Saya menulis ini saat saya sedang di RSUD Genteng. Menjenguk sepupu yang sedang opname. Kamis malam kemarin dia mengeluh gak enak badan, tadi siang saya dengar kabar kalau dia opname, maka saya dan keluarga menjenguk dia di sore harinya.

Pengalaman dengan rumah sakit memang tidak menyenangkan. Falah, anak Sulung saya, sudah empat kali opname, berkali-kali ketemu dokter di RSI Hidayatullah Jogja, dan perasaan saat melakoni semua itu adalah: tak pernah menyenangkan.

Tapi, tidak menyenangkan, menyedihkan bukan berarti tidak bermakna. Saat berada di rumah sakit, saya dan istri selalu mendapatkan pelajaran. Mulai dari bagaimana bersabar, bersyukur, dan tentu saja tabah.

Saat di Magelang, saya dan istri musti tinggal jauh dari siapapun, termasuk keluarga. Maka, semuanya seakan dihadapi sendiri. Mulai dari gopoh bawa anak sakit, menunggui sendirian, bagi shift dengan istri, karena sama-sama kerja, hingga menghadapi dokter julid yang njengkeli bener. Semuanya tentu harus dengan kesabaran ekstra.

Pengalaman dengan rumah sakit juga bisa menstimulus ujaran: untung wae!

Setahun lalu, saya masih ingat, di suatu pagi saya juga datang ke RSUD Genteng ini dengan kaki yang tidak bisa dibuat jalan. Setelah ambil antrian dan menunggu giliran, saya masuk ke ruang orthopedi. Seorang perawat paruh baya langsung menyambut saya.

Nyapo, Mas?” Tanya dia

Gak ngerti, Pak. Sikilku ra iso ge mlaku. Kene ki luoro” sambil saya tunjuk bagian kaki yang sakit.

Dokter lalu segera menghampiri. Saya dipersilakan menaiki ranjang periksa. Dokter kemudian mengobservasi saya. Setelah menekan-nekan beberapa bagian, sambil bertanya, ‘sakit?’ di setiap bagian, akhirnya dia menyuruh saa ronsen.

“Ronsen dulu, ya”

“Kenapa kaki saya, dok?” Tanya saya tak sabaran.

“Ya ronsen dulu, biar kita bisa semakin yakin penyebabnya”

Maka saya pindah ke ruang ronsen. Selesai. Kembali ke ruang dosen, membaca hasil ronsen.

“Wah, deloken, Mas!”

Saya kemudian melihat alat pembaca yang tertempel di dinding. Disana gambr kaki saya sudah tersinari, tapi tentu saja saya tidak paham.

Setelah menjelaskan panjang lebar, dokter itu lalu memungkasi penjelasannya dengan:

“Untung e, Mas. Achilesmu ki mung pedot separo. Lek pedot kabeh, saiki langsung tak jadwalne oprasi. Untung wae. Ki mung perlu di-gips wae, 6 minggu minimal, ya”

Tenan, to? Hal-hal berbau rumah sakit kek ini juga bisa menhadirkan ‘untunge’ yang bisa menjelmas oase di gurun kecemasan dan pemderitaan kita.

Pengalaman opname saya sendiri, dulu saat kuliah, adalah bertemu dengan teman seruangan yang mungkin saja karena beratnya beban yang menimpa mereka, mereka menjelma menjadi orang bijak. Saya dapat merasakannya dari tutur dan gestur tubuh mereka.

Di Panti Rapih dulu, teman seruangan saya adalah korban gempa Jogja 2006. Padahal saat itu sudah tahun 2009. Saya kemudian tahu derita apa saja yang mereka dapatkan. Bagaimana kronologi kejadian saat gempa, bagaimana mereka sering sekali oprasi dan opname, juga bagaimana pilunya pasien tersebut saat harus kehilangan kakinya: diamputasi.

Maka, jika ada teman kalian sakit, jangan sungkan-sungkan untuk menjenguk. Sekedar berbagi perasaan, mungkin bisa meringankan mereka, mungkin juga kita bisa mendapatkan pelajaran dari mereka.

Karena, mendapatkan pelajaran dari kejadian pada orang lain tentu saja lebih ‘ringan’, dan hal itu adalah se beja-bejanya pelajaran.

Dan saat mendengar sepupu opname, kami sekeluarga langsung cus ke RSUD. Berharap mendapatkan banyak pelajaran kehidupan. Tapi, ternyata pelajaran yang saya dapatkan lebih dari yang saya bayangkan.

Sampai di RSUD, kami turun dan diberi arahan adik ipar saya;

Ruangane neng anding mushola

“Ok” kata saya.

Saya berjalan di depan, sedang istri, adik, dan Mbahe serta krucil-krucil berjalan di belakang saya.

Setelah melewati lorong, belok kanan, belok kiri dan sekali belok kanan, di sebelah kiri saya melihat ruangan opname. Tanpa ba-bi-bu saya pun masuk.

Seorang suster melihat saya, saya pun bertanya:

“Apa ada pasien atas nama bla bla bla”

“Sakitnya apa, Pak?” Tanya suster

“Typus” jawab saya.

“Katanya dekat dengan mushola, mbak” tambah saya.

“Ooh”

Suster itu lalu menjelaskan arah ke ruangan yang saya maksud. Saya kemudian berterima kasih dan keluar tapa perasaan berdosa.

Saat keluar, saya melihat istri saya terkekeh. Saya jadi curiga. Maka refleks saya melihat tulisan di atas pintu masuk ruangan.

Bhajingan, batin saya. Disana tertulis: RUANG BERSALIN.

Pantas saja istri saya terkekeh.

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment