bersama istri saya. Saat bertemu, kami kemudian memutuskan untuk liburan ke Pantai yang berada tidak jauh dari rumah. Selesai bermain di pantai, kami pulang dan sore harinya badan anak saya menghangat.

Saat malam tiba, panas badan anak saya mulai meninggi. Setelah isya, istri saya yang menemaninya sambil menyusuinya tiba-tiba berteriak.

“Yah, Falah Yah!”

Saya yang berada di luar lapangan kemudian menghambur ke dalam kamar. Di atas kasur saya melihat anak saya sudah kejang. Matanya melek merem tidak sadar. Saya shock! Ketakutan! Dan dengan reflek saya ambil dia, saya gendong dan saya bawa dia ke rumah Bidan tetangga saya. Saya berlari sambil ketakutan, bercampur aduk dengan rasa khawatir, bingung dan sensasi rasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Sampai di pintu rumah bidan, saya memanggilnya. Ada jawaban tapi pintu tak kunjung terbuka. Dimensi waktu saat itu serasa berlari, cepat sekali. Saya merasa pintu tak segera terbuka, walau sudah terjawab salam saya. Akhirnya saya menendang pintu rumah itu. Terbuka, dan bu Bidan yang sudah dalam perjalanan membuka pintu, berlari ke arah saya.

Saya melihat saat bidan mengobservasi anak yang sedang saya gendong,

“Langsung puskesmas”

Teriaknya singkat.

Suami si Bidan seketika mengeluarkan motor. Saya tanpa ba bi bu langsung mencolot ke atas jok. Di perjalanan, saya melihat wajah anak saya yang kejang, saya memegangi tangannya yang mengepal kuat seakan ada tekanan rasa sakit yang teramat yang sedang ia rasakan. Saya memandangnya sambil memanggil namanya, perasaan saya tak karuan.

Sampai di Puskesmas, langsung diobservasi kilat, diberi penurun panas lewat anus, dan akhirnya kejangnya berhenti. Setelah berdiskusi dengan dokter jaga IGD, akhirnya anak pertama saya fix harus opname. Itulah opname pertama anak saya.

Setelah peristiwa ini, di kemudian hari kamipun juga harus mengalami beberapa kali peristiwa serupa yang kemudian berujung pada opname di rumah sakit.

-sek tak ambegan-

Kalau Anda mengira permasalahan sakit anak pertama saya ini adalah kekhawatiran utama saya dan istri, Anda harus mendengar yang ini.

Seperti halnya anak kedua yang mengalami keterlambatan pertumbuhan, anak pertama saya juga punya masalah dengan perkembangannya; dia belum bisa berbicara banyak saat teman sebayanya sudah criwis!

Saya dan istri pernah takut kalau anak pertama saya mengalami speech delay, gangguan keterlambatan wicara. Karena hingga saya pindah ke Banyuwangi tahun 2017 awal, anak pertama saya memang tidak terlihat memiliki kosa kata yang kaya. Bahkan, proses pelafalan hurufnya juga tidak sesempurna anak-anak lain. Hal ini sangat mengganggu kami sebagai orang tua.

Mungkin kapan-kapan saya akan cerita tentang masalah kemampuan ngomong anak pertama saya ini. Bagaimana dia awalnya berbicara dalam bahasa Jawa kromo, beralih ke Bahasa Indonesia, lalu berubah menjadi Inggris (dengan bahasa I,ndonesia sedikit-sedikit), dan berubah lagi hingga sekarang menjadi Bahasa Indonesia dengan pelafalan mirip Bahasa Inggris. Karena itu pula, anak saya kini tak bisa mengucapkan ‘r’, yang ada adalah ‘ar’. Bhaaa.

Kapan-kapan ya.

Dari permasalahan-permasalahan kedua anak saya ini, perkembangannya yang lambat, kesehatan yang terkadang mengharuskan ke rumah sakit, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa drama-drama prenting seperti ini adalah keniscayaan bagi suami-istri. Yang tentu saja, hal ini seringkali luput dari kalkulasi para calon pengantin. Kebanyakan anak muda hanya melihat hal menyenangkan saja dari sebuah pernikahan.

Hal-hal seperti ini pasti terjadi. Entah dalam bentuk apa dan bagaimana, tapi secara prinsip hal ini akan menantang pasangan tersebut. Membuat mereka mau tidak mau belajar saat itu juga. Mengambil critical decision pada saat-saat genting. Tak peduli siap atau tidak, keputusan harus diambil. Dan variannya begitu beragam dan datang dengan interval yang begitu pendek, bertubi-tubi, dan tidak bisa diprediksi pula.

Lalu, apa kira-kira yang bisa kita siapkan untuk menghadapi hal-hal begituan? Entahlah. Kalau menurut anda, apa?

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment