Tiga hari ini saya riweh bareng Bu Aula dan Bu Zulfi menyiapkan acara Kelas Kalis. Dibantu beberapa teman dari media kepenulisan Darussalam, termasuk dari buletin Fenomena.
Di samping beberapa keruwetan yang gemesin, koordinasi dengan orang-orang yang gak tak kenal, masalah pendanaan yang wagu, backdrop acara yang bunyinya: JANGAN MELAPASKAN BANER INI, dan banyak hal ra mutu lainnya, tetapi ada satu hal yang membuat saya melupakan semua hal itu.
Setelah acara selesai, saya dan beberapa ‘panitia’ bersih-bersih. Menata kursi kembali. Makan bareng-bareng. Lalu, setelah semuanya selesai, saya cus pulang.
Saya melewati lorong menuju pintu gerbang keluar. Setelah sampai gerbang, saya langsung menaruh barang bawaan saya di motor. Saya langsung naik, kunci motor segera saya masukkan.
Sambil mencoba memasukkan kunci, yang entah kenapa gak bisa-bisa, saya ngomong sama istri saya. Dia juga ikut acara ini. Saat itu lah, tiba-tiba ada mbak santri mendekat.
“Pak, motornya salah”
Saya tidak ngeh. Saya memandangnya sambil tetap mencoba nguklik-nguklik kunci motor. Tetep tidak bisa.
“Paaak, motornya njenengan bukan yang itu” mbaknya memberi tahu sekali lagi.
Lalu celingak-celinguk lah saya. Ternyata, di sebrang jalan, ada motor saya, yang kebetulan prejengan-nya persis dengan motor saya.
Di saat itulah saya misuh-misuh karena klejingan. Tentu saja semua saya lakukan di dalam hati. Dan hal ini pula yang membuat saya lupa ke-ruwetan menyiapkan acara ini.
Lalu, yang tersisa hanya cerita tentang usaha Bu Aula, dan Bu Zulfi yang mendanai semua acara itu.
Hehe
Leave a comment