Setelah pulang dari mudik idul fitri tahun ini, bukan hanya rasa senang curhat saja yang datang pada saya. Keinginan untuk terus memberi makan nalar dengan bacaan-bacaan bermutu juga mulai saya masukkan ke dalam list prioritas kerjaan tak bermutu hidup saya. Bersanding dengan nonton pilem, ghibah dengan teman kantor, main futsal, dan bengong; do nating.

Maka, saya lalu mulai membaca lagi. Novel, buku-buku nonfiksi, status-status influencer, bahkan curhatan status-status teman kantor, semua saya lahap. Sialnya, semakin hari daftar buku yang bisa dibaca kian menipis. Solusi datang, teman kantor menawarkan beberapa novel untuk dibaca, juga beberapa buki nonfiksi. Saya ambil. Untuk buku pinjaman ini saya baca bergantian dengan istri, begitu seterusnya hingga akhirnya tak ada buku lagi.

“Masih ada novel lain?” Tanya saya mbribik cari pinjaman buku.

“Gak ada” jawab teman saya.

Aisy, jawaban yang temtu saja tak pernah saya harapken. Lalu bagaimana saya ini, rasa pengen baca saya, bagaimana harus dipuaskan, status teman-teman saya sudah jadi begitu monoton je, status si A ngrasani B, status B ngrasani C, status C ngrasani aku, lalu saya baca semua statusnya, begitu seterusnya.

Pengen baca, tak ada buku, kondisi ini lha kok ya bisa mbuat saya teringat suasana Jogja ya, perpus FIB tepatnya. Dulu, dulu sekali, saat saya masih jadi mahasiswa kismin, yang kebetulan pengen baca dan tidak bisa beli, bahkan untuk buku-buku bajakan 15ribuan di shoping Jogja. Dengan uang-uang yang ada di kantong saat itu, nasi sayur dengan lauk gorengan dua kali sehari adalah pilihan logis dan teratas dalam strata skala prioritas saya. Beli buku? Tentu saja tidak, Bos!

Maka, setelah bisa tenang ini pikiran karena setidaknya bisa tidak kaliren dan bisa memiliki sedikit tenaga untuk memikirkan tugas kuliah, proyek lelahan dengan membaca buku harus segera, urgent, untuk diadakan. Entah bagaimana, pokokny harus ada. Dan begitulah sosok bangunan tua Perpus FIB itu kemudian menjelma suatu oase yang memberikan saya alasan untuk pergi ngampus, sesekali menyisihkan materi nahwu shorof yang selalu saya remehkan.

Tak ayal, saya jadi hapal betul ubin lawasnya yang mengkilat dan berbau sabun pel, bau kapur barus yang biasanya berserakan di rak-rak buku, dan tentu saja bau kertas-kertas buku yang beradu dengan lembab yang entah kenapa begitu membekas dalam benak saya. Maka, perpus ini lah yang kemudian menjadi penyelamat saya, memberikan stok novel, cerpen, buku-buku teori yang menyenangkan mumeti tapi kudu dibaca, penulis-penulis yang top, wes pokok e nyenengke.

Tapi tentu saja, walau Perpus menyediakan akses yang begitu waw, tapi saya tetap tidak bisa berbuat yang aneh-aneh dengan itu buku. Palagi, saat sesosok Mas Atho’ (teman, kakak angkatan, dosen sahaya) yang kemudian muncul menawarkan ngaji dunia sastra Arab yang begitu luasnya, yang dalam prosesnya kami sepakati bahwa ndedar buku adalah pintu masuknya. Maka, saya tentu saja musti beli buku tho? Biar leluasa saya pelajari, corat-coret seperlunya, kasih stabillo sana-sini, dan saya catatan ketidakpahaman saya lewat tanda tanya yang serupa jamur di setiap lembar, kalau tak punya sendiri kan tak bisa.

Akhirnya saya beli juga buku itu, History of the Arabs, punya pak Hitti yang saya cari muter-muter toko buku tahun itu. Dari togamas di Gejayan, ke SAB, lalu ke Gramedia, saya lupa dimana kemudian saya mendapatkannya, yang saya ingat kemudian bahwa hanya tinggal dua eksemplar saja. Mahal pula buat ukurab saya waktu itu, bisyaroh sebulan ngelesi anak SD, syem!

Tapi tentu saja, pengalaman itu menghadirkan semacam sensasi ‘pengen beli lagi’, yang tak perlu waktu lama untuk tergencet dengan kahanan perekonomian proletar cem saya ini. Sebagai katarsis ala-ala, kemudian dalam rentang waktu tertentu, yang pastinya panjang, saya pun beli buku. Ke toko buki menjadi istri kedua setelah perpus FIB, tapi hanya icip-icip saja. Lihat-lihat dan membaui kertas-kertas paperbook yang aduhaaai. Begitu menyenangkannya.

Akhirnya, selama empat tahun kuliah, ada lah buku-buku yang berhasil hinggap di kamar kos kunyel saya. Yang saya bolak balik, saat diskusi bareng mas Atho’, buku-buku teori yang saya baca, lipat, sambil membaca puisi Nazik al-Malaikah, objek materi skripsi ntut saya. Kesemuanya memiliki cerita, yang kalau saya pikir lagi, begitu eman-eman jika harus berpisah. Mereka adalah teman saya saat-saat kelaparan, pusing dengan banyak keruwetan diri sendiri.

Tapi, saat itu saya merasa buku memang untuk dibaca tak lebih, dimiliki karena memang untuk diperlakukan semau pemiliknya guna mengekstrak pesan, menafsir emosi penulisnya, tapi setelah selesai semuanya dia menjadi ‘buku’ saja, tak lebih.

Maka, saay teman saya meminjam, tanpa janji mengembalikan pun, akan saya berikan sukarela. Toh saya sudah tahu pesannya, berdasarkan limitasi penafsiran saya tentunya,

‘Bawa saja. Tak apa, nikmati’

Begitu ujar saya.

Tak ada katalog peminjam buku-buku saya yang sedikit itu, hanya sekadar ingatan siapa dan apa judulnya yang jangan pernah Anda tanyakan kualitasnya. Jika tak kembali, oh jangan khawatir. Saya sudah ikhlas, toh kan saya sudah baca.

Begitu seterusnya.

Buku-buku yang saya dapatkan itu lalu harus mengikuti saya pulang ke Banyuwangi karena paksaan pekerjaan dan sudah lulus pula, mengikuti saya dengan keputusasaan, mungkin. Karena saya juga tidak menganggap mereka wah lagi, karena saya toh sudah menggauli mereka, sudah saya baca.

Perasaan terhadap buku ini lalu mewujud sebuah bentuk derma sok-sokan yang saya lakukan. Saya yang tak bertahan lama di Banyuwangi, harus pindah lagi ke Jogja. Semacam nekat session 2 yang entah kenapa saya tempuh. Saat hendak melakoni laku nekat itu lah, tumpukan buku itu lalu terberait keinginan untuk memberikannya ke orang lain, biar dimiliki mereka. Tak apa, walau saya beli dengan susah payah, toh saya sudah baca tho.

Sebuah sekolah tinggi tetangga rumah, yang petugasnya kebetulan teman SD saya, saya putuskan sebagai destinasi bagi buku-buku saya. Pikiran naif saya, siapa tahu di desa saya itu akan tercipta sebentuk Perpus FIB yang lain. Kalau tak bisa dalam wujud wadagnya, bangunan penuh buku, lembab, kapur barus dan bau cairan pembersihnya, maka serupa semangat literasinya. Dan buku-buku kucel saya bisa ikut cawe-cawe walau tak signifikan. Yang penting cawe-cawe.

Proses setelahnya adalah proses teknis yang malas saya kerjakan. Saya hubungi teman saya untuk mengambil buku-buku saya. Saya berpesan juga pada anggota keluarga bahwa penjaga perpus yang teman SD saya itu akan menjemput buku-buku saya.

Selain teknis pemindahtanganan yang saya cuekin sedari mula, pacar saya waktu itu lha kok marah besar mendengar kabar perpindahan kepemilikan ini.

“Kuwi buku lek ngumpulke 4 tahun, sesok lek sampean butuh terus piye?”

Itu hanya prolog saja, selebihnya adalah ketidaksetujuan yang setelah saya pelajari, terkadang, bisa diselesaikan dimulai dengan diam dan anggukan. Ditambah kesabaran ndaging selama menanti hilangnya gerutuan itu, tentu saja dengan sendirinya. Kita, para lelaki ini, tak ada kuasa menghalau itu semua. Sebenarnya terbersit juga jawaban;

“Ah, toh saya sudah baca itu buku-buku”

Tapi tentu saja sewujud kalimat itu kemudian hanya mendiami angan-angan saya. Duduk manis, menikmati saya yang berusaha bersabar.

Omongan pacar saya itu akhirnya bisa saya lalui dan saya mengarungi semesta baru pengalaman-pengalaman kehidupan yang entah bagaimana membuat saya lupa tentang peristiwa ini, tentang buku-buku dan bahkan tentang membaca itu sendiri. Bertransformasi menjadi rutinitas kecil harian, yang menjemukan tapi mau tak mau saya lalui.

Maka pengalaman dengan buku itu, perasaan yang begitu saja terhadap buku, berubah di masa-masa ini. Dimulai setelah mudik idul fitri tahun ini, seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Grundelan pacar saya dulu, tentang perasaan kok ya malah diwehne terhadap buku-buku itu, menjelma kenyataan yang terasa ganjil, nganyeli.

Saya yang lagi seneng curhat, butuh banyak bahan untuk dicurhatkan, butuh referensi gaya curhat, butuh pendobrak curhater block, yang kemudian saya rasa buku lah penawarnya, maka pertanyaan “sesok lek sampean butuh terua piye?” yang dulu diucapkan pacar saya lha kok sekarang membutuhkan jawaban. Rasanya anyel saja, dan semua itu kemudian mendorong saya mencari-cari pinjaman buku, dari teman, dari perpus milik sekolah tinggi yang ternyata tidak memuaskan.

Dari sini lah kemudian level selanjutnya dari perasaan anyel hadir. Saya sekonyong-konyong teringat buku-buku saya yang sudah saya alihtangankan ke perpus itu, yang kebetulan juga saya bekerja di sekolah tinggi itu. Perihal saya yang kemudian bekerja berdekatan dengan perpus ini, kapan-kapan lah saya curhatkan. Tapi, ingatan dan keinginan untuk menengok buku-buku itu lah yang kemudian secata instingtif saya lakukan.

Ditambah dorongan proses mempersiapkan matakuliah yang mengharuskan saya mengingat buku History of Arabs nya pak Hitti, karena memang materinya ada di sana, saya pun melangkah ke perpus itu. Sesampainya disana, tak ada tuh kesan seperti perpus FIB yang saya temukan, aisy tak penting juga membandingkan hal itu. Hal selanjutnya lah yamg saya rasa penting.

Dengan sedikit kikuk, saya menghampiri komputer yang berisi mesin pencari, semacam katalog buku. Saya ketik judulnya; ternyata nihil. Tak muncul. Penasaran, saya ganti mengetik penulisnya; jangkrek tak muncul pula.

Anyel langsung datang.

Ha buku-buki saya apa tak sampai di mari? Di perpus ini? Lalu di mana gerangan mereka? Kenapa kok saya tiba-tiba peduli?

Sebagai penawar anyel, saya coba ketik judul lain, sebuah buku antologi penyair Arab, pemberian mas Atho’, yang entah kenapa saat itu tiba-tiba njumbul sebagai alternatif judul yang saya ketik di komputer katalog.

Heh, muncul.

Saya kemudian ingat se-judul buku teori musik yang saya beli asal saja karena kebutuham teori di skripsi saya,

Heh, muncul pula.

Setelah itu, kerjaan saya adalah berdiri dan melihat layar komputer katalog. Memanggil ‘anak-anak’ saya satu persatu seingat saya akan nama mereka. Yang hasilnya tentu saja mengecewakan, hanya dua buku itu yang kemudian mau njumbul. Yang lain, entah kemana.

Maka sedari itu, saya kemudian mengatakan pada diri saya sendiri, tentang bagaimana memaknai lagi hubungan saya dan buku-buku.

Saya kemudian merasakan keinginan untuk mengoleksi memiliki buku muncul dalam diri saya. Selain untuk penawar kebutuhan bacaan, saya juga berniat menimbun mereka. Akan saya taruh mereka di rak-rak di ruang tamu rumah saya, di ruang tv, di kamar-kamar, dimana saja.

Saya acuhkan pertanyaan hati saya,

“laku macam apa itu? Kau bukan dirimy yang dulu. Kau tidak lagi substantif!”

Saya jawab sekenanya,

“Buat apa saya berikan buku-buku itu, ke tempat yang paling mudah secara kalkulasi nalar; perpus, tapi nyatanya mereka malah mendekam, mungkin, dalam bilik-bilik lembah entah milik siapa. Yang entah pula hasrat mereka untuk berbagi buku itu. Mungkin saja, dan boleh kan saya berpikir, mereka adalah para oportunis yang memanfaatkan buku gratisan untuk mereka sendiri, tidak untuk orang lain”

Sampai di sini, saat menulis ini, saya masih teringat samar-samar tentang perasaan anyel saat di Perpus itu. Yang sekarang, dengan penuh kesadaran, segera saja saya timbun sekuat tenaga dengan kehadiran buku-buku baru yang saya kumpulkan dengan berbagai cara. Beli, download, semua. Tak peduli berwujud atau serupa file saja, dan mereka akan terus menunggu giliran untuk satu-persatu saya baca. Lagi dan lagi, bisa saja satu buku berkali-kali.

‘Lah, apa tidak muspro? Lha wong sudah dibaca kok dibaca lagi?’

Satu hal penting yang saya dapatkan dari pemilik buku yang bisa membaca bukunya, memperlakukannya dengan seenak hati, adalah;

‘Setiap pembacaan adalah perjalanan sendiri, perjalanan penafsiran terpisah, yang bisa saja memberikan pengalaman berbeda, pemaknaan berbeda, walau dari sumber yang sama’

Bukankah demikian?

Entahlah!

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

4 responses to “Bibliomania Pemula”

  1. ferakusumawardani Avatar

    Dan terbukti saat kuliah S2 dan membutuhkan buku referensi, bingung.🤦 Karena semua buku S1 sudah disumbangkan.🤷 Jadi harus cari dan pinjam sana sini.

    Like

    1. linguispekok Avatar

      Hahaha, mbok ya ga usah diomongin.

      Like

  2.  Avatar
    Anonymous

    Mohon maaf,,, alangkah betapa sangat baiknya jikalau gambar sakit punggungnya sedikit dikurangi,,,
    saaangat mengurangi minat baca…..

    Like

    1. linguispekok Avatar

      Gambar mana geh? 😂

      Like

Leave a reply to Anonymous Cancel reply