Saya sudah lama tidak ngisi blog, jadinya pengen juga nulis lagi.

Jadi gini, beberapa hari ini ada beberapa hal yang pengen saya ceritakan, tentang skala prioritas hidup, dunia kerja versus keluarga, bikin atmosfir tempat kerja yang enak dan gak bikin membusuk, bikin lini usaha yang sudah diidam-idamkan sejak zaman baheula, perkembangan anak yang semakin penuh drama, adik saya yang jadi korban bully teman-temannya, kesehatan orang tua, ekonomi yg merangkak dan begitu-begitu saja, sekolah yang kelihatannya harus segera dilanjutkan, dan banyak lagi.

Dari banyak hal itu, kelihatannya tulisan ini akan mentok di curhat ra genah saja. Tentang apa? Kayane tentang pekerjaan saja.

Seorang teman mengirim pesan ke saya tentang sebuah project yang sedang dikerjakan koleganya. Dia bercerita tentang bagaimana seharusnya sesorang memiliki etos kerja yang wow untuk menyelesaikan pekerjaan. Harus dengan ‘hati’, penuh gairah dan bersemangat. Sebagai pemungkas teman saya itu mengatakan, “kelihatannya pride dia memang di project itu, makanya dia sungguh-sungguh”.

Di kota tempat teman saya tinggal, mungkin hal itu sudah menjadi hal biasa. Mendapatkan task, mengerjakannya dg sungguh-sungguh, punya target jelas, reward jelas, lingkungan yg mendukung untuk berkembang dan kolega yang bisa tumbuh bersama. Dengan iklim yang seperti itu juga, sangat mungkin ditemukan banyak pribadi seperti kolega teman saya itu, yang memandang pekerjaan bukan lagi ‘syarat’ mendapatkan upah ‘reward’ bulanan.

Bekerja menjadi seperti apa yang Mark bilang, bahwa value dari Person adalah bekerja. Bekerja merupakan nilai bagi seseorang, semakin ia bekerja dengan baik, nilainya pun meningkat. Bukan hanya dilihat dari upah bulanannya, tetapi juga dari kualitas dirinya. Dari sinilah nanti, kita bisa mengatakan bahwa value mencakup banyak hal, tidak sebatas nilai rupiah saja.

Aku ki jane ngomong opo tho? Hadeh.

Lalu, lanjoooot. Intinya begini lho, saya rasa kita sudah sangat jauh sekali keblinger memandang pekerjaan. Kita (atau mungkin cuma saya saja) m3lihat bahwa pekerjaan adalah cara untuk mendapatkan uang sebagai usaha bertahan hidup. “Sana kerja, biar bisa makan”. Padahal, bekerja yg ideal adalah bekerja yang bisa membuat kita tumbuh, bertemu ide-ide baru, tujuan-tujuan baru, orang-orang dan interaksi baru. Dan tentu saja, jumlah nominal baru yang tumbuh pula.

Apa iya, kita mau bekerja dengan lingkungan monoton, teman kerja yang Bossy, teman kerja yang suka cari muka, target yang tidak genah, mungkin juga leadership yang invisible, lingkungan yang malasnya naudzubillah, ditambah lagi kemampuan kita yang tidak berkembang dan hanya bisa nggrundel saja? Tentu saja kita tidak mau kan?

Lha terus bijimana kalau misalnya Anda sudah tersekap dalam lingkungan seperti itu? Apalagi sudah bertahun-tahun, sudah hampir menjelma robot, datang duduk diam diamplopi dan pulang, begitu saja?

Yang pasti, menurut saya; Anda (atau saya si) harus sadar dengan kondisi ini. Buatlah pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang pekerjaan Anda. Semisal; apa Anda bisa menikmati pekerjaan Anda, apa Anda bisa berkembang secara personal maupun tim di lingkungan kerja Anda, apa penghargaan yang Anda terima sudah layak?

Selanjutnya, kalau ada pertanyaan yang tidak terjawab dengan baik, maka Anda harus segera memutuskan; bertahan atau mencari yang lain. Semuanya tentu harus dilakukan dengan penuh kalkulasi, dan titik poinnya adalah diri Anda tentu saja. Bertahan bisa Anda lakukan jika memang adaptasi mampu kita lakukan, usaha-usaha perbaikan lewat penyesuaian-penyesuaian bisa Anda upayakan di masa depan. Pilihan ini membutuhkan stamina luar biasa, ukur diri Anda jika memang memilih jalan ninja ini.

Jika dengan kalkulasi yang teliti, hasilnya tidak mungkin bertahan, ya apa lacur. Anda harus segera mempersiapkan diri untuk tantangan selanjutnya, dengan membuat kalkulasi dan prioritas-prioritas yang jelas untuk pekerjaan Anda selanjutnya. Pastikan faktor tumbuh dan kembang diri Anda sebagai faktor utama.

Terakhir, value dari pekerjaan ini penting, begitu pun cara pandang kita terhadapa sebuah pekerjaan. Kita boleh memprioritaskan perkembangan diri dalam bekerja, tetapi itu tidak bisa jadi alasan kita menye-menye. Lembek. Sedikit-sedikit ingin pindah, sedikit-sedikit merasa tidak cocok, dll. Ingat, kalkulasi semua faktor itu penting dilakukan dengan sungguh-sungguh dan teliti, dan tentu saja harus dengan jujur.

Sekian, khotbah taek hari ini. Ciao!

linguispekok Avatar

Published by

Categories: