Anak kedua saya cenderung lebih rewel ketimbang kakaknya. Di usia yg relatif dini (dibanding kakaknya dahulu) anak kedua saya sudah faham tentang konsep kebutuhannya. Saat seusia anak pertama saya masih rewel karena jatuh atau karena rangsang eksternal tertentu, anak kedua saya sudah bisa menjadikan rewel sebagai sarana untuk mendapatkan sesuatu. Entah bagaimana, (mungkin hal ini alami, saya tidak tahu) anak kedua saya ini memiliki pemahaman yg bagus bahwa rewel bisa jd alat untuk minta ini dan itu, dan ia terus saja melakukannya setiap kali. Dan tentu saja selalu berhasil.
Suatu malam, entah karena ingin apa waktu itu, anak saya rewel. Setelah dituruti, dan diajak keliling naik motor (ini trik tambahan yg saya dapatkan dr banyak senior orang tua; rewel? Diajak motoran) ternyata rewelnya gak hilang.
Jurus terakhir yg saat itu disarankan kepada saya adalah: digendong sampe tidur. Tentu saja saya lakukan. Sambil dia nangis, saya pakai jarik gendong, saya naikkan anak kedua saya, dan sambil Keliling- keliling di dalam rumah, saya menggendongnya.
Saat itu lah, saya mencoba membuat anak kedua saya merasa senyaman mungkin. Akhirnya, dia mulai kesirep. Terlelap. Dasar bapak ra kuat rekoso, tak butuh waktu lama untuk pundak saya merasa lelah. Dengan segera saya taruh anak kedua saya di kasur.
Eee, lha kok ya bangun. Kroso dekne. Akhirnya riwil lagi, ya tak ada pilihan lain, saya gendong lagi. Dalam menahan lelah gendong itu lah, tiba-tiba saya kepikiran mengajak anak kedua saya berbicara. Ide awalnya ya saya ingin mbujuki dia. Biar dia mau saya taruh di kasur, atau di lantai (anak kedua saya tidunya selalu di lantai) dan saya tidak harus nggendong lagi. Capek.
Saat itu lah, dengan santainya saya bilang ke anak kedua saya:
“Ayo bubuk di situ (saya menunjuk pintu belakang yg sudah saya buka), nanti bubuk sambil lihat bintang”
Wee, manjur. Anak kedua saya langsung mau. Dia minta turun dari gendongan. Bantal saya ambilkan dari kamar, pintu saya buka. Akhirnya anak saya tidur di tengah pintu belakang sambil melihat langit waktu itu. Saya terbebas dari lelah nggendong, anak rewel, dan rasa kantuk yg tidak karuan.
Yg tidak pernah saya duga belakangan adalah; konsep tidur sambil lihat bintang (kadang anak saya juga bilang ‘sambil lihat bulan) jadi semacam hal yg disukai anak saya. Selain jajan dll, saat mau tidur, anak saya sekarang punya permintaan baru; tidur dg melihat langit. Melihat bintang. Dan hal ini juga agak bikin repot juga.
Anak kedua saya kemudian seringkali tidur di depan rumah, di emperan, di depan pintu yg terbuka meblak-meblak, dan itu bisa sampai pagi. Kalau saya, atau istri saya, mencoba menutup pintu, maka dia akan nglilir dan marah.
“Jgn ditutup pintunya, nanti bintangnya gak kelihatan”
Wal hasil, pintu rumah saya seringkali terbuka. Ditambah ada anak kecil yg tidur di tengah pintu, dan tanpa alas apapun.
Ya begitu lah,
Leave a comment