Jadi gini, jika disuruh memilih antara memaafkan dan membalas perbuatan orang lain, yang saya rasa jahat, kepada saya, maka saya cenderung memilih opsi kedua. Pasalnya? Ya embuh.
Kecenderungan ini saya sadari belakangan saat istri saya sering bilang kalau saya ‘sukanya balas dendam’. Jadi setiap kali istri menasehati saya akan suatu hal, maka saya akan menasehatinya dalam hal lain. Atau, dalam hal yang sama di kemudian hari, agar mengingatkan dia bahwa ‘heh, kamu juga sama saja dengan saya, dalam hal kesalahan ini’, begitu.
Kepada orang lain, saya sadari ternyata hal itu juga terjadi, dan lebih parah. Menurut saya si.
Mungkin itu juga yang membuat cah-cah ‘kantor sempit’ UPT Bahasa menyebut saja ‘raja bully’, sebuah nama lain dari ‘tukang balas dendam’ milik istri saya.
Semisal, seorang kolega merasa perlu mengomentari pilihan jenis kain celana yang saya pakai,
“Heh, iki malah ngangge jeans, ” kata teman saya
Saya saat itu pula, entah dapat ilham dari mana, menjawab dengan enteng saja;
“Sampean ki, lek mbi aku wae wani ngilekke. Njajal kae Pak A, Pak H, yang lain, mbok dielekke juga”
Tentu saja saya melakukannya dengan bumbu banyolan dan wajah konyol saya.
Walaupun efek akhirnya terkesan guyon, saya pikir-pikir lagi ternyata hal itu cukup cruel juga ya. Hahaha, cuk tas nyadar!
Selain di dunia kerja, di pergaulan tetangga pun saya seringkali ‘otomatis’ melakukan hal itu. Semisal, anak saya memang belum bisa naik sepeda. Saya punya pertimbangan sendiri tentang naik sepeda ini, dan saat kami sekeluarga berkunjung ke rumah mbah, anak saya tiba-tiba ingin mencoba sepeda yang tergeletak. Mencoba menaikinya.
Dia kemudian memanggil saya untuk membantunya, dan saat itu lah ada orang yang dengan entengnya bilang;
“Hes alah, wes guede ngono kok ya urung iso numpak sepedah!”
Saya yang sedang kusut pikir, lelah megangi sadel sepeda biar si anak tidak jatuh, tiba-tiba mendidih. Haisy.
Dan saat itu pula ide strike back datang,
“Halah, kowe wes gerang ngunu ya ra iso ngaji nu,”
Bisa-bisanya saya memberikan perbandingan kemampuan tertentu yang berbanding lurus dengan gede badan. Ibarat tinju, dia kasih saya jab di perut, saya balas dengan jab di kepala. (Bener ra iki, hambuh)
Dan, hal kek ginian sering sekali saya alami. Tak peduli siapa pun, saya selalu merasa perlu membalas apapun yang mereka gojlok-kan kepada saya.
Entah dari mana saya mendapatkan ilham tentang seni membalas omongan ini, tapi kalau saya ingat Bapak saya memiliki andil yang lumayan owke.
Dari kecil, saya sering sekali melihat bapak saya bermain srekalan. Nyrekal, istilahnya. Jadi setiap apa yang dibilang orang, bapak mencari celahnya, lalu menyalahkan omongan orang itu.
Sampai suatu ketika, saya kemudian ikut-ikutan, dan saya masih ingat bagaimana respon orang-orang,
“Oo, terah endoke Amnan. Cilik, nyrekalan!
Leave a comment