Di Jogja, dulu di tahun 2009, seingat saya hanya ada dua Bioskop. Satu bioskop ada di di Ambarukmo Plaza, itu yg 21 (twenty one) atau XXI (ek ek wan) saya lupa. Satu bioskop lagi ada di jl. Urip sumoharjo kalau tidak salah. Bioskop kedua ini ada belakangan, dan waktu itu masih baru dibuka.

Karena saya memang tidak sering ke bioskop, pengalaman saat saya pergi kesana begitu berkesan dlm diri saya.

Di tahun itu, kalau tidak salah film Avatar sedang ramai diputar di berbagai bioskop. Kami segerombolan anak kos yg juga pengen merasakan masuk bioskop, memutuskan untuk menonton. Saat kami masih di kampus, kami bertemu dan memutuskan untuk menonton. Pilihan kami waktu itu di bioskop yg ada di Ambarukmo Plaza.

“Meh nonton seng jam piro?” Tanya teman saya.

“Seng jam 1 wae. Engko Fareh kon nukokne tikete. Kita-kita ketemu di sana. Piye?” Kata teman yg lain.

“Yawes ngono wae. Jam setengah siji ketemu AmPlaz ya” kata saya meyakinkan mereka.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menonton bersama. Seperti yg disepakati, sehabis kuliah jam 10an, saya kemudian meluncur dari kos Gaten menuju AmPlaz. Jaraknya memang tidak jauh, saya pinjam motor Honda 70 Cak ucup, teman kos saya, kemudian menyusuro jl. Wahid hasyim ke selatan menuju Jl. Solo (urip soemoharjo).

Sampai jl. Solo, bangunan Amplaz sudah terlihat. Saya parkir dan kemudian memesan tiket. Setelah selesai semua, saya kembali kos dan bersiap berangkat beberapa jam kemudian.

Tidak lupa, sejam sebelumnya saya mengkonfirmasi ke teman-teman, ‘jo lali jam 1, cah. Nonton avatar neng Twenty one.’ ‘Ok’ jawab mereka semua.

Setelah waktu datang, saya bergegas berangkat. Tidak butuh waktu lama, saya sudah berada di depan bioskop. Satu persatu teman saya datang. Kami mengobrol sambil menunggu waktu pemutaran film.

Sepuluh menit sebelum pemutaran, sudah diberitahukan bahwa studio sudah dibuka. Saya dan teman-teman segera bergegas masuk. Yg tidak kami sadari waktu itu adalah, satu dari teman saya belum datang.

Saya baru sadar saat saya membagikan tiket yg saya beli buat mereka.

“Bhajingan, Jazuli rung teko!”

Sedang film sudah mau diputar, dia malah entah dimana. Tiket masih di tangan saya. Karena tak sabar saya menelpon dia.

“Howe, awakmu neng endi? Meh mulai ki lho” tanya saya kesal.

“Aku wes teko kie. Awakmu neng endi?” Jawab dia

“Aku neng ngarep studio 4. Reneo. Neng lantai 4”

“Heh, iki gur sak lantai, Lek! Ra enek lantai 4”

“Heh awakmu ki neng endi tho?”

“Aku neng XXI jl Solo”

“Bhajingan, bioskop e ki neng Amplaz, Syu!”

Maka, akhirnya saya harus rela menunggu dia di depan pintu, sementara teman-teman yg lain sudah masuk nonton Avatar.

Tak lupa, saya wiridan sepanjang menunggu dia.

“Bhajingan, bhajingaaaan”

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

5 responses to “Saya dan Bioskop (2)”

  1. Ami Avatar
    Ami

    Njajal gawe sng kyok ngene laaah

    Like

  2. inyong Avatar
    inyong

    bhajingan bhajingan… kalimah jancukiyah 😂

    Like

  3.  Avatar
    Anonymous

    Jazuli again&again 😁

    Like

    1. linguispekok Avatar

      Hehe, ngangeni kaan. 🤣

      Like

Leave a reply to inyong Cancel reply