Minggu pagi saya harus ngojek istri ke pertemuan komunitasnya. Setelah beberapa waktu perjalanan, akhirnya kami sampai di tempat acara.

Biasanya, sesaat setelah sampai tkp, istri akan langsung nimbrung dengan geng-nya. Melakukan hal-hal yang sebelumnya sudah mereka bahas secara online. Banyak sekali yang kemudian mereka kerjakan, dan tentu saja lama.

Sialnya bagi saya, dan kelihatannya bagi para suami lain, yang datang karena ngojek, adalah semua kegiatan geng ini tak ada kaitannya dengan kami. Ya, walaupun bisa saja dikaitkan sih, tetapi kami tidak merasa hal itu bisa kami bahas, dan lolos syarat sebagai bahan obrolan.

Dan mungkin hal ini juga yang kemudian membuat kami, para ojek ini menjadi bingung. Saat menunggu mbok-mbok ngrumpi dll, kami harus mengalami gabut. Gak ngerti meh ngerjakne opo. Beberapa kesempatan ngojek, tuan rumah lumayan peka terhadap permasalahan ini. Ketimbang mutar-muter ra karuan, beberapa tuan rumah menyedikan tempat khusus untuk para tukang ojek. Kursi-kursi plus suguhan, dan juga keramahan mereka dalam meladeni obrolan kami.

Tapi, sekuat mereka meladeni obrolan, basa-basi, tetap saja bahan omongan itu akan habis juga, menguap. Seperti yang saya alami saat ini.

Setelah datang, saya dan tuan rumah kemudian saling bertanya, tipis-tipis. Pertanyaan default semisal tempat tinggal, kerja, kenalan, sudah tuntas kami perbincangkan. Dari sini pula saya kemudian tahu bahwa tuan rumah adalah teman satu pondok tetangga saya. Suatu fakta yang seringkali saya dapatkan dari percakapan basa-basi yang biasa saya lakukan.

Setelah saya rasa tidak ada lagi ‘bahan’ basa-basi, beberapa tukang ojek lain datang. Mereka lah kemudian penyelamat saya. Tapi walau penyelamat diantara mereka juga ada yang njengkelin.

Karena mengetahui ada tamu baru, secara default tuan rumah kemudian menerima mereka dengan cara yang ‘default’ pula. Persis seperti yang sebelumnya di tanyakan kepada saya. Merasa sudah ‘tahu’ tipe pertanyaannya, saya kemudian agak nyingkreh. Saya duduk di ujung, terpisah satu kursi dari kelompok besar per-basa-basi an.

Saya menyibukkan diri dengan membaca status-status fb, melihat feed instagram dll. Sambil sesekali saya melihat dan mendengarkan para tukang ojek itu ngomong tentang apapun. Meloncat dari satu tema ke tema yang lain.

Beberapa dari mereka hanya mendengarkan saja, yang lain menjadi penimpal dan si tuan rumah dan seorang tukang ojek menjadi pendopok utama. Dan, satu diantara mereka, bagian dari penimpal itu, yang ternyata menjengkelkan juga.

Di sela-sela obrolan, tuan rumah sesekali menawarkan hidangan. Default lah. Dan saat itu lah, penimpal ini nyelonong dengan omongannya.

“Ki lho mas jajane, aja ngedoh ngono tho. Rene lho nyedek”

Tentu saja omongan itu diikuti dengan wajah njelehi, aura sok tahu, dan entah kenapa wajahnya bagi saya njengkeli betul. Walupun saya sadar, mungkin saja dia ngomong kayak itu tanpa sadar bahwa dalam omongannya ada mafhum mukhalafah bahwa saya antisosial, gak mau bergaul dalam kelompok basa-basi itu, dan gak menghormati tuan rumah yang sudah susah-susah mencari topik obrolan yang bisa terus diproduksi.

Tapi, entah kenapa kesadaran saya itu tertutupi oleh rasa jengkel saya. Melihat wajahnya, muka bulat muda yang dihiasi jenggot tebal yang selalu terasa sok tahu, usahanya dalam menimpali obrolan yang sok yes.

Tidak mau ber-ruwet-ruwet dengan hal ini, saya latihan nulis saja di blog. Sambil sesekali melihat orang-orang itu ngobrol dengan tema yang berganti-ganti. Sungguh saya takjub dengan stamina mereka dalam hal ndopok dengan orang baru.

Dan sekarang mereka sedang membahas geografi entah desa apa.

Munthuk-munthuk, Boooooss!

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment