Seharian ini, saya sibuk bimbingan dengan supervisor. Isinya, tentu saja diomong sana-sini. Mulai dari performa yang memble selama setahun ini, persiapan fieldwork yang belum matang, dan tagihan kerjaan research assistant yang masih nunggak. Intinya saya babak belur. Tapi, tentu saja saya juga dapat hikmah. Setiap bimbingan pasti menyimpan hikmah, walau sering kali saya menerimanya dengan hati yang wow wow wow. sial.
Dari sekian banyak ilmu yang saya serap dari proses bimbingan dengan supervisor saya, masalah manajemen timeline kerja merupakan hal paling mewah yang saya rasakan. Bukan berarti saya sudah mahir handle dan manage timeline kerja ya, tapi, minimal, sekarang saya jadi tahu kalau begituan tuh ada di dunia. Orang tuh, ternyata, kalau kerja perlu pakai timeline dengan imbuhan milestone yang perlu di-achieve di rentang waktu tertentu. Hih, jan bodo banget. sama hal lumrah beginian aja saya gumun, dan merasa mewah. Maklum, saya merasa hidup dan ritme kerja saya sebelumnya, atau bahkan saat ini, cenderung acak adul dan mawut.
seorang teman saya pernah berujar:
“sampean ki kayane riding the flow. jalaan, menikmati”
Benar juga ya, batin saya. Artinya, kek gak direncanain gitu si hidupku ini. Kadang saya juga sadar, kalau tak break down, ncen ndak ngerti saya apa manajemen timeline dan milestone saya, misalnya, untuk seminggu ke depan aja deh. Ndak tau tuh diriku ini. Kan sialan bener ya, sebegitu amburadulnya.
“lah, kan banyak orang yg juga kek gitu, idup lempeng aja. ngapain pusing sih?’
Ya iya, tapi kalau untuk kerja, misalnya sebagai mahasiswa pi-ej-di, ndak punya aturan timeline beginian bukannya bunuh diri akademiks? hais, embuh. Tapi ya, yang saya rasain sih begitu ya. Perasaan hari-hari sibuk, occupied sama kegiatan, tapi progres riset kok ya mandek. Lelah gak ketulungan setiap akhir pekan, tapi kok rasanya kerjaan ndak ada yang jadi. Dan berlanjut, tiba-tiba udah mau masuk bulan review penilaian tahunan aja. Kan asyu ya, time flies but kerjaan embuh. LoL.
Di bimbingan hari ini, supervisor saya spesifik menyebut masalah timeline ini.
“Penting kamu punya target besar, tapi juga perlu di-breakdown. Apa target harianmu, mingguanmu. Gimana kamu manage timeline dan milestonemu”
njelehi sih, tapi benar. Kan sialan. Anyel, karena saya ndak disiplin masalah beginian, dan lebih anyel lagi, kok ya manage timeline beginian nih syulit mampus buat saya.
Hal yang menarik pula adalah saya baru menyadari bahwa; INI ADALAH SKILL PENTING!
goblok banget saya tuh emang. Karena ini adalah skill, dan di kondisi sekarang, saya ndak punya cukup muscle memori tentangnya, ya duh jingan. syulit pol. Dari awal kuliah memang sih udah diberitahukan, tapi sampai di tahun kedua, konsep mengenai timeline dan milestone ini baru nyampe di menyusun big plan tahunan or semesteran. Bagaimana menjadikannya achievable target dengan memecahnya menjadi target-target kecil, belum sepenuhnya bisa saya laksanakan. Hasilnya, di persiapan review tahunan kedua saya, supervisor lumayan kecewa.
walaupun begitu, tentu saja hari ini saya lalui ndak semua-mua tentang kekecewaan to. supervisor boleh kecewa, saya boleh merasa goblik banget, tapi ya optimistis tipis-tipis ya kudu lah harus ada. Untungnya (isone mung untang untung, taik!) ini terjadi di tengah-tengah perjalanan pi-ej-di. Masih ada waktu, dikiiiiit, untuk belajar dan menabung muscle memori, latihan disiplin merencanakan dan memanage timeline dan milestone. Belajar disiplin pelan-pelan. Apakah nanti sukses? ya wes embuh. Ya, yang penting saya lakoni dulu to ya, dengan perih-perih dan sebal-sebal karena diomelin supervisor, ya wes pokok dilakoni.
sambil sinau, sambil selalu bersenandung:
“aja ngucap ‘bodho ya ben’, golek ilmu kudu telaten”
sekian. Canberra, 31 March 2026.
Leave a comment