setelah selesai sebuah pertemuan di kelas, dan saya kenyang menjelaskan, sesekali bahkan saya mengelap busa yang jatuh dari mulut, saya kemudian memberikan sebuah tugas untuk kelas tersebut:
“untuk pertemuan selanjutnya, kita akan membahas tentang ———–, maka kalian semua harus membaca buku ————– dan buku ————-. cukup di bab 1 saja.”
tentu saja semua kelas mengangguk dan meng-iya-kan. dengan ritme cepat jawaban diberikan, biar cepat selesai pula kelas dibubarkan.
maka, tentu saja selama satu minggu harapan saya adalah semua peserta kelas itu kemudian membaca, lalu datang lagi di pertemuan selanjutnya dengan membawa banyak pertanyaan. tidak muluk-muluk, jenis pertanyaan yang saya harapkan bukan yang sok analitis semisal, “lho pak, si A ngomongnya begini, tapi kok si B beda ya? kenapa itu?’ atau, “apa mungkin, teori A itu terjadi karena pengaruh V, Pak?’ tentu saja saya tidak seberkhayal itu, yang saya inginkan hanya pertanyaan simple semisal, “istilah B ini apa tho, Pak? saya kok baru dengar.”
akhirnya, seminggu sudah terlampaui. harapan bisa punya teman ngobrol dan diskusi tipis-tipis di kelas masih tersimpan hingga kelas dimulai. setelah salam dan sedikit bertanya ra mutu tentang keadaan sekitar, pertanyaan pembuka untuk kelas itu segera saya lemparkan.
mulanya saya hendak bertanya begini,: “bagaimana pendapat kalian tentang ini?”
tapi, entah kenapa tiba-tiba mulut bego saya malah memproduksi pertanyaan wagu yang kelihatannya sudah jadi template ice breaking di kelas, : “siapa yang sudah baca buku —————? coba angkat tangan.”
hal pekok dari pertanyaan ini adalah, selain karena ke-spontanan-nya, saya sebagai penanya tidak mempersiapkan respon yang memadai untuk jawaban yang ternyata tidak pernah saya duga.
hanya dua, dari tiga puluh an mahasiswa peserta kelas yang mengangkat tangan. seingat saya segitu. maka, tentu saja menguap sudah harapan-harapan mendapatkan teman diskusi tipis-tipis yang saya pelihara selama seminggu sebelumnya. hahaha.
maka, kelas hari itu menjadi sebuah kelas searah yang membuat busa dari mulut saya tumpah ruah. saya kemudian bercerita tentang nabi-nabi materi yang harusnya cukup mereka baca.
model ceramah searah seperti ini sebenarnya sudah coba saya hilangkan dari kelas. bukan hanya karena tidak efektif, juga karena saya tidak punya hati yang jembar dan sabar jika saat saya menerangkan ternyata mereka mengacuhkan saya, melah mengerjakan tugas kelas lain, atau bahkan malah menonton film korea.
‘what? nonton film korea?”
iya! kalau Anda merasa gumun ada yang menonton film korea saat kelas berlangsung, maka saya pastikan itu benar adanya. setidaknya sudah dua kali saya menemui hal itu. bhaaa. jadi itu bukan isapan jempol kaki sahaja. realita.
tapi, berlama-lama dengan kekecewaan juga tidak OK kan? maka saya lalu mengingat-ingat saja jenis mahasiswa lain, yang hebat-hebat, yang tingkat literasinya OK. yang di semester pertama saja sudah harus bikin review buku Benedict Anderson “Imagine Communities”, reviewnya dalam bentuk boso enggres pula. yang tulisannya juga bagus-bagus juga, pokoknya toooop lah.
selain mengingat-ingat sosok keren mahasiswa seperti itu, yang bisa saya lakukan selain jengkel adalah melakukan refleksi ke dalam diri. mencoba melihat celah-celah kesalahan yang mungkin ada dalam diri saya sendiri sebagai pengajar mahasiswa-mahasiswa itu.
“mungkin saya yang kurang jelas memberikan instruksi”
“mungkin saya yang tidak memiliki metode dan teknik pembelajaran yang juooos, hingga membuat mahasiswa-mahasiswa itu tidak mau membaca sama sekali”
atau mungkin,
“memang kamu saja yang pekok. pengajar tapi pekok! pokoknya pekok”
sigh.
setelah menghayalkan tipe mahasiswa ideal, melihat ke dalam diri, maka hal terakhir yang perlu saya lakukan adalah memberikan kepercayaan kepada mahasiswa-mahasiswa itu. bukankah mereka juga berhak diberi kesempatan? mungkin sekarang mereka tidak mau belajar, membaca, diskusi, tapi siapa tahu di kemudian hari, di pertemuan selanjutnya, mereka lalu menjelma seorang pecinta buku, yang bernas memaparkan ide, pertanyaan-pertanyaan analitis, dan gambaran-gambaran dari materi yang sedang dibahas. mungkin banget kan?
maka, dengan optimis pula saya melakukannya.
“ok. untuk pertemuan selanjutnya, tema kita adalah C. biar beban bacaan tidak terlalu berat kita bagi menjadi kelompok saja. setiap kelompok membaca bagiannya masing-masing. kalau tidak bisa mendapatkan buku, cari di gugel saja. oh iya, wikipedia boleh wes. gak apa-apa.”
saya pungkasi pertemuan yang melelahkan itu dengan harapan, kepercayaan dan tentu saja gambaran diskusi tipis-tipis yang bergizi.
seminggu kemudian, sesaat sebelum kelas dimulai, saya bertemu beberapa mahasiswa yang ikut kelas saya. spontan saya bertanya:
“kamu kelompok berapa?”
“errr” jawab dia
“lho, kamu dapat bagian baca apa?” tanya saya lagi.
“apa ya, Pak?”
“askldjfkasdjfjasdofhaseomfkc oashfeiwoj” batin saya.
sejak saat itu, saya kemudian ambil kunci motor. saya pulang, sarapan. makan dengan lahap. sampai kenyang. kalau tidak dapat kenyang dari diskusi yang bergizi, minimal bisa kenyang dari sarapan. janganlah sampai kita jengkel, lapar pula. bisa kiamat ini dunia.
Leave a reply to brammshoo Cancel reply