Dua malam yang lalu, saat saya sedang menikmati rasa nyut-nyut di kepala saya, sinambi menonton pertandingan Bola, emak saya memanggil saya dan memberikan kunci motor. Ternyata, kunci motor itu bergantungan secara bebas di lubangnya, sedang motor saya berada di depan rumah. Jika saya malam itu ketiduran, maka motor saya sudah siap dibawa oleh ‘siapapun’, tanpa perlu izin saya. Walaupun hanya Suzuki RC jet cooled, tapi kalau gratisan siapa tak mau? Dan di saat seperti ini, slogan yang paling harus kita ingat adalah slogan Bang Napi: kejahatan ada bukan melulu karena ada niat pelakor, eh pelaku. Tapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah!
Sambil berjalan pergi, emak saya mengingatkan sekali lagi agar motor segera dikandangkan.
“Didemek longkangan, aja neng ngarep omah ngunu kuwi” ujar Blio.
Saya cuma bisa ‘nggeh’ dan bangun. Melaksanakan perintah lalu segera kembali kruntelan kemul dan nonton Bola lagi.
Dan saat berjalan menuju kemul itu lah, tiba-tiba kenangan saya kembali ke medio 2009-an, saat saya masih jadi mahasiswa jelata di Jogja, yang kebetulan ngekos di daerah Gaten, dekat dengan PP. Wahid Hasyim.
Saya sukses ngekos di sana selama dua tahun. Eh, bukan saya ding yang sukses, yang sukses adalah Bu Kos saya yang kuat menampung saya dan teman-teman selama dua tahun. Saya baru sadar hari-hari ini, bahwa menjadi bapak/ibu kos bagi saya yang nguawur ini, pastinya butuh ekstra kesabaran, dobel ketabahan, dan saya curiga bu Kos saya memiliki stok sabar melimpah. Lha dua tahun, je. Terlebih, kalau ingat biaya kos yang murahnya minta ampun, cuma 1 juta untuk setahun lamanya. Maka dari itu, saat di akhir tahun kedua, saat saya dan teman-teman mendapatkan early warning berupa kalimat: “tahun ngenjang rencanane ajenge direnovasi, Mas”, kami pun pasrah dan segera mencari tempat kos ganti. Kami semua menyadari, ‘stok sabar bu Kos sudah menipis, mungkin malah sudah habis’
Sebagai salah satu tersangka penghabis stok Sabar bu Kos saya ini, saya tidak bisa tidak untuk menuduh salah satu teman saya. Sebut saja dia: Jazuli. Dan saya baru menyadarinya akhir-akhir ini. Begini kira-kira ulasannya.
Di suatu malam, teman saya ini sering sekali mampir di kosan saya. Bahkan, menginap juga. Walau bu Kos sudah mewanti-wanti untuk tidak memperbolehkan teman menginap, tentu saja saya bah bah prek. Jadi, begitulah habit teman saya itu, berkunjung, hingga larut lalu pulang atau menginap.
Masalahnya, di kosan saya tidak tersedia tempat parkir yang representatif. Tempat parkir kami, anak kos, adalah sebuah garasi mobil yang biasanya sudah penuh oleh motor bu Kos dan adiknya. Ditambah dengan motor dua tiga teman kos saya. Saya? Saya tak punya motor. Bukankah sudah saya bilang tadi, kalau saya ini mahasiswa jelata? Aiiisy
Akhirnya, setiap kali teman saya berkunjung, dan seringkali sampai larut malam, motornya diparkir di samping kos, mepet dengan jalan, dan itu artinya: ‘kesempatan’. Dan, tentu saja bu Kos sangat concern tentang hal ini. Kalau motornya hilang bagaimana? Sebagai pemilik TKP, pasti bu kos tidak mau ribet kan?
Maka, beberapa kali bu Kos dan adiknya, harus me-ngomongi teman saya ini.
“Mas, kae motore dilebokne”
Translate bebas:
“Mas ndang muleh. Motormu kae lek ilang aku ya repot, meh dilebokne ra eneng tempat, dadi muliho wae kono”
Biasanya, saya dan teman-teman cuma menjawab “nggeh”, lalu kami melanjutkan ghibah, atau main PS. Dan biasanya, bu Kos atau adiknya kemudian tidak ngomong lagi. Mungkin masuk rumah kemudian tidur. Tapi tidak malam itu. Saya sayup-sayup mendengarkan langkah kaki menuju kamar saya. Saya tidak terlalu menghiraukan, apalagi teman saya yang berkunjung itu. Tiba-tiba saja, langkah kaki itu sudah menjadi suara pintu semi dipukul. Dari balik pintu saya melihat wajah adik Bu kos. Saya tidak terlalu ingat ekspresinya. Yang saya ingat cuma inti perkataan dia, dan tentu saja ekspresi teman saya.
“Wes ket wingi tak omongi, pedahe ojo dideleh neng njobo. Wes kono muleh wae. Rasah dolan mrene”
Saya yang kebetulah di situ merasa gak enak hati dengan teman saya ini. Rasa itu saya tahan sambil menahan muka saya untuk tidak tertawa. Saya sungguh jengkel dengan orang yang membuat kata-kata bijak: “jangan lah engkau menari di atas penderitaan orang lain”. Karena pada waktu itu saya sadari, bahwa hal itu tidak boleh dilakukan karena ternyata menyenangkan sekali. Bukankah banyak dosa yang dilarang juga menawarkan berbagai kenikmatan?
Setelah itu, saya tentu saja mengantarkan teman saya itu untuk keluar kos dan kemudian dia pulang. Beberapa hari dia tidak dolen lagi ke kosan saya. Saya maklumi hal ini. Lagian memang tidak mudah menghilangkan kenangan semisal ini. Saya dan teman se-kos-an saja masih ingat, apalagi pelakunya. 😂
Sedihnya adalah, beberapa waktu kemudian, saya lupa berapa minggu, atau bulan setelahnya, motor teman saya itu benar-benar hilang. Dan itu terjadi di kos dia sendiri di daerah Krapyak sono. Tentu saja teman saya ini sedih, dan kebingungan mencari motonya kemana-mana.
Dari mulai peristiwa hilangnya motor ini pula, saya kemudian jarang menjadikan peristiwa ‘diusirnya’ teman saya itu sebagai bahan obrolan dan candaan sesama teman. Saya, walau terkadang jahat, juga punya hati nurani lah. Tapi sejujurnya, ada hal lain yang membuat saya kemudian tidak menjadikannya bahan candaan.
Singkat cerita, saat saya sudah lulus dan menemani istri saya menyelesaikan skripsi di Gunungpati Semarang, saya tidak bisa bermalam di kos istri karena kosnya khusus perempuan. Akhirnya, saya menghubungi salah satu saudara teman kos, yang kebetulan juga sudah pernah ketemu. Setelah sms-an lokasi kontrakannya, saya cus menuju kesana.
Alih-alih mendapatkan penginapan yang well dan ok, saya disambut oleh bu Kos (kontrakan) yang entah kenapa melihat saya dengan tidak enak hati. Saya, yang merasa tidak punya masalah, dan sudah memasukkan motor ke rumah (sebagai bentuk ngati-ngati biar tidak seperti teman saya tadi) tentu saja ra urus. Saya cuek saja, ngobrol ngalor-ngidul dengan adik teman saya itu.
Ternyata, bu Kos satu ini stok sabarnya tipis amir. Tanpa ba bi bu, dia masuk rumah kemudian mengintrogasi saya.
“Sampean siapa, Mas?” Tanya Blio, sambil menampakkan ketidaksukaan.
“Kulo rencang niki, Bu”
“Meh nginep, Po?”
“Nggeh” jawab saya lugas.
Sejujurnya, waktu itu saya ngantuk pol. Dan saya menyesal tidak langsung tidur, malah ngobrol ra karuan jluntrunge.
“Sampean saiki muleh wae, Mas”
Dari sini saya mulai masang wajah auto bloon. Gabungan antara rasa ra mudeng dan rasa naas, bersamaan.
“Pripun maksude, Bu?” Tanya saya. Bloon.
“Wes sampean muleh wae. Aku wes ra kuat, Mas”
Ancuuuk, ha kok aku malah diusir ki. Batin saya.
“Mambengi, anakku nangis suwengi-wengi. Neng kene malah nonton bal-balan, bengak-bengok ra karuan”
Saya rasa, tidak enak lah kalau dialog ini diteruskan. Sedih batz aku tu. 😂
Sambil mencoba merangkai puzzle peristiwa yang mendadak menimpa saya, saya dengan klitah-klitih menuntun keluar motor, ditemani adik teman saya, saya kemudian merasakan apa yang dirasakan teman saya dulu. Sambil menghidupkan motor, saya terus wiridan tanpa henti. Bhajingaaaan.
Motor hidup, saya gas tanpa menoleh ke belakang. Saya putuskan dengan singkat; tidur di masjid kampus. Dan akhirnya, saya bisa nggletak di emperan masjid ditemani nyamuk Gunungpati yang cerewetnya minta ampun. Sambil rebahan saya ambil hape saya dan mengirim sms ke teman-teman kos saya:
“Bhajingan, Caak. Aku ngalami seng dialami Jazuli. Diusir ko Kos-kosan!”
Leave a comment