Jarang sekali saya begitu menikmati hawa sumuk, panas, gerah. Tapi, kemarin adalah gerah yang begitu saya syukuri, keringat yang menetes karenanya dengan sigap dan sempurna telah menjelma sebagai hutan persembunyian untuk air mata saya. Yang entah kenapa, saya tidak terlalu suka mengakuinya, dan dalam kesempatan ndelik itu, saya biarkan dia berlari-lari, bersama kesedihan-kesedihan.

O, Nazik. Entah mengapa, saat itu aku mengingatmu.

Saat saya sedang di kampus, berdiskusi tentang beberapa matakuliah untuk kurikulum yang diperbarui, saya mendapatkan telpon dari adik saya. Mengabarkan, si Sulung sedang marah. Saya diminta menenangkannya. Lalu, pulanglah saya, menenangkan dia beberapa waktu.

Saat itu pula, saya dapati di rumah sudah ada suami adik bapak yang datang untuk menengok Bapak yang sakit sambil memberikan beberapa advice untuk proses pengobatan di Jember. Kenapa Jember? Karena anaknya, yang saat itu juga datang ke rumah, adalah seorang perawat di RSUD Soebandi. Setelah beberapa saat berdiskusi, Pak Lik saya itu mendapat telpon, setelah menjawab dia segera bergegas pamit.

Ayo ngidul, mbahe wes ra enak” katanya

Saya kemudian mengatakan akan menyusul.

Hari Rabu lalu, mbah atau Ibu bapak saya memang tiba-tiba ambruk saat sedang sholat isya saat menjenguk bapak saya yang sakit. Saat hendak sujud/ruku tiba-tiba dia tidak bisa menahan tubuhnya, dan perlahan ambruk.

Cerita setelah itu adalah rumah sakit, ketergesa-gesaan dan mbah saya yang sudah tidak sadarkan diri. Saat saya dan istri menjenguk di rumah bibi, mbah hanya semalam di rs dan diputuskan dibawa pulang saja, saya mendapati blio (sudah) tidak membuka matanya, separuh badannya yang kanan tidak bisa bergerak.

Saya datanģ, menyapa, memijat kaki kanannya, seperti yang saya lakukan setiap saya menjenguknya. Saya bercerita dengan bibi seputar kejadian Rabu malam itu. Setelah saya rasa saya tak kuat menahan sedih, saya mengajak istri pulang. Dengan terus berdoa, karena hanya itu saja yang bisa saya lakukan.

Maka, saat saya mendengar telpon untuk Pak Lik saya, saya mulai khawatir.

Saya kemudian menyadari keadaan memang tidak menggembirakan, keadaan mbah memburuk. Saya dan keluarga tidak juga berangkat ke rumah bibi, mungkin itu juga yang kemudian membuat bapak ditelpon terus.

Setelah mendapati kabar mbah sudah meninggal, saya bertanya kepada Bapak.

“Ngersakne ngidul, pak?”

“Iya,”

Bapak saya sudah 40 harian tidak bisa berjalan, duduk, karena lumbar-nya bergeser dan menjepit syarafnya (setidaknya itu yang dikatakan dr. Orthopedi, belum lagi ditambah riwayat asam uratnya, dan penyakit dalamnya) sehingga blio praktis tidak bisa melakukan apapun.

Karenanya kemudian, usaha untuk pergi ke rumah mbah yang hanya berjarak setengah kilo saja adalah sebuah usaha berat dan menyakitkan baginya. Tapi, tentu saja kematian mbah adalah sesuatu yang lain, dan akhirnya bapak saya kemudian sampai juga di sana. Tak bisa bergerak, dan memberikan salam perpisahan terakhir untuk ibunya.

Jenazah mbah diletakkan di ruang tengah di depan kamar blio, dan bapak saya memberikan penghormatan dari kamar yang mbah tinggalkan.

Saat ibu-ibu pelayat selesai membaca ayat kursi dan mempersiapkan pemandian jenazah, saya kemudian menemani bapak di dalam kamar. Berdua saja.

Bapak minta teh hangat, setelah selesai meminumnya, dia mulai membuka suara.

“Aku ki wingi wes komitmen mbi mbahe”

Saya yang mendengarnya tak faham,

“Mangkane, pas mau wong-wong do telpon, ‘ndang rene, mbahe naza, paling ngenteni sampean, anak-anake’. Aku mung ngomong ‘omongne neng mbahe, salamku’.”

Saat itu lah saya mulai memahami cerita bapak, tapi saya lalu menguburnya dengan banyak sekali air mata dan rasa sedih. Saya puas-puaskan, karena kami hanya berdua saja.

Saat itu juga, saya sadar betapa hubungan anak-ibu adalah hubungan yang sakral.

Sudah, itu saja.

Lahum al-fatihah.

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment