Suatu ketika, saya dengan pede memposting sampul halaman buku yang baru saja saya beli di toko buku Togamas Afandi Jogja. Saya aplot ke status wa, walaupun saya baru baca sebagian isinya, tapi demi pencitraan, ya tak apa lah.

Jadi lah itu status wa dan dibaca teman saya.

“Lho, punya buku itu, Beb?”

“Iya. Baru beli kemarin waktu di Jogja. Piye?”

“Aku ngebari, ya?”

“Siap! Lha piye leh ngeterke?”

Kebetulan rumah teman saya itu beda kecamatan dan lumayan jauh dari tempat tinggal saya.

“Kirim ae. Engko aku seng nanggung ongkire”

“Siap!” Jawab saya enteng.

Lalu, saya kemudian me-meking itu buku. Saya masukkan map. Saya staples rapih. Siap kirim.

Lalu entah kenapa, atau karena kegiatan apa yang menyela saya waktu itu, hingga saya menulis ini, peking-an buku itu masih rapih di atas meja. Saya juga baru ingat kalau itu buku belum terkirim.

Lalu, selama ini saya ngapain aja? 🤣

Tapi, tentu saja kelupaan seperti ini tidak bisa dibandingkan dengan ulah sejawat saya yang lain.

Seorang teman saya itu, pernah mengalami hal yang, entahlah apa sebutan yang pas.

Jadi, di suatu siang, Blio ini masuk ke suatu kelas. Seperti hari-hari biasa, Blio langsung membuka kelas dengan salam lalu menyapa kabar sebentar. Setelah itu, kelas pun dimulai. Blio lalu menjelaskan materi dengan enjoy.

Di tengah keasyikannya menerangkan, Blio merasa gundah. ‘Kenapa kelas ini hening sekali? Tak biasanya’.

Didasari rasa ‘aneh’ itu, Blio iseng saja bertanya.

“Ini kelas X, kan?”

Serentak semua yang di ruangan menjawab,

“Bukaaaaaan”

Saat itulah Blio, teman saya itu sadar bawa dia salah masuk kelas. Tanpa banyak cing-cong, salam segera dituntaskan. Dan Blio ngacir tanpa menoleh ke belakang.

Bhaaaa

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

One response to “Pikun Dini (4)”

  1. aangafi437 Avatar
    aangafi437

    Pak kenapa nama bapak linguis pekik?????

    Like

Leave a comment