Saya menulis ini, menurut saya urgent sekalee, karena saya dikirimi Gus Birru junjunganku yang curhat seputar prejengannya yang gak UGM-able, yg dengan jeniusnya Blio jadikan pre-tolok ukur dalam melihat kualitas interaksi sosial cah UGM dan bagaimana citra ng-UGM dibentuk.
Tentu saja, saya gak mau ngomen itu tulisan. Mesti juos dan perlu Anda Baca. 😁
Yang saya bilang ke Gus Birru adalah,
“Tenangno pikirmu, Gus. Lek mung dikiro cah UIN, masio wes mbayar UKT luarang, ra sah sedih. Tak kancani!”
Bha. Ini serius. Karena, di medio 2012 saat saya nggembel dan harus cari receh demi mewujudkan uang bayar terop pernikahan, saya diperlakukan seperti itu.
Di sebuah Kos di Krapyak, saya bertemu dengan teman-teman baru. Saling berinteraksi, beberapa kali bantingan beli nasi, tak lupa juga saling pisuh-pisuhan. Dalam proses itu, kami otomatis saling berkenalan.
Dan, entah siapa yang memberitahu, salah satu penggede Kos akhirnya tahi tahu kalau saya alumni UGM.
“Kowe ki lulusan UGM po, Reh?”
“Iya, Mas Joto. Lha piye?” Jawab saya
“Wasyu. Raimu koyo ngunu kuwi UGM.”
“Ha piye to, Mas?”
“Cah UGM seng tak kenal ki ra eneng seng koyo raimu kuwi. Kabeh do necis, keton pinter kabeh, je.”
“Silet!”
Saya tentu saja tak bisa menyalahkan stigma yang dimiliki orang-orang itu. Karena memang bahasa kan arbitrer, suka-suka, tak terkecuali makna. Dan yang bisa kita lakukan hanya misuhi saja kahanan seperti ini.
Misuh adalah obligasi, karena apa? Karena di balik semua kuliah UGM itu, ada uang mbokmu yang mengalir di sana. Setidaknya itu untuk menghormati proses itu.
Peristiwa stigma-stigma an ini saya kira sudah berakhir di zaman pra-sejarah itu. E, lha kok ternyata tidak.
Saat pertama kali ngampus sebagai dosen abal-abal , saya disambut oleh beberapa kenalan. Selayaknya manusia lain, saya menyapa dan bersalaman. Maka, mungkin karena merasa sudah kenal saya, diantara mereka ada yang mencoba memperkenalkan saya kepada yang lain;
“E, ini lho pak Farih. Dari Jogja. Jurusan Sastra Arab, Dari UIN Sunan Kali Jogo Jogjakartaaah”
Saya kemudian menyebar cengir, sambil mlipir alon-alon.
Sebenarnya, di tulisan ini saya tergoda untuk mengulas bagaimana konsep makna dan citra ng-UGM itu dibentuk tapi, Asu-dahlah. Tak perlu itu diruwetke. Toh, apa juga itu UGM. Dan tak usahlah dipamer-pamerkan. Tiwas pamer, ternyata kita ra mutu, omong gak jelas, cuma teori tok, ruwet. Ha kan malah mung ngisin-ngisin i ya tho?
Jadi, ya piye ya? Ha wes pokok e seperti wong Jogja itu lah. Sak madyo wae.
“Ngono ya ngono, tapi ya jo ngono”
Ya, lek disalah pahami ya diomongke se-anane. Dipisuhi ya lek pas diperlukke, tapi ya ra njuk show off “aku lho cah ng-UgM”. Hiiiii, mit-amit.
Ha ish mbuh. Syu!
Dari tulisan ini, saya malah jadi ingat dialog saat leyeh-leyeh bareng mahasiswa PKL di UIN Malang dua hari yang lalu,
“Njenengan S1 nya dimana, Pak?”
“UGM”
“Oo, S2 nya?”
“UGM juga”
“Owalaaah, tak kira di UIN Malang sini”
Haisy, mbuh Cah. Karepmu kono. 🤣
Leave a comment