Saya nulis ini sambil ngantuk banget. Setelah masuk rumah, jaket saya taruh di cantholan. Saya ambil hape, sedikit membalas WA beberapa teman, lalu lanjut menulis sambil gletakan.
Ceritanya, Bapak saya malam ini harus ikut rembugan acara suronan yang akan diadakan oleh gabungan beberapa RT. Karena acara itu, Blio tidak bisa mengajar di madrasah diniyyah. Karena tidak bisa hadir mengajar, maka sejak sore hari tadi Blio sudah menyuruh saya;
“Engko bengi mbadali, ya”
“Geh, panggene teng pundi” tanya saya
“Neng gene Gus Munib. Asline kelase neng ndoukur dewe, tapi lek pas jamku, Arek-arek dikongkon neng ngisor dewe”
“Oh geh. Nopo pelajarane?”
“Pada mbi biyen. Akhlaq”
Deg. Saat itu lah saya merasa ada perasaan aneh
Saya, seingat saya, selalu didekatkan dengan hal-hal yang tidak saya sukai dan saya hindari. Semisal, saya malas sekali ngomong di depan banyak orang. Public speaking, eee lha kok malah disuruh mengampu kuliah public speaking. Saya merasa kurang suka dengan ngajar bahasa Arab, eee lha malah dapat 12 SKS full kuliah bahasa Arab. Ini contoh-contoh relevan terkini yes. Yang dulu-dulu malas juga nyeritain nya. Aib je.
Selain didekatkan dengan hal-hal yang tidak saya minati, biasanya hal-hal yang mendekati saya adalah hal-hal yang belum tuntas di masalalu. Mengajar anak SD misalnya, selalu terulang lagi dan lagi karena saat saya mengakar sebelumnya, selalu tidak tuntas. Misal karena pelajaran yang kurang maksimal maupun pembayaran yang kakehan, sehingga saya secara tidak langsung memiliki ‘hutang‘ yang kemudian harus saya lunasi dengan remidi.
Untuk kedua hal tersebut, baik yang tidak saya suka maupun yang merupakan ‘hutang’ masa lali saya, saya sudah nyante-nyante saja jika keduanya terjadi. Misal, harus ngajar anak SD lagi, ya oke saja. Atau ngajar kuliah 12 SKS yang boso ngarob semua, ya wes ra papa. Tak lakoni, wong memang harusnya begitu. Saya mungkin disuruh belajar lagi, ya belajarlah saya.
Akan tetapi, ada jenis ketiga, hal yang terjadi berulang pada hidup saya. Dan ini saya kategorikan sebagai karma.
Saya, dulu kala, masih ingat betul dengan jelas. Di ruang F.3 gedung induk, kelas 3 Ula diniyyah, hari Rabu, matapelajaran Al-Quran, ustad Khoirudin (sekarang guru Mts Al-Amiriyyah), yang saya lakukan di kelas itu adalah; datang tergesa-gesa, buka kitab, mendengarkan sambil ngapsahi, lalu tidur saat ustad mulai menerangkan. Apabila ustad membaca kitab sambil menerangkan, saya sudah tidur saat pembacaan kitab dimulai.
Entah mengapa, saat itu di hari Rabu, saya selalu saja tidur. Di hari lain, biasanya saya cuma mengantuk saja. Ya, beberapa saat tertidur. Tapi, kalau hari Rabu; wassalam. Tidur nyenyak di kelas.
Maka, saat saya pulang dari mbadali Bapak saya ngajar, saya berjalan menuju rumah dengan kantuk yang tak tertahankan. Saya menuju rumah Bapak sambil membawa kitab Akhlaq Lil Baniin, saya mau kembalikan.
“Piye mau?” Tanya Bapak saya.
Saat saya menguap karena kantuk luar biasa, Bapak saya sudah berkata lagi;
“Arek-arek ki lek diulang turu kabeh. Kesel paling no. Liyane, lek ora turu uncal-uncal an songkok. Terahe cah cilik og”
Langsung, seketika itu pula ingatan akan ruang F.3 gedung induk, hari Rabu, dan ingatan rasa kantuk luar biasa datang menyeruak. Dan ketika ingatan itu datang, saya kemudian sedikit, (mungkin), mengetahui perasaan ustad saya saat mengajar kelas saya itu. Karena pernah suatu ketika, saat saya tidur di tengah pelajaran, saya terbangun. Saya melihat ke sekililing, melihat teman-teman saya. Saya melihat hanya barisan bangku pertama saja yang menyimak, selebihnya tidur semua.
Lalu apa? Ha yo embuh!
Leave a comment