Saya menulis ini saat saya menunggu si Sulung keluar dari kelasnya, TK B di salah satu TK di dekat rumah. Dia tidak kunjung keluar, saat saya menengoknya, di kelas sedang ada tebak-tebakan. Quiz, yg dapat menjawab akan mendapat giliran pulang. Semakin ‘pintar’ menjawab, semakin cepat pulang. Yang pulang terakhir? Hehe. No comment.
Saya jadi teringat omongan teman sesama wali murid,
“Maas, anake sampean iseh neng njero. Urung muleh”

Teman itu bicara kepada saya sambil menaiki motor. Tentu saja bersama anaknya, yg sudah bisa pulang.
Saya kemudian ingat pula, bagaimana anak-anak yg belajar di rumah, berkali-kali minta quiz sebagai syarat pulang. Disek-disekan istilahnya. Tentu saja saya tolak secara halus.
Mungkin memang pendidikan kita sudah sedemikian canggih memasukkan kompetisi sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.
“Nak, hidup itu memang tentang kalah dan menang. Jadilah pemenang. Nomer satu. Jangan jadi nomer dua, apalagi yg terakhir. Itu aib, Nak.”
😂
Memiliki anak yg selalu kalah dalam persaingan di kelas memang tidak mudah. Saya dan istri juga masih merasakan ke-takenak-an itu, walau kadarnya sudah sangat menipis karena kami tak lagi peduli-peduli amir dengan hal beginian, karena kami lambat laun mulai belajar dan menyadari, banyak sudut pandang yg bisa digunakan untuk ‘melihat’ anak-anak kita. Tapi, tentu saja banyak orang tua memiliki pandangan yg berbeda, dan saat mereka memandang kemampuan berkompetisi sebagai hal penting dan anak mereka tidak bisa ‘menang’, maka dunia bisa menjadi tempat menyeramkan bagi mereka. Mungkin.
Efeknya, orang tua merasa perlu mengikutkan anak-anak mereka ke les-les sebagai suplemen tambahan bagi si Anak. Selepas sekolah, anak tidak kemudian beristirahat dan memberi waktu pengetahuan yg sudah mereka dapatkan untuk mengendap, tapi malah memberikan porsi lebih, input lebih, untuk otak mereka yg sedang berkembang.
Selama saya mengajar anak kecik, anak SD, mereka semua memiliki kemampuan yang beragam. Preferensi kesenangan yg berbeda. Salah satu anak yang belajar di rumah senang sekali matematika, setiap hari minta diberi soal, untuk latihannya. Ada yang tidak terlalu suka matematika, tetapi hasil gambarnya bagus, memiliki cerita. Yang lain pun juga memiliki bidang yg mereka sukai sendiri.

Selain preferensi, yg jarang sekali tidak kita sadari adalah, beberapa anak juga mengalami kesulitan belajar. Belajar bagi mereka tidak semudah yg kita kira. Lalu, kira-kira jika anda adalah orang tua dengan anak yg mengalami ‘sulit belajar’, anda mau bagaimana?
Hehe, mbuh lah.
Mungkin ini adalah bukti, bahwa mendidik itu bukan perkara gampang. Memberikan pemahaman yg pas kepada anak tentang dunia, tentang kehidupan, adalah hal sangat sulit yang sering diremehkan. Maka sekali seseorang sadar akan sulitnya hal ini, dia bisa saja syok. Seperti yg saya rasakan.
Nduwe anak ki ra gampang, Syuu.
Akhirnya,,,
Setelah saya menunggu agak lama, akhirnya si Sulung keluar. Tentu saja menjadi yg terakhir. Maka saya menyambutnya dengan senyum, gembira. Saya saat itu berjanji memberikan kenangan yg tidak akan pernah dia lupakan. Untuk kemudian menjadi pengganti pengalaman ‘gagal’ memenangkan quiz-quiz an di kelasnya.
Maka, selama perjalanan pulang, dia saya naikkan ke atas sepeda, saya kemudian menuntun sepeda itu. Di perjalanan saya tidak menyela semua ceritanya, saya jadi pendengar yg baik dg sesekali menimpali. Tak saya sangka, tiba-tiba pikiran saya terbang ke masa lalu saat Mbah saya melakukan hal yang sama kepada saya.
Jika bukan kenangan yg indah seperti ini yang kita berikan, lalu apa lagi?
Leave a comment