Kapan hari, saya pergi berbelanja ke toko dekat rumah. Anak kedua saya sedang dimandikan bunda nya, karena pampers habis, saya harus beli kesana.
Setelah sampai toko, pampers diambilkan pemilik toko, uang saya berikan, saya lalu mematung menunggu kembalian. Saat itu lah biasanya percakapan basa-basi terjadi. Pada waktu itu, percakapan kami pun dimulai dengan membicarakan seorang perempuan stres yang kebetulan lewat depan toko.
“Kuwi lho, Rik. Biasane utang neng kene. Lek ra dike’i nesu-nesu” buka pemilik toko.
Saya lalu menimpali sekenanya.
“Jenenge wae wong stres, Yu”
“Wengenane golek softek, ‘aku utang softek e’. Tak takoni; sopo seng mbayar? ‘Engko dibayar Si Kae’. Njawabe ngono”
“Lha apa ra tau golek neng tempat liyane”
Saya bertanya ini secara reflek saja, dan saya langsung menyesal saat itu juga. Karena, kran yang seharusnya sudah tertutup malah kian menganga. Terbuka. Informasi kemudian datang bak air bah.
Dari informasi ini juga, saya kemudian tahu bahwa perempuan stres itu adalah bekas TKW. Bersama ibunya, dia bekerja di Malaysia. Dan dari sanalah awal mula keadaan stres itu ia peroleh.
Saya tidak akan bercerita tentang betapa menyedihkannya hal-hal berbau tkw, buruh migran, ato wong cilek. Yang kemudian membekas di perasaan saya adalah, untuk ukuran orang desa stres, yang tidak penting banget nasibnya buat tetangganya, yang untuk urusan softek saja musti ngutang, ternyata memiliki dua versi cerita tentang penyebab ke-stres-an nya.
Cerita pertama, menurut pemilik toko; perempuan itu stres karena saat bekerja di Malaysia dia tidak digaji oleh majikannya. Karena merasa sudah bekerja keras dan tidak mendapatkan haknya, otomatis dia stres. Jauh dari rumah, mencoba mencari peruntungan dan berharap lebih, tetapi fakta yang meghampirinya adalah sejenis kegetiran yang begitu kejam. Ia lalu stres!
Versi kedua, saat dia mendapat gaji dari Malaysia, ia mengirimkannya ke rumah. Ke saudaranya. Tujuannya? Ia titipkan ke saudaranya, saking percayanya. Setelah pulang, ia sadari uang yang ia titipkan sudah tak berbekas. Usaha bertanya tentang keberadaan uang itu kemudian menjadi sebuah siksaan yang lain. Yang kemudian menambah beban batinnya. Lalu? Stres juga akhirnya.
Sekali lagi, untuk sekelas wong cilek, hoaks nya sudah sedemikian canggih. Desas desusnya juga sudah ber versi-versi. Ini saya dapatkan hanya dari dua sumber saja, pemilik toko dan tetangga saya yang lain. Kalau semisal kita perbanyak informannya, maka? Ya silakan diprediksi sendiri.
Lalu, kalau saya tarik ke jagat liar informasi saat ini? Bhajingan.
Di tengah banyaknya informasi yang kia semrawut saat ini, berapa banyak kemungkinan versi-versi sebuah cerita bisa terbentuk? Lalu mana versi yang paling sahih? Apa ukuran ke-sahih-an nya? Apa masyarakat, kita, punya alat untuk mengukur ke-sahih-an itu? Sebenere sahih itu apa? Njuk kita musti bijimana, Syu!
Kalau kayak gini, kan jiamput!
Embuh lah.
Saya tutup tulisan entut ini dengan ingatan saudara saya yang nggrundel karena dia diinterogasi seputar masalah keluarganya.
“Ha piye iki? Dekne kok iso tho nyangka kuwi sebabe kerono faktor X. Asline kan faktor Y! Gek wes diomongne rono rene, Lho. Masak perlu tak jelaske neng dekne?”
“Halah, jawaben ngene ae lho: ‘maap ye, itu urusan pribadi kami. Hiiih! Dasar sok teu!’. Gitu aja.“
Leave a comment