Kegiatan pagi saya dimulai, selalu, dengan kerempongan persiapan sekolah. Istri sibuk mempersiapkan diri mengajar sambil masak tipis-tipis. Falah biasanya akan menonton kartun dulu sebelum berjalan lemot ke kamar mandi sambil membuka bajunya. Adiba, anak terkecil saya, biasanya masih terlelap, terkadang juga terbangun di tengah persiapan kami. Jika itu terjadi, sambil menunggu Falah yang sedang mandi, saya mempersiapkan seragamnya. Saat itu pula saya memandikan si Adiba.
Apa yang saya lakukan, biasanya juga dilakukan istri saya. Kami bergonta-ganti peran, apa saja dicandak. Yang penting, jam 07.00, atau sebelumnya, Istri sudah harus di depan gedung sekolah dan saya harus sudah di Kampus. Kami masing-masing punya kewajiban jaga kegiatan pagi. Dan itu setiap hari.
Karena hal ini pula, saya kemudian bersepakat dengan istri dan adik saya, Falah setiap hari akan diantar ke sekolah oleh adik saya. Sekalian ditunggui karena keponakan saya juga sekolah di tempat yang sama. Kelas yang sama. Begitu juga Adiba, setelah kami berangkat, akan main di rumah Mbahnya.
Jadi, di pagi hari kami harus mempersiapkan mereka, sudah mandi, sarapan, wangi dan siap sekolah.
Karena Falah sudah diantar dan ditemani adik saya, saya tidak lagi mengantarnya, atau menjemputnya ke sekolah. Hanya beberapa kali kesempatan saya bisa mengantarkannya. Dan, salah satu kesempatan itu datang pagi ini.
Pagi ini, setelah si Falah siap berangkat ke sekolah, entah kenapa dia tiba-tiba memakai sandal dan berlari menuju saya dan istri yang sudah siap berangkat.
“Aku mau ikut” katanya singkat.
Saya menyuruhnya naik motor, kami bertiga berangkat ke tempat kerja bersama.
Saat saya harus mengawasi kegiatan kampus, Falah menunggu saya sambil bermain komputer di kantor Pusat Bahasa. Setelah dirasa kegiatan sudah berjalan lancar, dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 7.50, saya mengajaknya berangkat ke sekolah.
“Ayo budal” kata saya.
Dia lalu mengambil pensil yang dari tadi jatuh dari sakunya, kemudian keluar menuju parkiran.
Saya pulang, bertanya apa adik saya sudah berangkat. Ternyata, keponakan saya tidak sekolah. Otomatis, adik saya tidak akan berangkat sekolah.
Akhirnya, saya antar dia ke sekolah.
“Ayah, nanti kalau sudah selesai sekolah, jangan lupa jemput ya” kata dia
“Oke” jawab saya.
Dari rumah, saya kemudian melaju ke utara menyusuri sungai Blokagung. Pada mulanya anak saya diam saja. Entah kenapa, saya menaiki motor dengan pelan. Saya tiba-tiba ingin menikmati momen seperti ini.
Karena diam saja, saya kemudian bertanya,
“Kok diem saja?”
“Ayah,,”
“Iya?”
“Kenapa sungainya kotor ya?”
“Ehm,,”
“Ada sampahnya juga”
Saya kemudian yang terdiam. Setelah berpikir beberapa saat saya menjawab.
“Ya, Mas Falah kalau buang sampah harus di tempatnya. Jangan dibuang ke sungai”
“Orang-orang buang sampah di sungai ya”
“Sampean harus sekolah yang benar, biar besok bisa ngajarin orang-orang biar buang sampah di tempatnya”
Akhirnya percakapan itu kami tutup dengan tos sesaat sebelum kami sampai di sekolahnya. Setelahnya, dia turun dari motor without hesitating, mencium tangan saya dan berlari menuju kelas.
Dan sepanjang perjalanan pulang, yang terpikir oleh otak kecil saya adalah, betapa saya sudah melewatkan hari-hari berharga mengantar sekolah anak saya.
Mengantar sekolah, juga menjemputnya, mungkin terasa remeh bagi kita, di tengah ke-hectic-an perjalanan karier yang tidak ada habisnya. Tapi, yang saya sadari pagi ini, mungkin saja hal remeh ini adalah semesta yang lain bagi anak saya, yang nilainya begitu berharga.
Mungkin saja,,
Leave a comment