Setidaknya, dua kali sudah saya ikut seremonial upacara di lingkungan PonPes Darussalam. Pertama, saat hari kemerdekaan 17 Agustus kemarin dan kedua, ya sekarang ini, tanggal 22 Oktober; upacara peringatan Hari Santri Nasional. Dan keduanya, saya begitu tertolong oleh HP saya.

Banyak orang yang bilang bahwa, semboyan Nokia yang ‘connecting people’ itu sudah gak pas dengan peran HP saat ini. Banyak orang yang bilang, HP, alih-alih menjadi alat penghubung, malah menjadi alat pemisah. Semacam barier interpersonal. Makanya, jangan heran kalau banyak orang mengkritik orang-orang yang masih terpaku dengan HP mereka saat berkumpul bersama teman, makan malam keluarga, atau saat mengikuti acara tertentu.

Tapi, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang itu adalah; HP telah memberikan sebuah alternatif pelarian di suasana canggung, wagu, gadok atau apapun istilahnya yang seringkali terjadi.

Di upacara pertama yang saya ikuti, karena saya datang awal dan hanya terlihat beberapa peserta dari pihak guru dan karyawan yayasan, saya langsung duduk saja. Sendirian di baris paling belakang, sambil menyaksikan peserta upacara dari para siswa mulai berdatangan.

Pada saat itu lah, di tengah persiapan pelaksanaan upacara, panitia hilir mudik berlarian, saya ngowoh saja. Tida tahu mau ngapain. Saat itu lah, kemudian HP menjadi penyelamat saya. Saya buka aplikasi wordpress, menulis, hingga akhirnya samping kanan kiri saya penuh dengan peserta lain.

Di upacara kedua ini, sedikit banyak seperti itu.

Sepertinya, hal beginian tidak hanya berlaku pada diri saya. Di suatu rapat, seringkali saya mengamati beberapa teman yang ternyata juga melakukan hal ini; mereka juga sibuk dengan hp, saat menunggu dimulainya rapat.

Tidak semua orang bisa mengumbar basa-basi dengan intensitas waktu yang lama. Dalam suasana rapat misalnya, mungkin kita bisa menunggu dimulainya rapat sambil basa-basi dengan teman. Tema bisa berganti-ganti sesuai dengan kejadian yng sedang in, tapi tentu saja hal itu tida mungkin berlangsung selamanya. Kerapkali kita bosan, atau malas berpura-pura tertarik mendengar cerita teman.

Kalau sudah malas dan bosan ber-basa-basi seperti itu, lalu bagaimana?

Maka, dari dua pengalaman mengikuti upacara ini, saya setidaknya punya pandangan baru (sok bgt!) tentang hubungan hp dan pemiliknya. Kita tidak tahu alasan sebenarnya seseorang saat dia sibuk ng-gajet. Mungkin saja dia bosan dan malas plus ogah-ogahan ngomong gak mutu, basa-basi. Atau mungkin dia sebenarnya sedang melakukan pekerjaannya yang semuanya dilakukan lewat hp, atau mungkin juga dia sedang membaca buku, pdf, yang harus dia selesaikan saat itu karena harus bimbingan tesis, disertasi, atau sebagai material ajar di esok harinya.

Kita tidak pernah tahu semua itu. Maka yang teringat kemudian adalah khutbah singkat Mbah Yai Zainal Abidin Krapyak di sebuah Sholat Jumat yang saya ikuti enam atau tujuh tahun lau:

Sampean kabeh kudu iso khusnuddon

Hehe.

linguispekok Avatar

Published by

Categories:

One response to “I Love You HP-ku, I Do!”

Leave a reply to aangafi437 Cancel reply