Ceritane, saya mau sharing seputar hal-hal yang saya alami saat kuliah di Australia, termasuk hal-hal baru yang mostly njengkelin, lol. Atau, mungkin resep-resep makanan yang sudah berhasil saya eksekusi, karena satu fakta tak terduga saat kuliah adalah “tiba-tiba saya pandai memasak”. Sialan bener. Sialan karena perasaan tesis saya mandeg begitu-begitu saja, eh, lha, progres memasak malah mencengangkan.
Pengene sih rajin dan up-to-date. tapi, ya sak karepku wae lah. Saya sendiri sih udah pesimis sedari sekarang. Progres menulis tesis ndak karuan, apalagi nulis beginian. Minimal, bisa lah buat rekreasi kecil-kecilan di tengah puenatnya baca artikel ilmiah. Ya, siapa tahu bisa latihan menulis pula. Sukur-sukur ada yang baca.
Begitulah, jadi intinya blog ini mau saya pakai lagi. Nulis lagi, niatnya.
Di tulisan awal ini, saya mau bercerita tentang bagaimana teknik menipu diri sendiri dalam bekerja. Saya mendapatkan ini dari seorang psikolog di kampus untuk mengoptimalkan produktivitas.
Jadi, ada kondisi fight or flight yang diterapkan manusia saat mendapatkan task tertentu. Adakalanya memilih untuk fight, mengerjakan dan menyelesaikan task, dan tidak sering memilih flight, menghindar. Sialnya, bagi otak saya, kecenderungan memilih flight adalah sebuah habit. Sial bener. haha. Alih-alih mengerjakan, saya biasanya malah cari-cari kerjaan lain. Dan, mungkin itu juga alasan kenapa saya malah jadi chef dadakan, alih-alih ngerjain tesis, malah sibuk mengulik situs Cookpad.
Akhirnya, task molor. Tidak selesai dan mumet sendiri. Tak heran istri saya menyebut saya last-minute person. Setelah flight, lama, akhirnya di last minute baru flight. Hasilnya sering kali tidak sesuai ekspektasi, atau parahnya tidak selesai.
Untuk mengatasi hal ini, saya diberi saran untuk menipu otak saya. caranya? Lima menit pertama adalah waktu krusial. Saat godaan untuk flight besar sekali, saya disarankan untuk tetap fight dalam tempo yang pendek sekali. Misal, lima menit atau bahkan dua menit saja. Harapannya, saat lima menit ini terlewati, otak akan terbiasa dengan ritme kerja, lalu akan secara otomatis lanjut bekerja di menit keenam dan seterusnya. Alasan lain, sering kali otak tidak mau melewati masa-masa awal yang malesin, njelehi, karena dia sadar diminta bekerja. Dengan memulai saja, sambil meyakinkan otak bahwa lima menit adalah sebentar, maka godaan flight bisa terlewati.
Benar saja, di banyak kesempatan, teknik ini works buat saya. Setelah masuk ke ritme bekerja, biasanya saya kemudian akan masuk ke mode bekerja. Tanpa sadar, saya memilih mode fight. Dan di akhir waktu bekerja, biasanya saya njuk sadar: wah, sudah dua jam, atau tiga jam bekerja.
Tentu saja, semua tidak berjalan semulus itu. Teknik ini memang works buat saya, tapi di kemudian hari saya tahu bahwa keinginan flight tidak segampang itu dibodohi. Setidaknya, lebih banyak works-nya ketimbang ndak-nya. Karena di beberapa kesempatan, otak saya njuk sadar kalau mau diakalin, dan kemudian dia ndak mau sama sekali memulai lima menit yang sebentar itu. lol.
Begitu lah. Ncen, belajar tuh ndak mudah. sulit mampus. Udah ah,
Leave a comment