Banyak orang bilang ke saya, setelah saya menikah, semacam khutbah nikah dari mereka untuk saya, bahwa “nanti 5 tahun pertama akan jadi ujian pernikahanmu. Di lima tahun itu kamu dan istrimu akan diuji. Tentang apa saja. Jika fase itu terlewati, semua akan baik-baik saja. Lancar jaya”.

Saya malas membahas kompetensi orang yg khutbah ke saya, tapi nyatanya setelah 7 tahun saya menikah, mbelgedes! Hubungan saya dan istri masih banyak bertengkarnya. Pembagian peran seringkali terasa tidak pas, saya sering merasa kebanyakan beban. Begitu juga istri saya. Sama saja.

Akhirnya, hari-hari kami dilalui dengan masalah yg terus saja datang. Bahkan hingga saat saya menulis ini.

Saya si tidak mau menyalahkan teori tersebut, karena mungkin juga itu cocok buat mereka. Saya tak peduli-peduli amir.

Tapi, bukan hal khutbah itu sebenarnya yg pengen saya omongkan. Hal tentang pertengkaran setiap hari, antara suami istri, beberapa hari terakhir menjadi concern saya dan istri.

Di sebuah sore, tanpa prolog yg jelas tiba-tiba istri saya berucap:

“Kita kok ribut terus ya,,”

Saya yg masih isah-isah (seingat saya, saya sedang mencuci piring) mendengarkan tanpa begitu memperhatikan. Istri saya kemudian melanjutkan omongannya;

“Kayane kita perlu deh, menaikkan standar marah kita. Masak cuma gara-gara sempak habis aja marah. Masak cuma gara-gara disuruh beli pampers, ga berangkat-berangkat aja njuk marah”

Dari sini saya kemudian berhenti mencuci piring, menatap istri saya dan

“OK” Kata saya. Tak ada diskusi lain. Karena memang saya setubuh, eh setuju sepenuhnya dg omongannya. Tak perlu ada diskusi lagi. Titik.

Maka, beberapa hari kemudian menjadi hari-hari yg canggung bats buat kami. Kami termakan omongan kami sendiri, karena sejatinya: menjadi penyabar bagi seorang temperamental seperti kami tidak semudah itu, Ferguso!

Dan kisah selanjutnya adalah datangnya kemarahan-kemarahan canggung.

Yaaah, iki wes jam setengah pitu. Anake gek ndang dicewok i. Piye tho sampean ki? Hiiih. Aku selak budal sekolah”

Dan datang lah jawaban yg menghibur;

Heleeeh. Mosok ngunu wae nesu? Mbok standar marahe didukurke”.

Di lain hari, saat saya pulang dari kampus, masuk ruang tamu disambut seragam sekolah anak yg tercecer, kertas-kertas berserakan,

Ndaaaa. Jane opo abote tho nyapu ki? Apa wes lali carane nyapu. Kie deleng omahe!”

Istri saya yg sedang nyusuin Adiba (anak kedua saya) cuma menimpali simple;

Ehm,, jare standar nesune didukurke? Lha kok ngegas-ngegas?”

Dan hal seperti ini berlangsung terus, kami saling mengejek mengingatkan satu sama lain. Sampai akhirnya kami terbiasa. Saat saya mulai marah, istri saya menatap saya, dan sayapun paham.

“Iya iya, standar standar”

Sambil mangkel dan kemudian ngaleh.

Setelah beberapa minggu, sekarang, saya merasa sangat beruntung. Dari entah ilham apa yg merasuki istri saya di sore itu, hingga menjadi sebuah laku yg menjadi alarm kehidupan kami. Selanjutnya semua terasa lebih mudah.

Banyak hal kemudian kami tanggapi dengan mesam-mesem saja. Terasa lebih ringan. Dari mulai pembagian tugas domestik, siapa yg nyebokin anak, memandikan dan menyiapkan anak sebelum ke sekolah, menyapu, menata baju di almari, mencuci sempak yg banyak bergelantungan di kamar mandi, hingga pengerten tentang karir masing-masing.

Saya tidak tahi, eh tahu kenapa ini bisa terjadi. Saya juga tak tahu apa Anda bisa mengambil pelajaran dari cerita saya dan istri, tapi yg pasti saat ini saya cuma teringat pesan dosen Filsafat Ilmu saya, karena menurut saya hal ini lebih pas buat kehidupan kami ketimbang khutbah ttg lima tahun pertama pernikahan itu;

“Hidup itu cuma peristiwa perubahan dari rasa senang menjadi susah, dan sebaliknya. Tak usah berlebihan”

Tapi satu hal yg perlu saya ingatkan, Anda tidak bisa mengerti yg saya rasakan sebelum Anda menikah, maka menikahlah! 🤣

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

10 responses to “Standar Bahagia”

  1. mukhtarsyafaat19 Avatar

    pak bagaimana cara bikin pamletnya

    Like

  2. mukhtarsyafaat19 Avatar

    bahagianya mahasiswa apa pak?

    Like

  3. Ami Avatar
    Ami

    Iki kok kyok sng ng bukune mark manson yoo

    Like

  4.  Avatar
    Anonymous

    yo yo yo…

    apikkkkkkk

    Like

  5. Ahmad Jazuli Avatar
    Ahmad Jazuli

    Asyik tenan… wkwkwk…

    Like

    1. linguispekok Avatar

      Hahaha, lha isone mung ngono je. 🤣

      Like

      1.  Avatar
        Anonymous

        Haha,
        Apik, Pak. Lanjutkan.

        Like

Leave a reply to mukhtarsyafaat19 Cancel reply