Entah siapa yang bilang, tapi kata-kata ini terngiang selalu di ndas saya. “Menulis adalah pekerjaan sunyi. Dan penulis selalu berkawan dengan sepi”.

Selama saya menulis, saat masih di buku-buku catatan, di sela-sela kehidupan kuliah yang begitu-begitu saja, perkataan ini terasa benarnya. Apalagi, kalau kita pikir-pikir, menulis memang suatu tirakat personal yang tak ada campur tangan orang lain dalam prosesnya.

Menulis menjadi sebuah komunikasi ke dalam diri, seseorang bertanya kepada dirinya, lalu ‘jawaban-jawaban’ yang diperoleh ia upayakan menjadi sebuah narasi, puisi atau apa saja. Maka, walau ia mewujud sebentuk wahana komunikasi, tapi tetap saja ia hadir dari kesepian, sebuah monolog terus menerus.

Dan saya tentu saja tidak suka sepi. Kalau bisa rame, kenapa tidak.

Maka, untuk menipu diri sendiri, saya jejali pikiran saya dengan kata ‘engagement’, keterhubungan antara orang yang menulis dengan pembacanya. Saya mensugesti diri sendiri, bahwa ‘hei, kamu gak sendiri. Itu ada orang-orang yang mau bertumbuh bersama. Jadi pembaca ala-ala mu’.

Menyenangkan memang, lalu ada rasa senang dan merasa bahwa wahana komunikasi ini berbalas. Ada yang mengirimkan tanggapan; sebuah komunikasi. Tak lagi berupa monolog.

Dalih bertumbuh bersama, sebagai orang yang menulis saya pun merasa wajib memperkaya diri. ‘Makan’ buku ini, itu, informasi ini itu, ‘biar tambah beragam tho wahana komunikasinya? Masak iya mau ‘tanya’ gitu-gitu saja? Masak iya mau nulis ituuuuu saja?’.

Dari situ sedikit keyakinan bahwa menulis tak lagi perkara sepi tumbuh, tapi tak lama. Sebentar saja dan berganti kesadaran, ‘e lha! Lha nanti waktu nulis kan ya, sendiri juga. Kalaupun seakan ada yang mau membaca, mereka hanya menemani setelah semuanya paripurna. Dalam prosesnya, menulis tetap saja sendiri’.

Kesadaran njancuki seperti ini terus saja datang.

Dan tentu saja, saya (masih) tidak suka sepi.

Akhirnya jurus lain yang saya tempuh dengan putus asa adalah; kalau menulis memang perkara ‘sepi’, maka berikan kesempatan orang lain untuk melakukannya juga. Setidaknya nanti, kalau banyak orang yang melakukannya; menulis, maka ia akan menjadi hal yang tak se-sepi itu. Tak sesuram itu.

Dan kalaupun usaha ini gagal, kamu bisa melihat dan menikmati kesepian mereka sambil bergumam sendiri: ‘lihat! Kamu sudah tidak sendiri dalam kutukan kesepian’

Qiqiqiqiqi

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment